Bab 19. MONSTER PEMBUNUH

 


Bab 19. Monster Pembunuh

BLOG NURLAELI UMAR-  J yang sedang menghadapi klien langsung meminta waktu untuk bicara dengan kekasihnya. J mendapat pesan dari M, kalau di coffee shop di mana dia, Am, Th, dan A berada terjadi penembakan sebuah mobil. M tidak tahu itu mobil siapa

J langsung membalas pesan, dia memilih untuk tidak menelpon M. J hanya bergeser sepuluh langkah dari meja di mana dia dan klien berbicara.

J mengirim pesan agar M tidak ke mana-mana, sampai polisi datang. Akan sangat berbahaya kalau M nekat pergi dari sana, meski tidak sendiri, dan karena takut.

M mengiyakan. Dia berjanji akan bersikap tenang dan mematuhi apa yang J kekasihnya perintahan.

Setelah itu J mengirim pesan kepada anak buahnya, meminta mencari tahu tentang penembakan di tempat M dan kawannya sedang makan siang. J ingin laporan diberikan secepatnya. Bawahannya mengiyakan dan J kembali melanjutkan makan siang dengan klien.

Baru dua puluh lima menit semua info yang J minta sudah lengkap. J menerima pesan itu, sementara pembicaran dengan kliennya sudah berakhir lima menit yang lalu.

J sedikit terkejut, karena pemesan tembakan beruntun atas mobil R, dan tembakan di coffee shop tempat M berada adalah sama, perempuan, Pelakunya berbeda. J menarik napas panjang. J sudah bisa menduga siapa pemesan dua penembakan dalam satu hari itu. Dia sengaja tidak menanyakan identitas pemesan kepada bawahannya. J ingin tahu apa motifnya dulu.

J langsung menelpon ke kantor, dia menelpon ke meja O. ‘’Halo!’’

‘’Halo!’’ O menjawab teelpon J.

‘’Urusan klien sudah rampung untuk jadwal hari ini. Apakah R memberitahumu sesuatu?’’

‘’Soal pekerjaan kantor tidak, tapi dia menyuruh semua karyawan melaporkan kalau terjadi sesuatu seperti ancaman atau tindakan pemerasan dan sebagaianya. Mobil tunangannya diberondol peluru beberapa menit yang lalu.’’

‘’Ya, aku tahu.’’

‘’Kudengar mereka berpasangan. Ada dua laki-laki dan dua perempuan. Salah satunya kekasihmu J.’’

‘’Jangan bicara buruk tentang Am dan M. Aku lebih paham dari dia sekalipun. Waspada saja, siapa tahu malam ini mereka mengincar kepalamu.’’

‘’Hei, J! Jangan keterlaluan kalau bercanda. Kenapa harus aku?’’

‘’Karena sepagi tadi R, siangnya tunangannya, siapa tahu malamnya kamu.’’

‘’Ayolah, J, aku tidak ada hubungannya dengan mereka.’’

‘’Jangan lupa, kau selingkuhan R!’’

‘’Iya, aku tahu itu. Aku mengaku. Tapi, aku dan dia hanya urusan ranjang saja, selebihnya aku sudah mencabut sahamku di mana aku ikut di perusahaan kosmetik bersama S dan R di dalamnya. Dan, R sudah la,a mengabaikanku. Sialan, kau, J!’’

‘’Jangan mengeluh seperti anak kucing kehilangan induknya. Kita tidak tahu apa maksud dari penembakan yang terjadi dua kali hari ini. Kita tahu tidak ada masalah dengan perusahaan tempat kita bekerja, bukan? Dan, soal klien semua baik-baik saja.’’

‘’Aku juga tidak tahu, J. Tapi, kurasa aku akan menjauh dari R. Aku tidak mau mati konyol. Aku sudah sangat lelah dan ketakutan dengan orang yang ditembak waktu itu. Kau tahu, bukan? Empat pengawal dalam hitungan detik di depan mataku.’’

J tidak menjawab apa-apa. Dia tahu O bukan mengejar R, tetapi kekayaan dan kenyamanan seorang R. Klien sudah pulang, dan J tidak mendatangi tempat kejadian di mana sebuah mobil diberondong peluru lagi.

J memberi tahu R, kalau semua pekerjaan selesai dengan baik. Dia mengatakan akan kembali ke kantor segera.

J keluar dari tempat di mana dia dan sekretaris R makan siang dengan klien. Sekretaris R sudah pulang beberpa menit sebelum J menerima laporan dari bawahannya memaki mobil kantir, sementara J emmakai mobil pribadi.

Sekarang J turun ke lantai dasar gedung, dia masuk ke dalam sebuah coffee shop. Dia ingin melihat perkembangan kasus penembakan dan rumor yang beredar.

J memesan segelas kopi dingin tanpa gula, dan dua buah donat yang sudah pasti tidak kan dimakan olehnya, hanya sebagia teman kopi agar tidak terlihat berbeda dan terlalu sendiri,

Seorang pembawa acara berita yang tampil setiap jarum panjang menunjukkan pukul sekian nol-nol membacakan berita terbaru. Benar, itu mobil Am. Dalam seper sekian detik, J langsung bisa menebak kalau M-lah pemesan kekacauan.



Komentar