Kenapa Tidak Mati Saja
BLOG NURLAELI
UMAR- Am mendekat ke dua orang polisi yang ada di depan kantor security
apartemen. Dia memberikan nomor dan mengatakan jika pihak kepolisian memerlukan
hal apa pun yang berhubungan dengan penembakan mobil R kekasihnya, mereka bisa
menghubunginya kapan saja.
‘’Kapan pun,
bahkan di jam tidur sekalipun.’’
Salah seorang
polisi itu mengatakan mereka akan menghubungi Am jika memang diperlukan. ‘’Anda
tidak perlu khawatir, kami akan usahakan tidak akan mengganggu waktu tidur
Anda.’’
Am
mengangguk. Tentu saja, apartemen semewah ini di mana penghuninya kaum the have
semua, sudah tentu akan diperlakukan istimewa. Itulah sebabnya Am memilih
tinggal di sini, banyak sekali hal yang menguntungkan untuknya, meski
sebenarnya dia juga merogoh saku untuk kenyaman seperti itu, tidak cuma-cuma.
Am kembali ke
roomnya bersiap untuk bekerja. Dia menghubungi Th, meminta waktu apakah bisa
menemaninya makan siang dan bertemu M. Dia tidak ingin bertemu M di rumah M,
apalagi di coffee shop milik J yang dikelola oleh M.
J mengatakan
dia tidak bisa siang ini. Mungkin besok siang. Am mengatakan ‘oke’. Am tahu
benar Th bekerja harus sesuai dengan jadwal. Sebagai seorang dokter banyak
pekerjaan yang memaksanya untuk meninggalkan hal-hal remeh seperti makan siang
bersamanya, tetpai ridak dengannya yang akan banyak waktu untuk menemani teman
yang lainnya. Am bekerja di perusahaan miliknya sendiri dengan banyak bawahan
yang bisa diandalkan.
R menelpon
Am, lima menit sebelum A menelpon Am dan mengatakan dia ingin bertemu dengan
Am.
‘’Halo! Am,
Aku ingin kau menemaniku di sini.’’
‘’Halo,
Sayang! Kau tidurlah dulu, tenagkan dirimu. Aku bisa datang menjelang malam.
Tapi, aku tidak akan menginap di room-mu.’’
‘’Aku tahu
kau marah besar. Tapi, aku datang ke room-mu untuk meminta maaf.’’
‘’Kalau
begini kejadiannya, kenapa kau tidak mati saja, tadi? Mestinya kau terbunuh
sebelum sempat mengtuk pintuku, bukan?’’
‘’Please, Am,
aku salah. Aku mengaku.’’
‘’Sudah
kubilang, aku akan datang ke room-mu, nanti malam.’’
Am langusng
mematikan sambungannya. R menghubunginya lagi, tetapi Am menolaknya, telepon
dari nomor Am di-reject. Am sedang malas, menurutnya R sangat membuatnya malu.
A menelpon
setelahnya, Am yang sedang emosi berniat me-reject telepon itu sebenarnya,
hanya saja diurungkan begitu melihat itu bukan dari R.
‘’Halo! Iya.
Ini aku. Baiklah.’’
Setelah
menerima telepon singkat dari A, Am merasa sedikit tenang. Dia sekarang
menghubngi M, dengan mengirim pesan bahwa dia ingin bertemu dengannya, di café
dekat danau. M langsung mengiyakan.
Rencana
awalnya setelah sarapan dia ingin menemui M, seperti yang dia katakan kepada J,
tetapi setelah dipikir akan lebih baik dia menemuinya di jam makan siang saja.
Belum lagi baik A, dia, dan M masing-masing pasti punya banyak pekerjaan yang
harus diselesaikan pagi ini.
Semenjak
kematian L di mana kematian beruntun datang, batin Am. Apakah pembunuh itu
mengincar semua orang yang ada di sana? Maksudnya orang-orang yang dekat dengan
mereka. Am merasa aneh saja, meski J tidak ada kerabat yang diincar, tetapi
perempuan simpanan itu adalah milik bos yang menjadi klien R tunangannya,
sekaligus klien J juga.
Begitu juga
dengan pembunuhan sebelum-sebeumnya setelah L. Suami dari bibinya L, kemudian
bos pemilik bar di mana R menanam saham, belum lagi pembantaian pengawal dari
bos pemilik banyak bar yang direkrut O karyawan R yang sedang merayakan
launching perusahaan sekaligus produk andalan mereka, dan pagi tadi mobil R
diberondong peluru yang diperkirakan pelakunya dua orang dan dengan mudahnya
jejak mereka hilang.
