Siapa Perempuan Itu
BLOG NURLAELI UMAR_ Mobil J sudah masuk ke area parkir gedung di mana
kantornya bekerja berada. Dia sudah bertekad akan pura-pura tidak terjadi
sesuatu andai R bertemu dengannya. Posisinya yang karyawan di perusahaan itu
sebenarnya hanya formalitas saja, dia dan R sama-sama pemilik saham dengan
jumlah yang sama.
Semua hanya karena J terlalu banyak bisnis pribadinya.
Dia hanya butuh ruang di mana namanya tidak tercantum sebagai direktur saja.
Semua yang berhubungan dengan perusahaan tempatnya berkantor itu ada di bawah
kekuasaan dia dan R.
J paham benar bagaimana tingkat kebangsatan R, tapi
sungguh sampai R kehlangan akal sehatnya mengirim buket bunga apalagi dengan
tanggal yang salah itu sangat membuatnya prihatin. Tidak, J tidak sampai
membenci. Kalau sampai hal membahayakan terjadi kepada M, dia tentu tidak akan
tinggal diam. Bahkan, meski itu dilakukan oleh R, sahabatnya sendiri.
Ada batasan tertentu yang tidak boleh dilanggar meski
itu teman dekat sekalipun. Hal-hal yang menyangkut nama baik, pekerjaan, dan
orang terkasihnya. Untuk tiga hal itu J sangat tidak suka orang lain ikut
campur, apalagi sampai mengambil alih.
Pintu lift terbuka, J masuk dan akhirnya sampai di
lantai tempat kantornya berada. Begitu masuk banyak karyawan yang menunggunya
di dalam. ‘’J bagaimana Ini?’’
‘’Kalian tetap bekerja seperti biasa. R bos kalian
baik-baik saja. Biar aku yang akan menyelesaikan pekerjaan bos hari ini. Kalian
bekerja seperti biasa. Kalau ada wartawan datang, tolak saja. Semua yang tidak
ada hubungan dengan kantor kita, tolak saja.’’
J masuk ke ruang kerjanya. Baru saja duduk telepon
kantor berdering berkali-kali seolah minta tolong. R sudah ada di seberang
telepon dan J mengangkatnya.
‘’Halo, J!’’
‘’Halo, R! Kamu di mana?’’
“’J aku minta maaf atas kekonyolanku. Tapi, aku
sungguh tidak mengerti kenapa kaca mobilku pecah semua, padahal aku hanya
melakukan sedikit kekonyolan dan Am bersikap dingin setelah membuka pintunya.’’
‘’Urusan kemarin sore itu kita bahas kapan saja, kamu
di mana sekarang?’’
‘’Aku ada di ruangan security apartemen Am.’’
‘’Apa yang bisa kulakukan untukmu?’’
‘’Tidak ada. Tapi, sungguh aku takut. Kau tahu
semenjak L mati hidupku kacau. Kematian demi kematian ada di depan mataku.’’
‘’Tapi, ulahmu tetap sama, dan sikapmu gak berubah.’’
R terdiam.
‘’Baiklah aku akan ke sana sekarang. Pastikan kamu
tidak bergerak ke mana pun. Aku malah takut bukan cuma mobilmu saja, tapi nyawamu
juga jadi incaran mereka.’’
‘’Iya, cepatlah kemari!’’
Begitu J keluar dari ruang kerjanya, Ol sudah ada di
depan menunggu J. ‘’Kamu akan pergi menemui J?’’ tanya Ol khawatir.
‘’Sebaiknya kamu tetap bekerja, ada Am di sana. Bosmu
sedang ada bersama tunangannya. Kalau kau ikut aku ragu, apakah R akan selamat
atau tidak, karena ketika R disuruh pergi karena melihatmu datang, bisa jadi
dia yang akan jadi sasaran empuk pelurunya. Termasuk kamu juga.’’
‘’Tapi, aku khawatir.’’
‘’Jangan mengundang masalah baru sementara masalah
yang satu ini juga belum ada titik terangnya. Pelakunya entah siapa dan apa
motifnya. Paham?’’
J sedikit menekan dengan nada suaranya, semua agar
kekacauan yang terjadi tidak bertambah dengan kekacauan baru karena kedatangan
Ol di sana. Ol tidak menjawab apa pun, tapi dia mengangguk. J berlalu dan
keluar dari kantornya, sementara Ol kembali ke ruangannya.
J turun dan keluar dari parkiran dengan mobilnya. Dia
melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang saja. Sebuah panggilan masuk ke
handphone milik J. Dia menerima panggilan itu.
Penelpon itu mengatakan sandi. J menjawabnya. ‘’Iya,
ada apa?’’
‘’Saya mengambil pekerjaan di luar job yang Anda
setujui, maksudnya job itu datang dan saya sudah melaporkannya kepada Anda,
tapi karena Anda tidak menanggapi, sementara waktunya mendesak, dan resikonyna ringan, maka saya baru
mengatakannya kepada Anda. Mohon ini tidak menjadi masalah.’’
