Cerpen ini dibukukan dalam buku antologi cerpen Kekasih yang Takut Cacing terbitan Elex Media Komputindo
Menanam Pohon
Oleh: Nurlaeli Umar
BLOG NURLAELI UMAR- Ekosistem mengalami perusakan karena
polusi. Tingkat polusi yang kian meningkat dari waktu ke waktu. Dan kita tidak
bisa menyalahkan siapa-siapa dan juga tidak perlu begitu. Karena kita juga tanpa
disadari adalah pelaku.
Yang perlu kita lakukan adalah
mengurang tingkat polusi dan mencegah kerusakan ekosistem hingga tarafnya tidak
menjadi sangat berbahaya. Sebab semuanya akan berpebngaruh terhadap kualitas
hidup kita.
Jakarta, siapa yang tidak tahu jika
kota ini kota mempunyai tingkat polusi yang sangat tinggi, sebagian karena asap
karena kendaraan, sebagian lagi karena asap pabrik.
Sebenarnya Jakarta tidak hanya
mengalami polusi udara saja, tetapi polusi tanah juga polusi suara. Penyebabnya
adalah asap kendaraan bermotor yang lalu lalang dan membuat Jakarta macet dan bahkan
jumlahnya makin hari makin bertambah saja, atau asap dari pabrik-pabrik yang
sekarang ini banyak di relokasi keluar Jakarta, yang sebenarnya lebih terlihat seperti
memindahkan area polusi saja.
Perokok aktif merupakan penyumbang
polusi udara yang lumayan besar. Memang ini seperti bola salju yang kian hari
kian menggelembung besar. Menghentikan semua penyebab polusi itu jelas tidak
mungkin, karena industri, jumlah penduduk, kebutuhan hidup, lapangan kerja, mereka
saling berkaitan satu sama lain.
Belum lagi lahan hijau yang menjadi
penyumbang oksigen dan membantu menyerap karbondioksida banyak yang beralih
fungsi seperti mal, atau pun perumahan membuat polusi bertambah parah.
Akibat lain adalah kurangnya daerah
resapan karena permukaan tanah banyak tertutup oleh semen dan beton.
Idealnya itu ketika hujan sebagian
air meresap ke dalam tanah dan sebagian lagi mengalir melalui sungai. Karena
kurang daerah resapan makanya ketika hujan air berlimpah bahkan sampai banjir
dan menelan banyak kerugian, sememntara ketika kemarau air surut sehingga air
tanah tidak bisa diambil dan cenderung kekurangan air bersih secara merata.
Sebenarnya sih, berbagai kegiatan
sudah digalakan seperti penghijauan di sepanjang jalur hijau dan pemasyarakatan
lubang resapan biopori, yang bisa kita praktikan di lingkungan rumah kita.
Lubang resapan biopori itu sederhana tetapi sangat besar manfaatnya.
Ruang OSIS. “Pasti
aku lagi, deh!”
“Kamu kenapa, Vivian?”
Aku hanya mengedikan bahu, lalu
meninggalkan Heni. Aku melihat Arya melambaikan tangan dari lantai atas,
tepatnya ruang OSIS. Sebentar lagi pasti Heni akan mengejar langkahku, dan
benar saja, satu, dua, tiga …. “Vivian, tunggu!”
“Kemana, sih?”
“Biasa dipanggil Arya.”
“Memang ada apa?” tanya Heni sambil
menaiki anak tangga.
“Entahlah, mungkin ada yang ingin
dibicarakan denganku.”
“Lalu aku?”
“Kamu bisa tunggu pintu,” jawabku
sambil berlari menuju ruang tempat Arya tadi melambaikan tangan dari depannya.
Kuketuk pintu, Heni benar-benar
menunggu di depan pintu, lalu kutarik tangannya.
“Masuk! Apa-apaan sih.”
Arya mempersilakan kami berdua duduk.
Di dalam lumayan ramai, terutama oleh anak-anak yang kukenal dengan anggota
Pencinta Alam.
“Maaf kupanggil, karena ada sedikit
yang ingin kubicarakan.”
“Apa aku boleh mendengarkan, Arya?”
tanya Hesti tidak percaya diri, kurasa dia takut mengganggu.
Arya menjawabnya dengan tersenyum.
Hesti menjadi salah tingkah, dia terlihat beranjak bangun dari duduknya, dan
kucegah.
“Arya cuma bercanda.”
“Dengarkan untuk yang hadir di
ruangan ini, perkenalkan ini Vivian. Begini Vi, kemarin kita rapat sudah
dibentuk panitia dan kamu salah satunya. Kemarin kamu gak ikut karena Rika
sekretaris Osis mengabarkan bahwa kamu menjadi perwakilan untuk acara cerdas
cermat.”
“Maaf, tapi aku tidak bisa jika
acaranya naik gunung.”
“Memang kenapa?”
“Fisikku tidak sekuat yang kalian
lihat.”
“Kebetulan acaranya tidak harus naik
gunung, hanya membantu mensosialisasikan program pemerintah daerah yang digagas
Wali Kota kita. Pelestarian Daya Tampung Lingkungan Hidup ”
“Terun ke masyarakat?”
