Puisi 15. Di Sela Kau Menggigit Sarapanmu Pagi Ini

 

Di Sela Kau Menggigit Sarapanmu Pagi Ini

Jakarta, 70624

 


BLOG NURLAELI UMAR- Kita bicara tentang hal-hal yang bagi orang lain serius.

Tentang di mana hatimu akan kau labuhkan kelak.

Laut begitu luas, pantai begitu banyak.

Perahumu  bisa memilih sesuka hati, terserah arah angin.

 


Telan dulu dan biarkan aku bicara.

Kalau kau tak setuju, teguk air putih di gelasmu, lalu bicaralah.

Aku tak mengkhawatirkanmu, selain tentang pantaimu.

Karena, perahumu terlalu terlatih digerus air garam, ditimpa topan.

 


Kelak, kau mesti berlabuh.

TIdak selalu denganku, meski kau masih bisa datang menemuiku yang laut.

Aku hanya ingin pastikan pantaimu tak berkarang banyak, takut perahumu kandas.

Aku juga tak ingin pantaimu tak berpasir, hingga kau menjadi begitu sedih tak bisa bermain.

 


Menepilah, dan berlabuhlah.

Katakan pada pantaimu, semuanya, jangan ada yang disembunyikan, ibumu adalah laut.

Dia harus berani menerima asin garamnya, tidak hanya tahu ikannya.

Dan, menerima amuk ombak dan anginnya, tanpa banyak mengutuk.




Komentar