Bab 15. Monster Pembunuh

 


Sedikit Kejutan di Pagi Hari

BLOG NURLAELI UMAR- Sebuah pesan masuk semalam dan J tidak membalas apa-apa, kecuali sebah kata; oke, saja. Seseorang mengirimkan pesan, dia sedang ingin melenyapkan seseorang. J tidak sedang di room apartemennya, sedangkan kepala M tidak mungkin dia letakkan dengan bantalnya di sofa begitu saja. Dia malam tadi tidak tega meninggalkan M sendirian.

J tahu benar bagaimana paniknya M kemarin sore mendapati R datang dengan kegaduhannya. Sebuah buket bunga dan papan bunga bertuliskan ucapan B’day. Andai itu dari salah satu tiga sahabatnya yang dokter, ahli gizi, atau pengacara itu, pasti pesan yang dikirim akan berbeda. Mungkin M akan menelponnya dan menceritakan hal itu dengan mengatakan itu kekonyolan sahabatnya.


Pagi ini Am baru saja menelpon. Dia menanyakan keberadaan M kekasihnya. J berpikir sepertinya M dan Am harus bertemu untuk bicara berdua saja, oleh karena itu dia mengundang Am untuk menemui M kekasihnya itu, sementara dia akan pergi setelah minum kopi bikinan M.

‘’Dia kenapa, J?’’

‘’Dia bilang seseorang minta akses masuk ke room di apartemennya. Apakah Am baru membeli sebuah room di apartemen?’’


M langsung teringat sesuatu. Dia menyodorkan kopi bikinannya, lalu duduk berhadapan dengan J. ‘’Iya, dua minggu yang lalu dia mengatakan sudah membeli cash sebuah room di apartemen mewah. Dia bilang harganya sepuluh kali lipat dari milik R.’’

M menyebutkan nama  apartemen mewah itu dan J mengangguk-angguk.

“Baiklah. Bikinkan aku makanan, aku akan memakannya, setelah itu aku akan mandi. Aku mengundang dia agar bertemu denganmu. Apa itu bagus untukmu?’’


M bangun dan mendekat kea rah J. Dia kemudian duduk di sampaing J dan memeluknay erat. ‘’J, jangan pernah ada perempuan lain, bisakah? Kau terlau berharga untukku. Aku tidakingin bersaing dan berebut dirimu dengan yang lain.’’

J tertawa, dia memeluk M dengan erat. ‘’Aku tidak akan menciummu sebagia hadiah, kau tahu kenapa? Aku lapar sekarang!’’

‘’Ah, J, kau menggangguku. Iya, rasa laparmu sepertinya tidak rela aku memelukmu lama. Baiklah, aku akan membuatkanmu, tunggu sebentar!’’


M bangun dari duduknya, tapi J meraih tangan M sampai gadis it terjatuh ke dalam pelukannya. J menghujaninya dengan banyak ciuman.

‘’J, ayolah, jangan terlalu banyak, wajahku bau kopi semua!’’

M mengatakan itu samba pura-pura melepaskan diri dari J. J kembali menghujani M dengan banyak ciuman, dan akhirnya membiarkan M kembali sibuk dengan wajan anti lengket di atas kompor..


J sibuk dengan hapenya, dia sedang mengirim sebuah pesan. Tidak lama kemudian empat roti panggang isi telur dan cokelat keju tersedia di atas meja. Dua roti isi telur mata sapi setengah matang untuk J,sementara yang sisi keju cokelat untuk M.

Setelah bicara dan menghabiskan sarapannya J masuk ke kamarnya, kemudian keluar dengan bau tubuh yang harum dan rapi. Dia menghampiri M yang tengah menghabiskan sarapannya, sambil melihat televisi.

‘’J, kamu selalu wangi, aku suka.’’


M tampak senang dengan J yang selalu wangi, seperti saat sekarang ini. J memakai perfume yang berbeda untuk kesempatan yang berbeda. Hampir semua wangi parfum J, M hafal. Meski parfum milik J juga banyak dipakai pria kalangan atas lain, tetapi jika J yang memakai M bisa membedakannya.

‘’Hmm.’’

J mengangguk senang, dan M menyukai ekspresi J yang seperti itu. Dia tampak cool dengan caranya dan tampan setiap harinya di mata M. Bahkan, ketika tidur pun J memakai parfum, dan itu sangat menyenangkan membuat M merasa aman dan nyaman ketika dia meletakkan kepalanya dan bantal di samping J, seperti semalam.


‘’J ada berita buruk pagi ini.’’

M mengatakan itu dan J tampak sangat tertarik. Dia bertanya dengan ekspresi matanya yang dilebarkan. ‘’Berita apa?’’

