Bab 17. Monster Pembunuh

 


Kenapa Tidak Mati Saja

BLOG NURLAELI UMAR- Am mendekat ke dua orang polisi yang ada di depan kantor security apartemen. Dia memberikan nomor dan mengatakan jika pihak kepolisian memerlukan hal apa pun yang berhubungan dengan penembakan mobil R kekasihnya, mereka bisa menghubunginya kapan saja.

‘’Kapan pun, bahkan di jam tidur sekalipun.’’

Salah seorang polisi itu mengatakan mereka akan menghubungi Am jika memang diperlukan. ‘’Anda tidak perlu khawatir, kami akan usahakan tidak akan mengganggu waktu tidur Anda.’’

Am mengangguk. Tentu saja, apartemen semewah ini di mana penghuninya kaum the have semua, sudah tentu akan diperlakukan istimewa. Itulah sebabnya Am memilih tinggal di sini, banyak sekali hal yang menguntungkan untuknya, meski sebenarnya dia juga merogoh saku untuk kenyaman seperti itu, tidak cuma-cuma.

Am kembali ke roomnya bersiap untuk bekerja. Dia menghubungi Th, meminta waktu apakah bisa menemaninya makan siang dan bertemu M. Dia tidak ingin bertemu M di rumah M, apalagi di coffee shop milik J yang dikelola oleh M.

J mengatakan dia tidak bisa siang ini. Mungkin besok siang. Am mengatakan ‘oke’. Am tahu benar Th bekerja harus sesuai dengan jadwal. Sebagai seorang dokter banyak pekerjaan yang memaksanya untuk meninggalkan hal-hal remeh seperti makan siang bersamanya, tetpai ridak dengannya yang akan banyak waktu untuk menemani teman yang lainnya. Am bekerja di perusahaan miliknya sendiri dengan banyak bawahan yang bisa diandalkan.

R menelpon Am, lima menit sebelum A menelpon Am dan mengatakan dia ingin bertemu dengan Am.

‘’Halo! Am, Aku ingin kau menemaniku di sini.’’

‘’Halo, Sayang! Kau tidurlah dulu, tenagkan dirimu. Aku bisa datang menjelang malam. Tapi, aku tidak akan menginap di room-mu.’’

‘’Aku tahu kau marah besar. Tapi, aku datang ke room-mu untuk meminta maaf.’’

‘’Kalau begini kejadiannya, kenapa kau tidak mati saja, tadi? Mestinya kau terbunuh sebelum sempat mengtuk pintuku, bukan?’’

‘’Please, Am, aku salah. Aku mengaku.’’

‘’Sudah kubilang, aku akan datang ke room-mu, nanti malam.’’

Am langusng mematikan sambungannya. R menghubunginya lagi, tetapi Am menolaknya, telepon dari nomor Am di-reject. Am sedang malas, menurutnya R sangat membuatnya malu.

A menelpon setelahnya, Am yang sedang emosi berniat me-reject telepon itu sebenarnya, hanya saja diurungkan begitu melihat itu bukan dari R.

‘’Halo! Iya. Ini aku. Baiklah.’’

Setelah menerima telepon singkat dari A, Am merasa sedikit tenang. Dia sekarang menghubngi M, dengan mengirim pesan bahwa dia ingin bertemu dengannya, di café dekat danau. M langsung mengiyakan.

Rencana awalnya setelah sarapan dia ingin menemui M, seperti yang dia katakan kepada J, tetapi setelah dipikir akan lebih baik dia menemuinya di jam makan siang saja. Belum lagi baik A, dia, dan M masing-masing pasti punya banyak pekerjaan yang harus diselesaikan pagi ini.

Semenjak kematian L di mana kematian beruntun datang, batin Am. Apakah pembunuh itu mengincar semua orang yang ada di sana? Maksudnya orang-orang yang dekat dengan mereka. Am merasa aneh saja, meski J tidak ada kerabat yang diincar, tetapi perempuan simpanan itu adalah milik bos yang menjadi klien R tunangannya, sekaligus klien J juga.

Begitu juga dengan pembunuhan sebelum-sebeumnya setelah L. Suami dari bibinya L, kemudian bos pemilik bar di mana R menanam saham, belum lagi pembantaian pengawal dari bos pemilik banyak bar yang direkrut O karyawan R yang sedang merayakan launching perusahaan sekaligus produk andalan mereka, dan pagi tadi mobil R diberondong peluru yang diperkirakan pelakunya dua orang dan dengan mudahnya jejak mereka hilang.

