Setelah Itu Dia Tidak Ingin Pulang Lagi
Oleh; Nurlaeli Umar
BLOG NURAELI UMAR- Kematian berarti
perpisahan yang panjang. Entah berapa lama kita bisa bertemu lagi dengan mereka
yang mendahului pergi. Entah bisa bertemu lagi, entah tidak. Jadi, semasa bersama berikan yang terbaik yang kita bisa.
Mungkin, begitu seharusnya.
Isakan dan kabar dari kakak
perempuannya semalam di handphone itu membuatnya ada di tanah ini dengan tergesa. Semua itu
seperti kilat dari langit yang menyambar pohon, membuatnya tak bisa lagi
menahan kekerasan hatinya untuk tak pulang.
Jarak yang biasa ditempuh dalam tujuh jam itu
tiba-tiba menciut hampir setengahnya. Dia memacu mobilnya entah dengan kecepatan berapa, sehingga dalam
empat jam saja bisa membuatnya menyibak kerumunan di depan rumahnya yang
dipasang bendera kuning.
Ketiga kakak perempuannya menghambur
melihatnya datang. Mereka menuntunnya ke depan sebujur jenazah. Laki-laki itu
memucat, dia bahkan tak bisa menangis. Mungkin, karena teramat sedih. Beberapa
orang memang tak bisa menangis ketika rasa sedihnya melewati puncak.
Hanya dalam hitungan detik tubuhnya
jatuh pingsan. Tetapi, setelah jenazah kakaknya disalatkan dia bersikeras ikut
memanggul keranda sampai ke samping liang lahat. Hanya dia dan mendiang
kakaknya yang lelaki, tiga saudara yang lain perempuan.
Dia dan mendiang kakaknya itu hanya
terpaut tiga tahun. Tapi, baginya mendiang kakaknya itu lebih dari sekadar
kakak, dia juga adalah ayah, pengganti sosok yang menyusul ibunya pergi karena
melahirkannya, ketika dia belum genap berusia sepuluh tahun.
Istri mendiang kakaknnya hanya
melihatnya sekilas, dia dalam kesedihan yang membuatnya membisu. Laki-laki itu
membiarkan semua dan tidak ingin menghiburnya. Membiarkan perempuan itu
dikelilingi kerabat perempuan yang tak henti melantunkan doa.
Adakalanya, orang yang dirundung
kesedihan itu lebih baik dibiarkan sementara, menghiburnya justru akan membuat
kesedihan makin menyayat. Laki-laki itu sangat ahli dan paham untuk hal seperti
ini. Bahkan, dia sendiri butuh dua puluh tahun untuk menyendiri dan belajar tabah
menerima kesedihan.
Dua hari setelahnya dia masih di
sini. Di sebuah tempat semula berasal. Dengan semua yang tak sama lagi.
Orang-orang baru, anak-anak dengan wajah asing, dan kawan lama yang sudah
beranak pinak, tak muda lagi dan beruban.
Rumah-rumah di tanah ini tak lagi
sama, orang-orang yang dia kenal sebagian sudah tiada, sama seperti kedua
orangtuanya yang pergi berpulang jauh
sebelum dia meninggalkan tanah ini. Kesedihannya semakin begitu nampak, meski
dia mencoba bersikap tegar.
“Kau tidak terburu-buru, bukan?”
Laki-laki di seberang meja adalah
kawan masa kecil yang sekarang sudah mempunyai tiga anak dan satu menantu.
Mungkin setahun lagi dia mempunyai cucu.
“Tidak. Apa aku harus cepat kembali
ke kota, agar kau merasa nyaman?”
“Dua puluh tahun kau menghilang.
Minum kopimu, biar nyawamu kumpul dan sadar kalau kau pernah menghirup udara
dan meminum air dari sini!”
“Aku bukan tak pernah rindu, hanya
saja tak pernah ada waktu. Kau bayangkan saja, satu hari hanya dua puluh empat
jam, sedang jadwalku bertambah seiring detik. Aku bahkan tak pernah punya waktu
sekadar untuk membeli sepatuku sendiri.”
Laki-laki itu tertawa, seolah itu
adalah hal lucu. Dia mengambil gelas yang berisi kopi, menyesapnya sedikit,
lalu meletakkannya lagi.
“Kau menyebalkan, masih sama ketika
kita masih sekolah dulu. Bagaimana mungkin aku memintamu untuk tinggal lebih
lama? Kau sudah menjadi orang sukses, tak perlu desa ini lagi. Aku hanya
kawanmu, bahkan kakak-kakakmu saja tak bisa merayumu. Apa kau sadar, kau
merantau sekian lama dan baru kembali saat kakakmu mati?”
“Aku ....”
“Baiklah, terserah padamu. Aku tak
paham sesibuk apa duniamu. Bahkan, dengan penjelasanmu tadi. Aku pernah
mendengar dari kakakmu ketika keponakanmu disunat, kau sedang di Eropa, aku
juga pernah mendengar kau di China. Saat itu kau datang berupa bingkisan dan
amplop tebal yang diantar orang suruhanmu. Tapi, kenapa kau tak pernah ke sini?