“Yang lain sudah tahu, dan nanti
ketua kelompok kerja akan memberimu arahan.”
Arya tersenyum sambil memberi tanda
dengan matanya agar aku bertanya kepada anggota Pencinta Alam untuk lebih
jelasnya.
Kesibukan di rumah. “Lho katanya mau
berenang, kok pagi-pagi sudah bawa tas?”
“Iya Bu, biar bekalnya kubawa untuk
ke sana saja.”
“Memang mu ke mana? Kegiatan
sekolah?”
“Mau jadi jurkam, Bu.”
“Hebat, dong anak ibu. Tapi memang
seharusnya kecerewetan kamu itu mesti disalurkan untuk hal-hal seperti itu.”
“Ah, Ibu.”
Tasku sudah terisi buku, pulpen, mukena dan bekal. Aku langsung mengambil tangan ibu, menciumnya lalu berpamitan. Dua pot bunga sebagai tanda ikut serta program ini kubawa, mereka menjadi teman dudukku di becak.
Acara penanaman pohon. Acara dimulai
setelah beberapa pengarahan dari guru dan panitia. Aku membantu mengarahkan penanaman
pohon-pohon hasil sumbangan dari pihak Wali Kota dan para siswa. Kami menananam
pohon-pohon dan bunga-bunga disepanjang jalur hijau dibantu oleh masyarakat.
Beberapa petugas dari yang didatangkan oleh pihak Wali Kota memperagakan cara
membuat lubang resapan biopori.
“Sepertinya kau tertarik dengan
pembuatan lubang resapan biopori itu.”
“Memang kenapa?”
“Karena tugasmu untuk menerangkan
kepada kami nanti.”
“Lihat saja sendiri.”
“Semua anak-anak tahu, kamu itu
bagian penerangan untuk program ini, dan kurasa besok kamu harus
menjelaskannya.”
Mengapa harus Lia, gadis istimewa
milik Arya yang sudah mengambil bungaku. Padahal jika perlu bisa saja dia
memintanya, tidak harus melalui Arya. Kurasa aku perlu membuat lubang biopori
itu di hatiku, untuk menampung air mataku, nantinya, agar tidak banjir karena
ulahnya.
Acara sudah selesai, aku mengumpulkan
semua teman-teman memberitahukan bahwa acara ditutup dan diperbolehkan pulang,
tapi sebelumnya dipersilakan mengambil konsumsi yang telah disediakan dengan
tertib.
“Kamu gak ngambil bagian konsumsimu,
Vi.”
“Gak Hes, aku bawa sendiri.”
“Gak suka makan bareng yang lain,
takut kena polusi ya?”
“Polusi? Tinggal tanam pohon dan
bunga seperti tadi selesai. Kurasa jatahnya kurang karena yang membantu cukup
banyak. Animo masyarakat ternyata keren, mereka sebenarnya peduli dan mengerti,
tapi butuh orang-orang yang memulai.”
“Mulai deh kampanye padahal ini jam
makan tahu.”
Aku dan Hesti tertawa bersama, lalu
kami makan bekal masing-masing. Semua mata terlihat puas, aku membaca
kegembiraan di wajah-wajah mereka meski lelah, kecuali wajahku, karena Arya tengah
berbagi makanan dengan Lia.
“Kenapa Vi, wajahmu tiba-tiba mirip
orang kena polusi.”
“Polusi apaan, kita lanjut makan,
kita pulang, biar besok ada tenaga buat berenang.”
Bunga untuk Lia.
Acara kemarin berlangsung seperti rencana, kecuali bunga yang diminta Arya
kepadaku ternyata diberikan kepada Lia.
“Kamu tahu Vi, kalau ternyata Lia itu
adalah mantan Arya?”
“Terserah, aku gak mau tahu. Aku
tidak diuntungkan apa pun karena mengetahui berita ini darimu.”
“Kok kamu sensi begitu, memangnya
kamu cemburu ya?”
“Cemburu?”
Mungkin, Hesti menafsirkan begitu
karena kejadiannya saat acara sudah selesai kemarin aku sempat terpeleset,
gara-gara menginjak tanah yang licin. Dan saat Arya hendak menolong, aku tanpa
sengaja mendorongnya, jadi kesannya aku menolak pertolongan Arya. Kebetulan
jatuh badanku mengenai Angga, dan Angga memelukku, membuat badan kami saling
bertumpuk jatuh.
Kurasa Hesti menghubungkannya dengan
sikap kesalku saat tahu aku sedikit tidak berminat melihat Arya berbagi makanan
dengan Lia.
Biarlah, yang penting alasanku tidak
menyukai Arya adalah karena bunga yang dia minta ternyata untuk Lia sebagai
tanda partisipasinya dalam acara kemarin.
“Vi … kamu gak cemburu kan?”
Hesti itu menyebalkan, aku memang
tidak cemburu, tapi kesal. Merasa dimanfaatkan!
“Ada Arya, kurasa aku duluan ya.”
“Baksomu sudah kau bayar, kan?”
“Tenang saja, belum, kau bayar saja
dulu, besok kuganti traktir.”
“Hesti ….”