Hampir semua pembunuhan yang terjadi di lingkaran Am, mempunyai motif yang sama tidak terlacak, rapi, dan tanpa surat atau telepon ancaman. Tidak ada konflik yang mencuat kepada khayalak umum.

Am bingung dengan motif dari kejadian tadi pagi itu apa? Setelah kejadian kemarin sore di mana R mempermalukan dirinya sendiri, dia, R, Am, dan J, pastinya tidak kan diperiksa kepolisian, karena tidak ada yang berkaitan. Tapi, itu bisa menjadi kecurigaan yang dituduhkan kepadanya secara pribadi, karena di peristiwa kemarin dia adalah korban, meski hanya korban perasaan.

Am keluar dari roomnya dengan dandan elegan seperti biasa. Dia memang terlalu cantik untuk R yang kurang ajar. Semua orang akan mengatakan itu andai mereka tahu kelakuan R kemarin sore. Dari sebegitu banyak koleksi perempuan, di mana Am tutup mata karena dia tahu orang kalangn the have seperti dia dan R sudah terbiasa dengan kekacauan seperti itu, tetapi sangat di luar dugaannya mengapa harus Ada kejadian kemarin sore.

Dua orang security mendekati mobil Am, ketika Am baru saja menutup pintunya. Dia membuka kaca depan di samping duduknya.

‘’Selamat pagi, apakah Anda yakin akan mengendarai sendiri? Anda bisa menghubungi orang kepercayaan Anda, dan kami siap menemani sampai orang itu datang.’’

‘’Selamat pagi kembali. Aman, Pak. Saya bisa membawa mobil sendiri.’’

‘’Baiklah kalau begitu. Silakan!’’

Am mengangguk dan mnyalakn mesin mobilnya, kemuda dia berllau dan keluar dari area apartemen. Am baru menaikkan kaca depannya selepas keluar dan mobilnya memasuki jalan raya.

Biasanya dia akan memutar lagu-lagu dengan irama lembut, tetapi kali ini dia butuh pelampiasaan dengan kemarahan akan rasa malunya atas tingkah R, dia menyetel lagu-lagu EMO yang hanya sesekali diputarnya ketika dia teramat kesal dan  tidak bisa marah seperti kali ini.

Am melajukan mobilnya dengan kecepatan sama seperti biasa, dan akhirnya dia sampai juga setelah kemacetan menyapanya sepanjang jalan. Dia bahkan tadi lupa rasanya kesal dengan  beberapa pengendara motor yang kadang melajukan kendaraannya dengan sedikit ugal-ugalan dan menyalip dengan mengejutkan.

Tentu saja ada rasa takut menyergap dengan kejadian mobil R tunangannya yang diberondong, belum lagi pastinya polisi akan menyelidiki dan butuh keterangan dari dia. Mobil R benar-benar mengerikan, bisa jadi lebih dari dua orang pelakunya, melihat hasil kerjanya.

Mobil R diberondong banyak peluru. Sesaat Am berpikir akan lebih baik jika R terbunuh tadi pagi. Mungkin dia akan bersedih karena pernikahannya akan gagal, dia kehilangan orang yang dicintainya, tetapi itu akan sementara saja. Sedangkan rasa malu karena R kemarin sore akan diingat seumur hidupnya.

‘’R, kamu sialan!’’

Akhirnya Am yang tidak biasa berkata buruk, keluar juga kata-kata itu dari mulutnya.

‘’Aku akan berterima kasih andai tadi pagi R mati saja, Tuhan!’’

Setelah amarahnya reda, dan mobil sudah sampai di depan kantornya, Am turun. Dia tidak memasukkan mobilnya, tetapi membiarkannya parkir di jalanan. Seorang lai-laki yang bekerja menjadi supir pribadi kantor mendekat ke mobil Am. Dia sambil setengah membungkuk menyapa Am.

‘’Selamat pagi, Bu!’’

‘’Pagi, Pak. Tolong bawa mobil saya ke depan rumah, jangan dimasukkan biarkan diparkir di jalan saja.’’

‘’Baik, Bu.’’

Supir itu tahu, pasti Am sedang merencanakan sesuatu dengan mobilnya. Dia tidak banyak bertanya, hanya menerima kunci itu dan membiarkan Am berlalu masuk ke antornya, di mana sudah banyak karyawan yang khawatir dengan Am. Mereka pasti hafal benar mobil yang diberondong peluru itu milik R tunangan Am. Apalagi di televisi dan media sosial lainnya gambar Am terpampang dan namanya disebut-sebut.

 

 

 

 

 

Komentar