Bab 16. Monster Pembunuh

 


Siapa Perempuan Itu

BLOG NURLAELI UMAR_ Mobil J sudah masuk ke area parkir gedung di mana kantornya bekerja berada. Dia sudah bertekad akan pura-pura tidak terjadi sesuatu andai R bertemu dengannya. Posisinya yang karyawan di perusahaan itu sebenarnya hanya formalitas saja, dia dan R sama-sama pemilik saham dengan jumlah yang sama.

Semua hanya karena J terlalu banyak bisnis pribadinya. Dia hanya butuh ruang di mana namanya tidak tercantum sebagai direktur saja. Semua yang berhubungan dengan perusahaan tempatnya berkantor itu ada di bawah kekuasaan dia dan R.

J paham benar bagaimana tingkat kebangsatan R, tapi sungguh sampai R kehlangan akal sehatnya mengirim buket bunga apalagi dengan tanggal yang salah itu sangat membuatnya prihatin. Tidak, J tidak sampai membenci. Kalau sampai hal membahayakan terjadi kepada M, dia tentu tidak akan tinggal diam. Bahkan, meski itu dilakukan oleh R, sahabatnya sendiri.

Ada batasan tertentu yang tidak boleh dilanggar meski itu teman dekat sekalipun. Hal-hal yang menyangkut nama baik, pekerjaan, dan orang terkasihnya. Untuk tiga hal itu J sangat tidak suka orang lain ikut campur, apalagi sampai mengambil alih.

Pintu lift terbuka, J masuk dan akhirnya sampai di lantai tempat kantornya berada. Begitu masuk banyak karyawan yang menunggunya di dalam. ‘’J bagaimana Ini?’’

‘’Kalian tetap bekerja seperti biasa. R bos kalian baik-baik saja. Biar aku yang akan menyelesaikan pekerjaan bos hari ini. Kalian bekerja seperti biasa. Kalau ada wartawan datang, tolak saja. Semua yang tidak ada hubungan dengan kantor kita, tolak saja.’’

J masuk ke ruang kerjanya. Baru saja duduk telepon kantor berdering berkali-kali seolah minta tolong. R sudah ada di seberang telepon dan J mengangkatnya.

‘’Halo, J!’’

‘’Halo, R! Kamu di mana?’’

“’J aku minta maaf atas kekonyolanku. Tapi, aku sungguh tidak mengerti kenapa kaca mobilku pecah semua, padahal aku hanya melakukan sedikit kekonyolan dan Am bersikap dingin setelah membuka pintunya.’’

‘’Urusan kemarin sore itu kita bahas kapan saja, kamu di mana sekarang?’’

‘’Aku ada di ruangan security apartemen Am.’’

‘’Apa yang bisa kulakukan untukmu?’’

‘’Tidak ada. Tapi, sungguh aku takut. Kau tahu semenjak L mati hidupku kacau. Kematian demi kematian ada di depan mataku.’’

‘’Tapi, ulahmu tetap sama, dan sikapmu gak berubah.’’

R terdiam.

‘’Baiklah aku akan ke sana sekarang. Pastikan kamu tidak bergerak ke mana pun. Aku malah takut bukan cuma mobilmu saja, tapi nyawamu juga jadi incaran mereka.’’

‘’Iya, cepatlah kemari!’’

Begitu J keluar dari ruang kerjanya, Ol sudah ada di depan menunggu J. ‘’Kamu akan pergi menemui J?’’ tanya Ol khawatir.

‘’Sebaiknya kamu tetap bekerja, ada Am di sana. Bosmu sedang ada bersama tunangannya. Kalau kau ikut aku ragu, apakah R akan selamat atau tidak, karena ketika R disuruh pergi karena melihatmu datang, bisa jadi dia yang akan jadi sasaran empuk pelurunya. Termasuk kamu juga.’’

‘’Tapi, aku khawatir.’’

‘’Jangan mengundang masalah baru sementara masalah yang satu ini juga belum ada titik terangnya. Pelakunya entah siapa dan apa motifnya. Paham?’’

J sedikit menekan dengan nada suaranya, semua agar kekacauan yang terjadi tidak bertambah dengan kekacauan baru karena kedatangan Ol di sana. Ol tidak menjawab apa pun, tapi dia mengangguk. J berlalu dan keluar dari kantornya, sementara Ol kembali ke ruangannya.

J turun dan keluar dari parkiran dengan mobilnya. Dia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang saja. Sebuah panggilan masuk ke handphone milik J. Dia menerima panggilan itu.

Penelpon itu mengatakan sandi. J menjawabnya. ‘’Iya, ada apa?’’

‘’Saya mengambil pekerjaan di luar job yang Anda setujui, maksudnya job itu datang dan saya sudah melaporkannya kepada Anda, tapi karena Anda tidak menanggapi, sementara waktunya mendesak, dan  resikonyna ringan, maka saya baru mengatakannya kepada Anda. Mohon ini tidak menjadi masalah.’’