Arya sudah duduk di depanku, kami
berhadapan dalam satu meja.
“Hari ini di jam istirahat ke dua, kamu bisa menerangkan dan memberi arahan tentang kemarin, kan?”
“Apa tidak ada orang lain, team kan
bukan aku saja.”
“Aku mau kamu, karena anak-anak
percaya kamu pandai, dan penjelasanmu lebih dimengerti oleh mereka.”
“Kalau semua acara aku tekel, kapan
yang lain bisa maju.”
Arya bangkit meninggalkanku, tanpa
memesan makanan dan mendengarkan penolakanku. Dia berjalan beberapa langkah.
Berbalik mendekatiku,” Jangan beralasan, kau tidak punya pilihan.
Kecuali kau mau menjadi pacarku.”
“Apa hubungannya? Sama sekali tidak
lucu!”
Arya benar-benar tidak ambil peduli.
Tinggal aku yang kesal sendiri. Mungkin dia tersinggung karena kemarin
tangannya kutepis? Dia merasa aku mempermalukannya, karena kejadian itu dilihat
oleh semua? Tapi mengapa harus dicampur-adukan dengan memberi penjelasan
sekaligu laporan tentang hasil kerja team kemarin? Dia benar-benar gak
professional! Hhh ….
Lia pingsan hari ini, kejadian yang
luar biasa mengagetkan! Arya kulihat ikut bersama team UKS sibuk hilir mudik
mengurusi segala sesuatunya. Dari ruang UKS ke ruang guru.
Untung saja acara penjelasan dan
laporan kepada seluruh siswa di lapangan sekolah sudah selesai.
Mungkin Lia merasa kelelahan sisa
kemarin dan panas yang sedikit menyengat. Sebagai anggota pengurus OSIS, aku
tentu saja berkesempatan untuk melihatnya terlebih dahulu dibanding anak- anak lainnya.
“Apa dia kelelahan Arya? Karena aku
menjelaskan terlalu lama?”
“Tidak ada yang salah denganmu Vi,
ini masalah lain.”
“Apa perlu memanggil orang tua dan
membawanya ke petugas medis?”
“Sudah dihubungi pihak orang tua, dan
katanya tidak perlu. Mereka akn menjemput.”
Aku mengangguk. Arya mungkin memang
dibutuhkan Lia dari pada kehadiranku, toh semuanya sudah beres.
“Jangan pergi, Vi … temani aku.”
Arya menarik tanganku, dia bahkan
menarikku sampai aku terduduk lagi.
“Apa Lia berarti bagimu, Arya? Kau
terlihat cemas sekali.”
“Aku butuh kau temani.”
“Tapi aku mau masuk kelas.”
“Pelajaran sudah habis bukan?
Penjelasanmu menghabiskan satu setengah jam pelajaran. Dan pihak guru memang
sudah membicarakan kebijaksanaan ini kok.”
Pihak keluarga Lia sudah datang, dia
pun sudah siuman. Mereka meninggalkan sekolah dan berkata bahwa semua baik-baik
saja, meski aku merasa ada yang disembunyikan.
Ada cinta di hatiku. Sore sudah menyapa, aku sedang duduk di beranda. Kalau kau bertanya tentang lingkungan, aku lah ahlinya. Rumahku asri dan aku adalah pecinta bunga. Kau boleh bertanya tentang bagaimana cara menanam dan merawat anggrek atau mawar. Tapi tidak perlu menanyakan kisah tentang bunga untuk Lia yang dipinta Arya dariku, Aku takut kesalku lama-lama menjadi cemburu.
Kalau kau bertanya apa
aku menyukai Arya? Akan kujawab, tidak! Karena Arya menyebalkan, karena Arya
selalu menciptakan jarak denganku, karena Arya bahkan memanfaatkanku meski
sekadar bunga. Padahal, di setiap acaranya aku adalah tim suksesnya.
Sore ini ada yang seru dan akan
kubagi denganmu, karena Arya mendatangiku sambil membawa potberisi tanaman yang
sudah lama ingin kukoleksi yaitu Kantung Semar.
“Ini yang kau inginkan, bukan?”
“Aku harus membayarnya dengan
secangkir es teh. Lalu memafkan karena bunga kemarin itu ternyata karena
berikan kepada Lia?”
“Bukan juga, ini karena aku cinta …,”
“Maksudmu?”
“Aku juga mencintai tanaman. Aku
pengkoleksi kaktus dan tanaman langka.”
“Owh, ternyata. Lia, bagaimana
kabarnya?”
“Kenapa kau bertanya padaku.”
“Kau kan mantannya.”
“Dia masa laluku. Dia pergi
meninggalkanku, tapi tidak salah bukan jika aku tetap berteman? Apa lagi dia
menderita penyakit jantung. Bukan karena kasihan, tapi karena aku tidak ingin
memelihara dendam.”
Aku merasa senang karena Arya
ternyata lebih baik dari yang kukira, dan hatinya masih kosong. Ah, aku jadi
bersemangat ingin menanam pohon karena cinta, kalau bisa pohon cinta di hati
Arya juga, nantinya.
Komentar
Posting Komentar