‘’LIhat itu!’’ M menunjuk layar televisi.

J melihat kearah televisi. Tampak ada sedikit kericuhan, sebuah mobil dan beberapa orang tampak di sana.

‘’Bukankah itu apartemen Am yang baru dibeli?’’ tanya J sambil memastikan gambar di layar televisi.


‘’Iya, benar. Kejadiannya di tempat parkir di depan apartemen yang M baru beli. Sepertinya mobil itu mirip milik R, bukan? Lihat nomor polisisnya! Reporter barusan menyebutkan nomor polisi mobi itu.’’

“Benar.’’

‘’Mobil itu ditembaki oleh orang tidaj dikenal, polisi dan petugas keamanan sudah menyusur lokasi dan sekitarnya, tetapi pelaku tidak tertangkap, dan tidak ada sesuatu yang mencurigakan.’’

“Apa R sendiri yang menembaki mobilnya, karena dia merasa malu dengan ulahnya kemarin sore? Bisa saja, bukan?’’


‘’Tidak, J.’’

‘’TIdak bagaimana?’’

‘’R ada di depan room milik Am, ketika kejadian terjadi. Dia belum sempat masuk ke room Am, tembakan beruntun itu terjadi. Lalu, semua menjadi ramai.’’

J mengangguk-angguk. ‘’Untuk R tidak sedang dalam mobil. Kalau tidak dia pasti terbunuh.’’

‘’Tidak, J. Manusia seperti R itu tidak akan cepat mati. Karena, kalau mati dunia sepi.’’

‘’Aku akan menelpon R kalau begitu,’’ kata J sambil melihat ke layar handphonenya.


‘’Jangan!’’ Tiba-tiba M mengatakan itu. J menoleh ke arah M.

‘’Kenapa?’’

‘’Biarkan saja, di saat seperti ini, polisi juga akan melacak nomor panggilan yang masuk. Bisa saja lima menit atau satu jam sebelum kejadian ada telepon atau pesan ancaman. Aku tahu dia itu kawanmu J, tapi untuk kali ini kumohon kau tidak melibatkan diri ada di pusaran masalah R.’’

M dan J kembali menatap layar televisi. J akhirnya duduk di sebelah M. Mereka berdua mendengarkan dengan seksama semua yang reporter itu katakan.


Reporter itu mengatakan polisi menemukan banyak proyektil dengan dua jenis yang berbeda. Bisa jadi penembak itu dua orang atau lebih, tetapi tidak mustahil dilakukan oleh satu orang dengan memakai dua tangannya.

Penembak itu sepertinya penembak jitu bayaran, karena polisi tidak menemukan jejak yang mengarah kepada sesuatu, atau tidak ada yang bisa dijadikan tersangka. Orang-orang yang berada di dekat situ tidak mendengar apa-apa selain bunyi tembakan beruntun. Semua kaca di mobil itu pecah. Dan, perkiraan pelaku melakukan tembakan dengan jarak tembak dekat, melihat pola dan akibat yang ditimbukan di kaca.


Sementara pemilik mobil yang masuk dan sedang ingin bertemu seseorang yang tidak disebutkan namnya tampak pucat. J dan M melihat ke layar televisi, kemudian mereka saling melihat satu sama lain. ‘’Itu benar R, kan?’’ tanya M, dan J mengangguk.

‘’Aku akan ke kantor sekarang, pasti di kantor akan ramai. Aku akan menghubungi yang lain untuk mengambil langkah yang perlu. Kau tidak ingin aku mendekat sendirian, bukan? Baiklah. Kau juga jangan menelpon Am, kecuali dia menelponmu. Oke?’’


M menagngguk pasti. Dia akan patuh denga apa yang J peritahkan. J kemudian keluar rumah diantar M, dan M masuk ke dalam rumahnya setelah mengunci gerbang kembali.

M menelpon seseorang. ‘’Halo!’’ Seseorang di sana sepertinya dengan cepat mengangkat panggilan dan menjawab sapaan M.

‘’Uang sudah kutransfer sesuai perjanjian. Aku sedikit memeberi lebihan. Jangan mendekat, dan pastikan pantau keadaan, jangan sampai ada jejak yang tertinggal.’’

Seseorang di seberang sana berbicara seakan meyakinkan M. M mengangguk dan merasa lega. Setelahnya dia kembali denagn sarapan dan menghabiskannya. Dia masuk ke kamar J memantau keadaan rumah sebelah, dia tidak ingin ada karyawannya yang sakit atau terkena masalah dan dia tidak mengetahuinya.



 

 

 

 

Komentar