Dear Diary 1

 


Dear Diary; Sales Kecil

Hari ini Rabu, 5 Juni 2023

Aku menghentikan sepedaku di depan rumah Pak Rw seperti biasanya. Tentu saja, setelahnya aku akan membiarkan sepedaku di sana sampai acara belanja pagiku selesai.

Baru saja aku sampai, sebuah teriakan membuatku menoleh. ‘’Ibu, Ibu mau beli di sini, kan?’’ teriak suara itu.

Aku menoleh. Iya, benar, itu suara anak kecil, dia berteriak sambil duduk, lalu bangun dengan mata berbinar. Tingginya hanya beberapa senti lebih  dari tinggi meja nasi uduk

  



Aku sudah terbiasa dengan penjual nasi uduk yang biasa berjualan di situ, hanya belum tergerak untuk membelinya. Biasanya yang menjaga dan berdagang di sana adalah seorang ibu-ibu.

Aku langsung menyahut, ‘’Iya, tapi nanti dulu, ya!’’ jawabku riang.

Tuhan, siapa yang bisa menolak anak sekecil itu. Anak laki-laki kecil yang lucu dan pintar mengingatkanku kepada masa kecil anak sulungku yang sudah berpulang, terutama cara duduknya yang memeluk lutut.



Aku harus membelinya, aku akan merasa menyesal melewatkan senyum anak sekecil itu. Aku memang suka anak kecil, karena di mataku mereka itu lucu, apa adanya, polos dan bersih, mereka hanya hidup dengan kejujuran.

Niat hati seperti yang kubilang kalau aku akan membelinya nanti ternyata gagal. Aku melangkah mendekat ke depan meja jualan nasi uduk.

‘’Kalau jualan uangnya nanti banyak!’’ teriak anak kecil itu riang.



‘’Apa Ibu harus membayar semuanya sama kamu? Maksudnya kamu yang menerima uangnya?’’ tanyaku menanggapi.

‘’Enggak. Bayar sama dia!’’ teriaknya sambil menunjuk ke seseorang yang menunggu meja jualan nasi uduk.

Pagi ini yang menjaga meja jualan bukan ibu-ibu seperti biasanya. Dia seorang gadis cantik, kutaksir umurnya seumuran anak bungsuku.

‘’Apa dia adikmu?’’ tanyaku kepada gadis cantik yang tersenyum itu.

‘’Bukan. Dia keponakan saya.’’



Aku mengangguk, anak kecil itu masih berbicara dengan riangnya. Aku kurang paham apa yang dia bicarakan, karena aku fokus melihat dagangan. Kurasa dia sedang berusaha mempromosikan dagangan bibi cantiknya, yang mungkin saja anak ibu-ibu yang biasa menunggui meja dagangan ini di pagi sebelumnya.

Aku tidak menanyakan ke mana ibu-ibu yang biasa berdagang. Aku langsung melihat semua yang dijual di meja. Aku sudah memasak nasi dan lauknya sebelum pergi ke pasar. Aku memang hanya berniat membeli cabai saja tadinya.



Pisang, ya, aku tertarik dengan pisang goreng. Akhirnya aku membeli enam buah. Setelahnya aku melihat ke anak laki-laki kecil yang tadi promosi. Aku tersenyum kepadanya. Dia masih terlihat senang, meski sudah berhenti berbicara.

Setelahnya aku pergi ke pasar dan pulang. Aku pulang dan sampai di rumah akhirnya. Aku bercerita kepada anakku betapa anak kecil itu menggemaskan. 

Anakku tertawa, ‘’Mama mana bisa melepaskan pesona anak kecil. Pasti beli. Beli apa, Ma?’’

“Tuh, pisang goreng!’’



Komentar