Tak pernah rindu padaku sekalipun? Apa tanah di sini lebih jauh dari
negara-negara yang kausinggahi? Mungkin, sepiring singkong bakar tak pernah
memanggilmu, meski sebelum semuanya masuk ke perutku, aku selalu menyelipkan
namamu dalam doaku.”
“Kau benar, maafkan aku. Tapi, semua
bukan salahku. Seiring waktu semua berubah, bukan? Aku, kau, Waris, Anwar.
Mereka tak sama lagi, bukan?”
“Benar apa yang kau katakan. Tapi,
mereka ada di pemakaman kakakmu. Sesekali kami saling mengunjungi.”
“Wajar, mereka tinggal dekat sini.”
“Kau bahkan tidak tahu, jika Waris
usahanya bangkrut, untuk datang ke kota ini mesti berhutang, dan Anwar adalah
laki-laki dengan tongkat yang menyapamu dengan meraba wajahmu sambil menangis.”
“Dia?”
“Kau benar semua berubah. Tapi, aku
lebih tahu dari dirimu tentang dirimu sendiri. Kau masih sama seperti dulu,
hanya saja kau tak di sini. Kau masih suka mengorbankan dirimu untuk
kebahagiaan orang lain, kau masih orang yang peduli dengan keluarga, kudengar
kau rajin mengirimi keempat kakakmu.”
“Kau masih saja bermain tokoh
cenayang seperti dulu.”
“Tapi, dari semuanya hanya satu yang
salah. Kau! Kukira kau akan merindukan kita.”
“Maafkan aku tak sempat memperhatikan
kalian.”
“Bukan masalah, kita menjalani takdir
masing-masing, dan hidup di sana tidak lebih mudah dari di sini. Cukup bagi
kami kau memperhatikan keluargamu. Tapi, setidaknya datanglah, kami rindu. Ada
yang tak bisa dibeli dengan uang, begitu kata-katamu dulu.”
Seseorang datang memberitahukan
sesuatu. Pembicaraan selesai. Laki-laki itu berpamitan. Kopi di gelas miliknya
tadi masih terlihat penuh. Dia tadi menyesapnya pura[1]pura
saja. Mungkin karena masih terlalu panas. Kawan lama itu hanya menatapnya
dengan kepala penuh, banyak hal yang ingin dia katakan tapi tertahan.
Semua benar-benar berubah dan asing.
Tak ada yang menyapanya seperti dulu, kecuali hanya beberapa saja. Langkahnya
dipercepat, ada hal yang ingin dibahas. Kata dibahas itu begitu mengganggunya.
Dua kakak perempuannya sudah
menunggu. Istri mendiang kakaknya ikut duduk setelah menuang air putih di tiga
gelas yang sekarang ada di meja. Mata mereka masih sembab, kesedihan mereka
rasakan masih teramat sangat.
Pembicaraan tak lebih mengenai masa
depan ketiga anak dari mendiang kakaknya. Laki-laki itu menyanggupi beban yang sekarang
berpindah ke pundaknya.
Perempuan itu masih tetap sama. Masih
cantik, meski menua. Dia tak bicara sepatah kata pun semenjak laki-laki itu
datang. Bahkan, dia tidak mengeluh sama sekali, persis ketika dulu dia diminta
untuk menjadi kekasih kakaknya dan akhirnya menikah.
“Aku memintamu agar kau mau menikah
dengan kakakku. Dia sudah banyak berkorban untukku. Dia tidak pernah meminta
apapun kecuali ingin menjadi suamimu. Kau tahu kisah hidup kami lebih banyak
dari siapa pun. Kumohon!”
Sehari setelah hari pernikahan
kakaknya, laki-laki itu memilih pergi dan berjanji dalam hatinya untuk tidak
kembali. Ada yang teriris ketika mata mereka beradu. Ada rasa cemburu yang
membunuh ketika dia melihat kakaknya menggamit tangan perempuan itu.
“Aku tidak sepertimu yang kerap dikelilingi
gadis, yang bisa bicara dan tertawa renyah bersama mereka. Aku tak pernah punya
ketertarikan seperti itu sebelumnya. Hanya dengan mendengar suara tawanya saja
saat kalian bersenda gurau di beranda, aku merasa bahagia. Jadi kumohon,
biarkan dia menjadi istriku!”
Mungkin kakaknya benar, tidak ada
perempuan yang tidak jatuh cinta padanya, bahkan sampai hari ini, tetapi bagi
laki-laki itu hanya Ningrum yang bisa mengisi relung hatinya setelah ibu. Ibu yang
hanya bisa dikenalinya lewat foto-foto lama. Bersama Ningrum dunianya begitu
damai.
Laki-laki itu kembali ke rumah
kawannya setelah pembahasan selesai. Dia bahkan meminta izin untuk menginap di
sana saja. Awalnya kakaknya keberatan, akan tetapi akhirnya diperbolehkan
dengan banyak pertimbangan.
“Jadi, setelah ini kau akan pulang
sesekali ke sini, bukan?”
