Sebelum
Cinta Menjadi Pahit
BLOG NURLAELI UMAR- Apakah
kau masih ingat debar jantung,
saat
mata kita beradu, dan tangan kita bersamaan memungut buku.
Buku
diary-ku di mana air mataku terisap olehnya,
dalam
lembaran merah muda yang kulihat seperti kuning daun gugur.
Kau memberiku
seulas senyum,
entah
untuk arti maaf atau saat itu hatimu telah tertusuk rasa padaku.
Setelahnya
aku lebih suka mengamati bagaimana kau tertawa dan bicara.
Bagaimana
kau membuatku melupa aku pernah menumpahkan air mata.
Hari ini
entah hari ke berapa dalam langkah kita.
Aku lupa
menuliskannya kapan tepatnya aku dan kamu menjadi kita.
Tapi,
sebelum cinta menjadi pahit,
katakan
padaku satu kali saja, kita tetap menjadi kita entah itu kemarau atau
penghujan.
Karena
meski cinta tak perlu diucapkan,
sedikit rayuan tidak akan membuat kita mati keracunan.

Komentar
Posting Komentar