‘’Baiklah, katakan apa pekerjaan itu?’’

‘’Mobil yang pagi ini ditembaki sampai kacanya kancur semua.’’

‘’Oh, astaga!’’

Hening sebentar. J menggeleng-gelengkan kepalanya. Ini benar-benar di luar nalarnya, bagaimana mungkin bawahannya menembaki mobil sahabatnya. Tetapi, dengan cepat J mengambil sikap, setelah menimbang kesalahan itu tidak begitu besar, dan resiko untuk orang di bawah agensinya tidak besar.

‘’Berikan padaku nomor pemesan itu.’’

‘’Dia perempuan, saya akan kirim nomor pemesannya. Tapi, saya kira itu nomor sekali pakai.’’

‘’Tidak masalah kirim saja. Aku akan mengeceknya nanti. Pastikan tidak ada jejak mengarah kepadamu, polisi sedang memburu pelakunya.’’

‘’Baik, Bos.’’

“’Berapa uang yang kamu dapat?’’

Bawahan J menyebutkan jumlah uang yang dia dapatkan.

‘’Apa dia menginginkan lebih, maksudku nyawa pemilik mobil itu?’’

‘’Tidak, Bos. Dia hanya ingin saya memecahkan kacanya dan menembak ban mobinya saja.’’

‘’Baiklah. Laporan diterima, simpan uangnya untukmu saja. Semuanya. Jangan mendekat ke tempat kejadian. Ingat itu!’’

Bawahan J langsung menurut ketika diperintahkan untuk mengakhiri panggilan. Tetapi, sebelumnya dia mengirimkan nomor telepon pemesan kekacauan.

J tertawa, besar juga uang pembayarn yang didapat bawahannya. Dia tertawa lagi mendengar yang memesan adalah perempuan. Apakah itu Olive? Meski yang berpeluang besar melakuakn itu adalah Am, tapi J tidak percaya sepenuhnya Am bisa melakukan hal itu kepada tunangannya.

J sudah sampai ke depan apartemen di mana Am dan R ada di ruang security. J menunjukkan kartu tempat dia bekerja, dia mengatakan kalau dia adalah orang dari kantor R. Karena keadaan sedang tidak baik-baik saja, akhirnya J sedikit harus menunggu. Petugas menelpon memastikan kalau J adalah  bawahan R, R sepertinya membenarkan dan akhirnya mobil J bisa masuk ke parkiran.

J segera turun dan berjalan menuju tempat di mana R berada. Begitu sampai R langsung bangun dan memeluknya. J tahu, R pasti sangat ketakutan. Bukan takut mobilnya hancur, tetapi dia merasa dalam keadaan terancam karena kejadian itu.

Setelah bicara dengan pihak keamanan kalau semua akan diurus oleh pihak pengacara kantor, akhirnya polisi dan security melepaskan R untuk pulang bersama J.

Am yang mengikuti R sampai ke mobil J tidak banyak bicara, dia hanya mengatakan agar R diantarkan ke apartemen yang satu gedung dengan kantornya. R memeluk Am, sepertinya dia sedikit menangis.

‘’Aku akan menemui M setelah semuanya baik-baik saja.’’ Am mengatakan itu kepada J sebelum J masuk ke dalam mobilnya.

J akhirnya pergi bersama R meninggalakan area apartemen di mana Am tinggal. Mereka berdua menuju ke apartemen di mana R tinggal dan kantor tempat bekerja mereka berdua ada di sana.

Sepanjang jalan R hanya terdiam. J bisa maklum, dan dia tidak mencoba untuk bertanya apa-apa sama sekali. Sementara J masih sibuk dengan pertanyaan siapa kira-kira pemesan kekacauan itu.

Mereka berdua sampai dan akhirnya naik ke apartemen R, J menemaninya sampai masuk.

‘’Bekerja dari sini saja apakah bisa?’’ punta R kepada J.

‘’Aku bisa melakukan itu, tapi melihatmu sekarang aku malah ingin memukul kepalamu karena ulahmu kemarin sore.’’

‘’Please, maafkan aku! Aku tahu aku salah, tapi ,,,,’’

‘’Masih ada tapinya?’’

‘’Kekasihmu itu terlalu sempurna. Siapa yang tidak tertarik dengan kekasihmu? Apakah aku salah? Aku tidak pernah melecehkan dia sama sekali. Aku hanya mengirimkan bunga karena aku begitu menganguminya.’’

‘’Aku akan menyuruh pekerja lain ke sini menemanimu, dan kau bisa tidur dengan nyenyak, Aku akan turun dan menemui klien kita. Kau tahu semua tidak bisa dibatalkan hanya karena kejadian mobilmu yang hancur. Aku akan mengatakan kalau kau sakit dan syok.’’

‘’Tapi, aku memang syok betulan, J!’’

‘’Ýa.’’

 

 

 

 

 

Komentar