“Kau tuang saja airnya, cepat. Aku
tidak sabar menunggu kopi buatanmu.”
“Katakan padaku, agar aku tak
menunggu. Menunggu kopi buatanku tak selama menunggu jawabanmu.”
“Kau tahu? Bukan tak ada lagi rindu
pada tanah ini. Kerap kali kedatangan lebih baik ditunda daripada melahirkan
kesedihan-kesedihan.”
“Bagaimana kau akan sedih? Banyak
perempuan cantik yang mengelilingimu, dan kau tak perlu berlumpur agar bisa
menanak nasi seperti kami di sini.”
“Tapi, kau lebih kaya dariku.”
“Bagaimana mungkin?”
“Kau punya keluarga yang tidak dijual
di mana pun juga.”
Kesedihan-kesedihan itu hinggap dan
menetap di hatinya. Luka menyerahkan perempuan itu begitu dalam, bahkan meski
kakaknya sudah berpulang. Bagaimana mengatakan kepada perempuan itu bahwa dia
sangat-sangat mencintainya, sementara di sisi lain dia tak ingin melukai
kakaknya, bagaimana luka itu bahkan bertambah dengan melihat kenyataan
perempuan itu menjadi istri dan ibu yang baik bagi ketiga anak kakaknya, sementara
warna baju yang perempuan itu kenakan adalah warna favorit miliknya, merah tua.
Dia masih ingat benar, perempuan itu
lebih menyukai warna yang soft, sedangkan selama dia pulang, tak satu pun
terlihat warna kesukaan perempuan itu, atau bahkan warna kesukaan kakaknya di
pakaian yang perempuan itu pakai. Perempuan itu sepertinya sudah mengganti semua
baju miliknya dengan warna merah tua, hanya motifnya saja yang berbeda.
“Apa istri mendiang kakakmu sudah mau
berbicara denganmu?”
“Bagaimana kau tahu?”
“Aku melihatnya. Tidak ada orang lain
yang tahu hubungan kalian kecuali aku. Setelah kau pergi dia kerap kemari,
meminta penguatan. Tidak mudah baginya, tidak mudah juga bagimu. Tidak ada
pilihan lain kecuali menjadi istri yang baik, karena kakakmu sangat baik dan
mencintainya. Dia bisa membuktikan cintanya padamu dengan menjadi kakak ipar yang
baik, begitu aku menguatkan. Meski, dia masih mencintaimu dengan caranya
sendiri. Memakai baju warna kesukaanmu setelah kau pergi.”
“Aku tahu.”
“Tolong, jangan hakimi dia dengan
kata tidak mencintai kakakmu sepenuh hati. Dia
berjuang keras demi itu. Belum lagi
dia terus merasa bersalah karena kau tidak juga menikah.
Aku tidak menyalahkanmu.
Pengorbananmu bukan sedikit.”
“Aku akan menikah setelah ini. Aku
tidak akan menikahi dia, meski kakakku sudah berpulang. Aku tidak ingin
mengatur hidupnya lagi.”
“Dia pun. Kurasa dia sudah menutup
lukanya dengan menerima takdirnya.”
“Semoga.”
Seperti yang dia inginkan, hari ini
dia kembali ke kota. Dia akan kembali dengan agenda- agenda, angka-angka,
kesepakatan, neraca rugi-laba, kesibukan yang tak kenal waktu,
perempuan-perempuan cantik, dan persaingan. Tiga keponakan dari mendiang kakaknya
memeluknya erat. Empat keponakan yang lain, dua kakak perempuan, kawan lama, kakak
ipar laki-lakinya, sepupu, dan beberapa tetangga melepasnya pergi.
“Pulanglah sesekali, kami rindu.”
“Ini kopi dari kebunku. Pulanglah
sesekali, kita ngopi seperti dulu lagi. Jangan datang hanya ketika aku mati.”
Pelukan demi pelukan menjadi begitu
sedih, seperti permintaan yang menghiba.
Perempuan itu tidak ada. Mungkin,
kesedihan menyayatnya lagi. Mungkin, dia tidak ingin laki-laki itu pergi. Atau
bahkan, itu adalah restu jika kali ini laki-laki itu sebaiknya tidak perlu
kembali.
Mirip sebuah skenario yang adegannya
diatur sutradara, setelah pelukan yang terakhir muncullah dia. Dia memakai baju
terusan berwarna hijau muda, sebuah senyum menghiasi wajahnya. Dia bahkan tak
lagi membisu. Dengan lirih dia berkata, “Ini nasi untuk di jalan. Pergilah, dan
jangan pernah kembali, kecuali bersama istrimu. Aku adalah kakak iparmu, dan
kau adikku.”
“Aku akan kembali nanti.”
Laki-laki itu melaksanakan
kewajibannya menjamin ketiga keponaknnya, bahkan keponakan dari dua kakak
perempuannya di hari-hari setelah itu. Dia juga menikah seperti pinta mantan
kekasihnya yang menjadi kakak iparnya.
Komentar
Posting Komentar