Bab 18. Kekacauan Ke Dua

 


Kekacauan Ke Dua

BLOG NURLAELI UMAR- Am datang ke coffee shop di pinggir danau. Sepertinya yang datang ke sini hari ini cukup ramai. Setelah semua pekerjaan kantor diselesaiakan, Am masih sibuk dengan telepon genggamnya setelah turun dari mobil dan menutup pintunya.

Dia masuk ke dalam coffee shop. M sudah ada di sana bersama A dan Th. Ini kejutan baginya. Tadi, Th mengatakan kalau dia tidak ada jadwal kosong hari ini. Wajah Am tampak gembira.

M yang sedang berbincang dengan A, disadarkan kehadiran Am oleh tanda mata dari Th.

‘’Hai, Sayang, kemarilah!’’ panggil M sambil berdiri dari duduknya.

Am bergegas dan mereka berdua berpelukan. Setelah itu A bergantian memeluk Am. Sekarang giliran Th. Am tidak bisa mengendalikan rasa baghagiannya, dia menangis di dada Th. Th memeluk Am lebih lama dari A dan M. Bahkan, sampai A dan M bicara agak lama.

‘’Menangislah, kalau itu membuatmu lega!’’

Am mengangguk dan melanjutkan tangisnya. Th memeluk Am lebih erat, tangannya mengelus rambut Am yang tergerai. A dan M membiarkannya.

‘’Cokelat hangat, atau es teh?’’ tawar M kepada Am yang masih dipeluk Th.

Am mengangguk kepada Th, dan Th melepaskan pelukannya. Mereka akhirnya duduk bersebelahan.

‘’Cokelat hangat saja, bagaimana, Am?’’ Kali ini Th yang menjawab, dan Am tersenyum sambil mengangguk.

M bangun dari duduknya dan pergi memesan. Dia sepertinya ingin membiarkan Am bercerita, karena sebenarnya mereka bisa saja memanggil pramusaji untuk memesan.

‘’Bagaimana kelanjutan kisah tadi pagi? Apa semua seperti yang reporter Tv katakan? Atau pembawa acara berita itu juga sudah mengolah semuanya menjadi lebih baik atau ada yang berbeda?’’ cecar A sang pengacara muda yang memperlakukan teman dekatnya sebagai klien VVIP dibanding klien firma hukumnya.

 Am mengangguk. ‘’Tapi, aku masih bingung bagaimana kejadian itu harus di apartemenku?’’

Th menatap A, seolah ingin menanti jawaban yang lebih masuk akal. Padahal, bisa saja mobil R ditembaki di depan rumahnya atau di depan apartemen tempatnya tinggal, atau di klub di mana R banyak menanam saham.

‘’Aku akan mencari informasi.’’ A menjawab pertanyaan Am dengan singkat.

M datang dengan baki berisi minuman dan makanan. ‘’Sengaja aku memesan sendiri, aku ingin kau tahu aku bisa diandalkan, meski sekadar memesan makanan, Am,’’ kelakar M.

‘’Kau selalu bisa diandalkan. J menyuruhku menemuimu tadi pagi, barangkali aku butuh teman. Dia tahu kekasihnya adalah teman terbaikku.’’ Am mengatakan itu masih dalam pelukan Th.

M mengangguk senang. ‘’Apa kau akan tinggal di rumahku, maksudku di rumah J sampai semua baik-baik saja?’’

‘’Tidak perlu M, aku aman di apartemenku. Yang ditembaki mobil R, bukan roomku.’’ Am terlihat senang dengan perhatian M.

‘’Menurutku kalau kau merasa tidak aman lebih baik tinggal di rumah M saja setidaknya sampai kau tidak merasa takut lagi,’’ saran Th, ‘’atau tinggal bersamaku, Kau ikut aku ke rumah sakit, kalau kau bosan aku bisa menyewa hotel kecil di samping rumah sakit, dan kau merasa aman.’’

‘’Tidak perlu Th. Aku bisa mengandalkanmu kapan saja, tapi aku tidak ingin mobilmu yang menadi incaran, karena R cemburu.’’ Am mendongak menatap Th. Th tersenyum dan memeluk Am lebih erat.

Am dan Th sekarang duduk. Mereka berempat tertawa bersama. Am meminum minuman yang M pesan, dan mereka berempat sekarang sedang menikmati makanan yang ada di meja.

‘’Kemarin R melakukan kesalahan. Dia mengirimi M buket dan papan bunga. Padahal, M tidak berulang tahun, masih sembilan hari lagi,’’ Am mengatakan itu dengan penekanan. Terdengar nada kesal, cemburu dan marah di dalamnya.


Th dan A serempak menatap M, dan M mengangguk.

‘’Jadi …’’ A dan Th menatap Am dan M bergantian.

