Tukang Es Krim Depan Rumah
Jakardah,
110624
BLOG NURLAELI
UMAR- Dear Diary,
Seperti biasa
aku suka sekali duduk di bangku kecil, menghadap ke arah luar. Begitu pintu
dibuka memang langsung jalanan gang. Hanya saja jalanan gang di depan pintuku
lebih lebar dari pada jalanan gang ke arah masuk selanjutnya.
Seperti biasa
yang ke dua, aku duduk sambil menunggu masakanku jadi, sambil pegang laptop dan
ditemani si bungsu yang masih libur menunggu jadwal masuk kuliahnya.
Dear Diary,
Eh, iya, dia
yang nganggur hampir tiga bulan sampai nanti dia masuk kuliah, sudah mencoba
melamar kerja. Dia pikir akan dapat pekerjaan sebagai guru gambar, gak tahunya
dia diterima dan mesti ada ikatan kerja selama tiga tahun. Akhirnya tak
diambil, meski pihak lesan gambar kecewa.
Aku mendengarkan
musik zaman silam, yang pasti bukan zamn Dinosaurus tentu saja. Sedikit berbau
masa muda, di mana depan rumah dulu banyak anak tongkrongan. Selera mereka yang
membuat selera musikku berbeda dengan mereka.
Dear Diary,
Tiba-tiba
terdengar bunyi khas di mana tukang es krim akan lewat depan rumah. Kau tahu,
anakku diam-diam komat-kamit sambil tersenyum kepadaku.
‘’Apa?’’
tanyaku sambil tertawa melihat tingkahnya.
Yaaaa, keburu
tukang es krim berhenti di depan pintu pas.
Anakku
tertawa. ‘’Aku kurang cepat berdoanya. Karena, pasti Mama akan membeli dagangan
siapa pun yang berhenti di depan pintu. Dan, benar saja, dia berhenti.’’
Dia tertawa
lagi dan lagi, dia tahu nasibnya adalah harus memakan es krim yang kubeli.
‘’Gak bisa
nolak aku tuh, karena pasti Mama beli dan aku mesti makan.’’
Dear Diary,
Ya, Tuhan,
aku gak bisa buat gak beli siapa pun yang berhenti di depan pintu menjual
sesuatu. Untuk itulah, terkadang anakku menutup pintu dan mengajakku masuk ke dalam,
bukan saja karena aku pasti bakalan beli, tapi dia terkadang kurang suka atau
sudah kenyang.
‘’Ayolah,
porsinya ini mini. Jauh lebih mahal dari es krim yang di warung. Kasihan
Bapaknya, sesekali kita mesti beli, terlanjur berhenti.’’
‘’Baiklah.’’
Dan, dia
anakku sangat kaget dengan mini porsi yang didapat. Aku mengagguk. ‘’Pemilik es
krimnya atau bosnya memberikan harga tinggi, jadi mau gak mau dia mesti menjual
lebih mahal.’’
Dear Diary,
Selepas itu
banyak orang yang membeli es krim itu. Anakku tertawa. ‘’Sudah kuduga akan
banyak yang membeli, karena Mama yang membeli. Orang-orang memang begitu, apa
yang Mama pegang menarik buat mereka untuk memilikinya juga. Asal jangan tiap
hari lewat dan berhenti di depan pintu kita saja. Aku kurang suka dengan varian
rasanya. Sesekali gak papa.’’
Hari
berikutnya di jam yang sama tukang es krim itu sudah akan berhenti di depan pintu
kembali. Anakku komat-kamit lagi. Tapi, kali ini anakku menarik napas lega, ‘’Akhirnya
agak jauhan berhentinya.’’
Aku ingin sekali
menggodanya, Kukatakan apa aku mesti membeli untuk kali ini? Dia menjawab tak
usah dengan alasan penjualnya berhentinya tidak tepat di depan pintu.
Komentar
Posting Komentar