Bab 21. Monster Pembunuh
BLOG NURLAELI UMAR- J sudah berganti pakaian. Dia sekarang sedang membikin kopi untuk
dirinya sendiri. M tampak pulas. Kopi dibawa J ke meja depan TV. Dia menikmati
kopi bikinannya, tetapi dia tidak menyalakan televisi berukuran besar itu,
takut menganggu istirahat M.
Setelah menikmati kopinya dua sesapan, J bangun mengambi handphone yang tadi
dia letakkan di samping tempat tidur, di mana M beerbaring. Dia kembali lagi ke
sofa dengan meja kecil dan kopi di atasnya. Ada pesan yang masuk. Pesan dari X,
laki-laki penjual senjata.
Pesan dari X; Selamat malam! Apa kau ada waktu?
Jawaban dari J; Selamat malam! Apa yang bisa kulakukan untuk Anda?
Jawaban dari X; Seperti yang kita bicarakan di minimarket terakhir kali
kita bertemu. Ada beberapa senpi terbaru. Kurasa itu butuh dicoba.
Jawaban dari J; Kirimkan pembayarannya di awal. Aku akan meluncur
sekarang, untuk mengambilnya senpinya kurasa akhir minggu ini saja. Beri tahu
aku lokasinya.
Jawaban dari X; Hotel murah seperti di awal kita transaksi. Aku bosan
makan di restoran, kopi di café juga tak seenak bikinan koki di hotel itu. Kau
tahu, kadang menjadi pura-pura miskin selain uang kita utuh, rahasia bisa
terjamin. Baiklah akhir minggu ini, hubungi aku, nanati aku akan mengatur
jamnya.
J tertawa. Dia tidak menjawab pesan dari X lagi. Dia bangun dan berganti
baju. Dia memastikan M pulas. J mencium kening M dan berbisik, ‘’Aku keluar
sebentar. Tidurlah, Sayang! Kau aman di sini.’’
M masih tetap pulas, ketika J sudah rapi dengan dua pucuk pistol
miliknya. Dia keluar dan pergi turun
menuju parkiran. Lift turun lebih sepi dibanding arah naik. J sampai di
parkiran dan kemudian masuk ke dalam mobilnya.
Dia menelpon bawahannya yang mempunyai café. J memberi tugas untuk
melenyapkan seseorang. J menekankan agar dia bekerja sama dengan tiga yang
lainnya, tanpa masalah. J meminta agar pemilik café 24 jam itu bertugas
menembak saja, selebihnya tentang senjata dan penyelesaiaan akan dilakukan tiga
yang lain.
‘’Jadi saya, hanya mengeksekuis dia saja, Bos?’’
‘’Iya. Tiga peluru saja, dan pergi. Tidak usah memastikan apakah target
masih hidup atau tidak.’’
‘’Baiklah. Apa performa kerja saya kurang bagus, Bos?’’
‘’Tidak! Tapi, kali ini target adalah seseorang dengan banyak anak buah.
Kamu akan dihubungi dan ikuti cara kerjanya saja. Senjata akan dikirim,
pastikan tidak menggunakan senjata dan peluru yang biasanya kaupakai.’’
‘’Baiklah.’’
‘’Pastikan, hanya menembak ketika mendapat perintah. Setelah itu pergi
menjauh. Mungkin ini sedikit terbaca merendahlanmu, tetapi ini cara kerjanya.
Paham?’’
“’’Baiklah, Bos!’’
‘’Persiapkan fisikmu, dua hari lagi tugas itu akan tiba.’’
J menyalakan mesin mobilnya. Dia keluar dan menuju jalan raya. Dia masih
menerima telepon dari R. J hanya mengatakn kalau R sebaiknya tidak pergi ke bar
dulu, sampai keadaan aman.
Mobil J memasuki tol dalam kota, dia memacu mobilnya seperti seseorang
yang baru merasakan nikmatnya berkendara. Dia memacu mobilnya dengan kecepatan
tinggi, tetapi masih dalam kecepatan yang diizinkan.
Begitu sudah keluar dan masuk ke tol arah luar kota, setelah beberapa
menit J ternyata mengambil jalur yang keluar dari tol. Dia pergi menuju ke satu
tempat sepertinya. Kecepatan mobilnya dikurangi. Sampai dia akhirnya menuju
sebuah hotel.
J masuk dan tidak mendatangi resepsionis. Dia hanya masuk menanyakan di
mana letak café dalam hotel, dan kemudian duduk di sana. J tidak melakukan apa
pun, kecuali memesan minuman dan menikmatinya.
Ketika jam menunjukkan pukul 10 di mana pengunjung café mulai sepi. J
keluar dari café, dan berpapasan dengan seseorang. Dia seorang laki-laki. J
sengaja menabraknya sambil menghubungi seseorang dengan handphonenya. J sudah melihat sebelumnya
dan dia memang sengaja melakukan itu.
‘’Ups! Maaf!’’
J mengatakan itu dan laki-laki yang baru turun beberapa langkah dari mobilnya
terlihat tidak senang. Dia tidak mengatakn apa-apa. J mengatakn maaf lagi
sambil sedikit membungkuk. Ada seseorang yang mengikuti laki-laki itu dari
belakang. Dia bergerak maju dan hampir mencengkeram kerah baju J, tetapi
laki-laki itu menahannya dan memberi tanda jangan dengan sorot matanya.
Laki-laki yang ditabrak J membetulkan kerah bajunya, dan J mundur tiga
langkah. Laki-laki itu kemudian pergi begitu saja dengan pengawalnya. Baru
sekitar lima langkah J berbalik dan menembak keduanya, masing-masing satu peluru.
Hotel yang sepi. Suasana parkiran yang sama. Senjata mahal dengan
peredam yang bagus. J kemudian berjalan menuju kamera CCTV yan terasang tidak
jauh dari sana, dia menembaknya. Bukan J, kalau tidak bisa menembak dua kamera
yang lain dari jarak dia berdiri. Setelahnya J berjalan menuju mobilnya dan
keluar dari parkiran. Dia pergi begitu saja dengan santai.
J menepikan mobilnya sebelum kembali ke arah kota. Dia mengganti nomor
mobilnya. Setelahnya dia kembali ke apartemen seolah dia hanya keluar mencari angin.







Komentar
Posting Komentar