Bab 20. Monster Pembunuh
BLOG NURLAELI UMAR- J paham, yang tidak dia paham bagaimana mungkin M tahu
dan bisa memesan anak buahnya. J tidak mempercayai begitu saja, tentang hal
ini. Dia menghubungi seseorang untuk melacak nomor yang diberikan bawahannya
yang lain.
Tapi, tebakannya meleset pemesan ke dua ternyata bukan
M. Sekarang J ragu, jangan-jangan pemesan penembakan pertama bukan M, tapi
orang lain juga. Baru kali ini, anak buahnya tidak bisa mendeteksi dengan
benar, terutama pemesan penembakan mobilnya R. Atau sebenanya orang yang sama
dengan pemesan ke dua?
J bukan tidak paham alasan penembakan dua mobil sepasang
tunangan yang juga sahabatnya, tetapi sepertinya orang ini ingin membantu M
dengan caranya sendiri. Dia tidak ingin melibatkan M, tetapi ingin membantu M.
Ada laporan terbaru
yang masuk. J bernapas lega, ternyata pemesan penembakan mobil R berbeda dengan
pemesan penembakan mobil Am. Keduanya sama-sama perempuan. J menerima laporan
terkahir. Ternyata pemesanan penembakan terjadi satu jam sebelum kejadian. Dan,
itu bukan dilakukan anak buah J. Seseorang membunuh dengan memesan pembunuh
yang bekerja sendirian. Pemesan itu ternyata S.
Setahu J, S sama sekali tidak berhubungan dengan M.
Tapi, J tahu tujuan S adalah membantu M. Apa motifnya? Apakah S hanya memantau
kejadian pagi tadi, dan dia ingin main di air keruh, atua memang ingin membantu
M?
Am menelpon J, ketika J beranjak keluar dari coffee
shop.
‘’J aku ingin kau datang ke rumah, bisakah nanti
selepas kamu pulang kerja?’’
‘’Kau pulang atau di kantor sekarang?’’
‘’Aku baru keluar dan mau pulang. Kami berempat
pulang. Am diantar A, sementara Th pulang karena ada jadwal operasi.’’
‘’Kalau begitu pulang ke apartemenku saja. Aku akan
menenuimu di sana. Jangan ke mana-mana, karena aku juga kan pulang sekarang.’’
‘’Kau tidak bekerja karena aku?’’
‘’Aku sudah selesai dengan urusan kantor. Aku ada di
luar baru bertemu klien.’’
‘’Oke. Aku sudahi teleponnya dulu, aku akan ke sana
sekarang.’’
M langsung tancap gas setelah keluar dari area parkir,
sementara Am dan Th sudah pulang lebih dulu. Pengacara Am sudah datang
menggantikan Am mengurusi mobilnya yang kena tembakan.
M sampai di parkiran apartemen J, dan dia masuk dengan
mudah karena dia mengantongi kartu pengenal. J mendaftarkan M sebagai penghuni
room miliknya meski M lebih banyak tinggal di rumah J.
Begitu masuk ke room J dan rebahan di kasur, J menekan
bel, M bangun dan langsung berlari kea rah pintu. Begitu pintu terbuka M menghambur
ke pelukan J. Dia menangis sejadi-jadinya.
‘’Ada apa, Sayang?’’
J memeluk M dengan erat. Begitu tangisnya sedikit
mereda, ‘’Kita bicara, biarkan aku masuk dan kita duduk.’’ M emngangguk
menurut.
M melepaskan pelukan J, sementara J menutup pintu dia
kemudian berjalan cepat mememluk M dari arah belakang. M membalikkan badannya
dan J meonggarkan pelukannya. M emangsi lagi.
J mengeus kepala M dengan lembut. ‘’Bisakah kau angkat
aku ke kasur? Aku lelah J.’’
J mengangguk, dia membopong tubuh M dan meletakkannya
ke atas kasur. ‘’Aku di sini atau kau ingin sendiri?’’ tanya J sambil menatap
lembut mata M.
‘’Iya, kau harus berganti baju, setelah itu temani
aku. Aku akan mengatakan sesuatu kepadamu.’’
‘’Kalau kau tidak ingin aku tahu, simpan saja. Aku
akan selalu ada ketika kau benar atau kau salah. Aku bisa kamu andalakan.’’
M mengangguk. J melepaskan sepatu M dan
menyelimutinya. Dia membiarkan M tidur,sementara J mengganti pakaiannya. J tahu
pasti hari ini hari yang berat untuk kekasihnya. Dia akan menunggu M bangun dan
menceritakan beban di hatinya nanti.


Komentar
Posting Komentar