‘’Baiklah, katakan apa pekerjaan itu?’’
‘’Mobil yang pagi ini ditembaki sampai kacanya kancur
semua.’’
‘’Oh, astaga!’’
Hening sebentar. J menggeleng-gelengkan kepalanya. Ini
benar-benar di luar nalarnya, bagaimana mungkin bawahannya menembaki mobil
sahabatnya. Tetapi, dengan cepat J mengambil sikap, setelah menimbang kesalahan
itu tidak begitu besar, dan resiko untuk orang di bawah agensinya tidak besar.
‘’Berikan padaku nomor pemesan itu.’’
‘’Dia perempuan, saya akan kirim nomor pemesannya.
Tapi, saya kira itu nomor sekali pakai.’’
‘’Tidak masalah kirim saja. Aku akan mengeceknya
nanti. Pastikan tidak ada jejak mengarah kepadamu, polisi sedang memburu pelakunya.’’
‘’Baik, Bos.’’
“’Berapa uang yang kamu dapat?’’
Bawahan J menyebutkan jumlah uang yang dia dapatkan.
‘’Apa dia menginginkan lebih, maksudku nyawa pemilik
mobil itu?’’
‘’Tidak, Bos. Dia hanya ingin saya memecahkan kacanya
dan menembak ban mobinya saja.’’
‘’Baiklah. Laporan diterima, simpan uangnya untukmu
saja. Semuanya. Jangan mendekat ke tempat kejadian. Ingat itu!’’
Bawahan J langsung menurut ketika diperintahkan untuk
mengakhiri panggilan. Tetapi, sebelumnya dia mengirimkan nomor telepon pemesan
kekacauan.
J tertawa, besar juga uang pembayarn yang didapat
bawahannya. Dia tertawa lagi mendengar yang memesan adalah perempuan. Apakah
itu Olive? Meski yang berpeluang besar melakuakn itu adalah Am, tapi J tidak
percaya sepenuhnya Am bisa melakukan hal itu kepada tunangannya.
J sudah sampai ke depan apartemen di mana Am dan R ada
di ruang security. J menunjukkan kartu tempat dia bekerja, dia mengatakan kalau
dia adalah orang dari kantor R. Karena keadaan sedang tidak baik-baik saja,
akhirnya J sedikit harus menunggu. Petugas menelpon memastikan kalau J
adalah bawahan R, R sepertinya
membenarkan dan akhirnya mobil J bisa masuk ke parkiran.
J segera turun dan berjalan menuju tempat di mana R
berada. Begitu sampai R langsung bangun dan memeluknya. J tahu, R pasti sangat
ketakutan. Bukan takut mobilnya hancur, tetapi dia merasa dalam keadaan
terancam karena kejadian itu.
Setelah bicara dengan pihak keamanan kalau semua akan
diurus oleh pihak pengacara kantor, akhirnya polisi dan security melepaskan R
untuk pulang bersama J.
Am yang mengikuti R sampai ke mobil J tidak banyak
bicara, dia hanya mengatakan agar R diantarkan ke apartemen yang satu gedung
dengan kantornya. R memeluk Am, sepertinya dia sedikit menangis.
‘’Aku akan menemui M setelah semuanya baik-baik
saja.’’ Am mengatakan itu kepada J sebelum J masuk ke dalam mobilnya.
J akhirnya pergi bersama R meninggalakan area
apartemen di mana Am tinggal. Mereka berdua menuju ke apartemen di mana R
tinggal dan kantor tempat bekerja mereka berdua ada di sana.
Sepanjang jalan R hanya terdiam. J bisa maklum, dan
dia tidak mencoba untuk bertanya apa-apa sama sekali. Sementara J masih sibuk
dengan pertanyaan siapa kira-kira pemesan kekacauan itu.
Mereka berdua sampai dan akhirnya naik ke apartemen R,
J menemaninya sampai masuk.
‘’Bekerja dari sini saja apakah bisa?’’ punta R kepada
J.
‘’Aku bisa melakukan itu, tapi melihatmu sekarang aku
malah ingin memukul kepalamu karena ulahmu kemarin sore.’’
‘’Please, maafkan aku! Aku tahu aku salah, tapi ,,,,’’
‘’Masih ada tapinya?’’
‘’Kekasihmu itu terlalu sempurna. Siapa yang tidak
tertarik dengan kekasihmu? Apakah aku salah? Aku tidak pernah melecehkan dia
sama sekali. Aku hanya mengirimkan bunga karena aku begitu menganguminya.’’
‘’Aku akan menyuruh pekerja lain ke sini menemanimu,
dan kau bisa tidur dengan nyenyak, Aku akan turun dan menemui klien kita. Kau
tahu semua tidak bisa dibatalkan hanya karena kejadian mobilmu yang hancur. Aku
akan mengatakan kalau kau sakit dan syok.’’
‘’Tapi, aku memang syok betulan, J!’’
‘’Ýa.’’



Komentar
Posting Komentar