‘’Itu benar. R menginginkanku.’’ Am mengatakan itu, A dan Th saling pandang kemudain mereka berdua mengedikkan bahu bersamaan dan saling pandang.

‘’Kemarin ada aku, J, dan Am. R merasa dipermalukan. Aku melihatnya begitu.’’ Kali ini Am mengatakan itu sambil menatap ke arah Th. Th merengkuh pundak Am dan menepuk-nepuk lembut.

‘’Tapi, tunanganmu memang keterlaluan, Am. Seharusnya tadi pagi bukan mobilnya saja yang diberondong peluru, tapi kepalanya juga. Maaf.’’ M mengatakan itu dengan nada dingin.


‘’Hentikan ucapanmu, M! Aku tidak mau orang mendengarnya salah dan mengadukanmu. Kau bisa jadi tersangka. Kau bisa mengatakan itu setelah orang yang ada di balik aksi menembaki mobil R tertangkap.’’

M mengangguk.


‘’Am juga akan kena imbasnya, kalau R terbunuh. Aku tidak tahu bagaimana akhir dari penyelidikan kasus R. Aku hanya takut yang ditangkap dan pelakunya atau otak di baliknya berbeda, hanya karena kasus harus tuntas. Kau tahu siapa R, bukan? Belum lagi tidak hanya R saja yang akan dimintai keterangan, tetapi kamu dan karyawanmu, terlebih kemarin kalian ada di satu tempat yang sama.’’ A mengatakan itu kepada Am, Th, dan M, tetapi lebih tertuju kepada Am.

A sudah tahu bagaimana R sangat terobsesi dengan Am, tetapi kejadian buket bunga dan berondongan peluru seharus tidak terjadi beruntun. A takut Am mendapat masalah besar, apalagi jika Am mengatakan hal seperti tadi dan didengar wartawan, misalnya.


‘’Menyebalkan sekali, R yang berbuat, aku akan terkena imbasnya juga. Dia hidup atau mati mempersulitku. Aku hanya sahabat dari tunangannya, aku sama sekali tidak berminat kepada R, kenapa mesti ada buket bunga dan paginya mobinya diberondong. Kurasa kau harus memilih antara aku dan tunanagnmu, Am. Aku takut akan berulang,’’ keluh Am.

‘’Ayolah, M! Jangan pergi meninggalkanku. Kau tahu benar, bagaimana aku dan bagaimana R,’’ pinta Am tidak ingin kehllangan M sahabatnya. Am tahu benar kalau sahabatnya selalu bicara sungguh-sungguh.

‘’Iya. Untung kau tahu bagaimana kekasihmu, kalau tidak pasti aku dan kamu akan bertengkar, sementara tunanganmu akan tertawa. Di depan dia akan bersikap baik, dan di belakang akan terus memburuku, bukan?’’ M mengingatkan Am tentang R.

A mengangguk-angguk.  ‘’Bagiamana seharusnya, Th?’’ tanya A meminta pandapat.

‘’Kurasa tadinya Am datang untuk meminta maaf karena sikap R, tetapi setelah aku dengar bagaimana M bicara, kurasa kali ini kita lebih baik tidak mempermasalahkan tentang persahabatan M dan Am. Kalian berdua sebaiknya jangan bertemu dulu, tetapi jangan putus saling menghubungi.’’

‘’Alasannya?’’ tanya Am. Dia tentu saja keberatan.

‘’Kenapa tanya alasannya?’’ tanya A mencoba berada di pihak Th.

‘’Kalian berdua masih ada hubungan pekerjaan. Selain itu aku tidak mau polisi menghubungkan peritiwa penembakan mobil R dengan hubungan kalian berdua. Bisa saja ada orang yang mengatakan kalau mobil ditembaki karena salah satu dari kalian cemburu.’’ Th menjelaskan itu, sementara ketiga yang lain mengangguk-angguk.

‘’Tapi, tidak ada yang tahu tentang semua ini, kecuali orang-orang di coffee shopku, aku J, Am, dan R. Toko penjual bunga. Kurasa polisi lebih tertarik dengan saingan bisnis tempat R menanam saham atau bekerja, bukan?’’ M mencoba menangkis pendapat Th dan A.

‘’M, tenanglah. Aku tahu kau marah, karena kalau alasan penembakan  mobil itu karena cemburu, berarti Am yang dituduh. Kau tidak suka itu. Aku tahu.’’ A mencoba meredakan M yang terlihat masih kesal.

Terdengar letusan senjata, tiga kali. Mobil yang sepertinya kena tembakan alarmnya meraung-raung. Beberapa orang tanpak panik setelah bunyi letusan itu. Mereka mencoba melihat kedaan di luar dengan mendekat ke dinding kaca. Ada dua orang petugas keamanan yang berlari masuk. Mereka memperingatkan agar tidak ada yang keluar.




 

 

 

Komentar