Hampir semua
pembunuhan yang terjadi di lingkaran Am, mempunyai motif yang sama tidak
terlacak, rapi, dan tanpa surat atau telepon ancaman. Tidak ada konflik yang
mencuat kepada khayalak umum.
Am bingung
dengan motif dari kejadian tadi pagi itu apa? Setelah kejadian kemarin sore di
mana R mempermalukan dirinya sendiri, dia, R, Am, dan J, pastinya tidak kan
diperiksa kepolisian, karena tidak ada yang berkaitan. Tapi, itu bisa menjadi
kecurigaan yang dituduhkan kepadanya secara pribadi, karena di peristiwa
kemarin dia adalah korban, meski hanya korban perasaan.
Am keluar dari
roomnya dengan dandan elegan seperti biasa. Dia memang terlalu cantik untuk R
yang kurang ajar. Semua orang akan mengatakan itu andai mereka tahu kelakuan R
kemarin sore. Dari sebegitu banyak koleksi perempuan, di mana Am tutup mata
karena dia tahu orang kalangn the have seperti dia dan R sudah terbiasa dengan
kekacauan seperti itu, tetapi sangat di luar dugaannya mengapa harus Ada
kejadian kemarin sore.
Dua orang
security mendekati mobil Am, ketika Am baru saja menutup pintunya. Dia membuka
kaca depan di samping duduknya.
‘’Selamat
pagi, apakah Anda yakin akan mengendarai sendiri? Anda bisa menghubungi orang
kepercayaan Anda, dan kami siap menemani sampai orang itu datang.’’
‘’Selamat
pagi kembali. Aman, Pak. Saya bisa membawa mobil sendiri.’’
‘’Baiklah
kalau begitu. Silakan!’’
Am mengangguk
dan mnyalakn mesin mobilnya, kemuda dia berllau dan keluar dari area apartemen.
Am baru menaikkan kaca depannya selepas keluar dan mobilnya memasuki jalan
raya.
Biasanya dia
akan memutar lagu-lagu dengan irama lembut, tetapi kali ini dia butuh
pelampiasaan dengan kemarahan akan rasa malunya atas tingkah R, dia menyetel
lagu-lagu EMO yang hanya sesekali diputarnya ketika dia teramat kesal dan tidak bisa marah seperti kali ini.
Am melajukan
mobilnya dengan kecepatan sama seperti biasa, dan akhirnya dia sampai juga
setelah kemacetan menyapanya sepanjang jalan. Dia bahkan tadi lupa rasanya
kesal dengan beberapa pengendara motor
yang kadang melajukan kendaraannya dengan sedikit ugal-ugalan dan menyalip
dengan mengejutkan.
Tentu saja ada
rasa takut menyergap dengan kejadian mobil R tunangannya yang diberondong,
belum lagi pastinya polisi akan menyelidiki dan butuh keterangan dari dia. Mobil
R benar-benar mengerikan, bisa jadi lebih dari dua orang pelakunya, melihat
hasil kerjanya.
Mobil R
diberondong banyak peluru. Sesaat Am berpikir akan lebih baik jika R terbunuh
tadi pagi. Mungkin dia akan bersedih karena pernikahannya akan gagal, dia
kehilangan orang yang dicintainya, tetapi itu akan sementara saja. Sedangkan
rasa malu karena R kemarin sore akan diingat seumur hidupnya.
‘’R, kamu
sialan!’’
Akhirnya Am
yang tidak biasa berkata buruk, keluar juga kata-kata itu dari mulutnya.
‘’Aku akan
berterima kasih andai tadi pagi R mati saja, Tuhan!’’
Setelah
amarahnya reda, dan mobil sudah sampai di depan kantornya, Am turun. Dia tidak
memasukkan mobilnya, tetapi membiarkannya parkir di jalanan. Seorang lai-laki
yang bekerja menjadi supir pribadi kantor mendekat ke mobil Am. Dia sambil
setengah membungkuk menyapa Am.
‘’Selamat
pagi, Bu!’’
‘’Pagi, Pak.
Tolong bawa mobil saya ke depan rumah, jangan dimasukkan biarkan diparkir di
jalan saja.’’
‘’Baik, Bu.’’
Supir itu
tahu, pasti Am sedang merencanakan sesuatu dengan mobilnya. Dia tidak banyak
bertanya, hanya menerima kunci itu dan membiarkan Am berlalu masuk ke antornya,
di mana sudah banyak karyawan yang khawatir dengan Am. Mereka pasti hafal benar
mobil yang diberondong peluru itu milik R tunangan Am. Apalagi di televisi dan
media sosial lainnya gambar Am terpampang dan namanya disebut-sebut.



Komentar
Posting Komentar