Puisi 24. Sebelum Cinta Menjadi Pahit

 


Sebelum Cinta Menjadi Pahit

 Jakardah, 240624

BLOG NURLAELI UMAR- Apakah kau masih ingat debar jantung,

saat mata kita beradu, dan tangan kita bersamaan memungut buku.

Buku diary-ku di mana air mataku terisap olehnya,

dalam lembaran merah muda yang kulihat seperti kuning daun gugur.

 


Kau memberiku seulas senyum,

entah untuk arti maaf atau saat itu hatimu telah tertusuk rasa padaku.

Setelahnya aku lebih suka mengamati bagaimana kau tertawa dan bicara.

Bagaimana kau membuatku melupa aku pernah menumpahkan air mata.

 


Hari ini entah hari ke berapa dalam langkah kita.

Aku lupa menuliskannya kapan tepatnya aku dan kamu menjadi kita.

Tapi, sebelum cinta menjadi pahit,

katakan padaku satu kali saja, kita tetap menjadi kita entah itu kemarau atau penghujan.

Karena meski cinta tak perlu diucapkan,

 sedikit rayuan tidak akan membuat kita mati keracunan.



 

 

Komentar