Cerpen 20. CERPEN TEENLIT

 Cerpen ini dibukukan dalam buku antologi cerpen Kekasih yang Takut Cacing terbitan Elex Media Komputindo


Menanam Pohon

Oleh: Nurlaeli Umar

BLOG NURLAELI UMAR- Ekosistem mengalami perusakan karena polusi. Tingkat polusi yang kian meningkat dari waktu ke waktu. Dan kita tidak bisa menyalahkan siapa-siapa dan juga tidak perlu begitu. Karena kita juga tanpa disadari adalah pelaku.

Yang perlu kita lakukan adalah mengurang tingkat polusi dan mencegah kerusakan ekosistem hingga tarafnya tidak menjadi sangat berbahaya. Sebab semuanya akan berpebngaruh terhadap kualitas hidup kita.



Jakarta, siapa yang tidak tahu jika kota ini kota mempunyai tingkat polusi yang sangat tinggi, sebagian karena asap karena kendaraan, sebagian lagi karena asap pabrik.

Sebenarnya Jakarta tidak hanya mengalami polusi udara saja, tetapi polusi tanah juga polusi suara. Penyebabnya adalah asap kendaraan bermotor yang lalu lalang dan membuat Jakarta macet dan bahkan jumlahnya makin hari makin bertambah saja, atau asap dari pabrik-pabrik yang sekarang ini banyak di relokasi keluar Jakarta, yang sebenarnya lebih terlihat seperti memindahkan area polusi saja.

Perokok aktif merupakan penyumbang polusi udara yang lumayan besar. Memang ini seperti bola salju yang kian hari kian menggelembung besar. Menghentikan semua penyebab polusi itu jelas tidak mungkin, karena industri, jumlah penduduk, kebutuhan hidup, lapangan kerja, mereka saling berkaitan satu sama lain.

Belum lagi lahan hijau yang menjadi penyumbang oksigen dan membantu menyerap karbondioksida banyak yang beralih fungsi seperti mal, atau pun perumahan membuat polusi bertambah parah.

Akibat lain adalah kurangnya daerah resapan karena permukaan tanah banyak tertutup oleh semen dan beton.

Idealnya itu ketika hujan sebagian air meresap ke dalam tanah dan sebagian lagi mengalir melalui sungai. Karena kurang daerah resapan makanya ketika hujan air berlimpah bahkan sampai banjir dan menelan banyak kerugian, sememntara ketika kemarau air surut sehingga air tanah tidak bisa diambil dan cenderung kekurangan air bersih secara merata.

Sebenarnya sih, berbagai kegiatan sudah digalakan seperti penghijauan di sepanjang jalur hijau dan pemasyarakatan lubang resapan biopori, yang bisa kita praktikan di lingkungan rumah kita. Lubang resapan biopori itu sederhana tetapi sangat besar manfaatnya.

Ruang OSIS. “Pasti aku lagi, deh!”

“Kamu kenapa, Vivian?”

Aku hanya mengedikan bahu, lalu meninggalkan Heni. Aku melihat Arya melambaikan tangan dari lantai atas, tepatnya ruang OSIS. Sebentar lagi pasti Heni akan mengejar langkahku, dan benar saja, satu, dua, tiga …. “Vivian, tunggu!”

“Kemana, sih?”

“Biasa dipanggil Arya.”

“Memang ada apa?” tanya Heni sambil menaiki anak tangga.

“Entahlah, mungkin ada yang ingin dibicarakan denganku.”

“Lalu aku?”

“Kamu bisa tunggu pintu,” jawabku sambil berlari menuju ruang tempat Arya tadi melambaikan tangan dari depannya.

Kuketuk pintu, Heni benar-benar menunggu di depan pintu, lalu kutarik tangannya.

“Masuk! Apa-apaan sih.”

Arya mempersilakan kami berdua duduk. Di dalam lumayan ramai, terutama oleh anak-anak yang kukenal dengan anggota Pencinta Alam.

“Maaf kupanggil, karena ada sedikit yang ingin kubicarakan.”

“Apa aku boleh mendengarkan, Arya?” tanya Hesti tidak percaya diri, kurasa dia takut mengganggu.

Arya menjawabnya dengan tersenyum. Hesti menjadi salah tingkah, dia terlihat beranjak bangun dari duduknya, dan kucegah.

“Arya cuma bercanda.”

“Dengarkan untuk yang hadir di ruangan ini, perkenalkan ini Vivian. Begini Vi, kemarin kita rapat sudah dibentuk panitia dan kamu salah satunya. Kemarin kamu gak ikut karena Rika sekretaris Osis mengabarkan bahwa kamu menjadi perwakilan untuk acara cerdas cermat.”

“Maaf, tapi aku tidak bisa jika acaranya naik gunung.”

“Memang kenapa?”

“Fisikku tidak sekuat yang kalian lihat.”

“Kebetulan acaranya tidak harus naik gunung, hanya membantu mensosialisasikan program pemerintah daerah yang digagas Wali Kota kita. Pelestarian Daya Tampung Lingkungan Hidup ”

“Terun ke masyarakat?”

“Yang lain sudah tahu, dan nanti ketua kelompok kerja akan memberimu arahan.”

Arya tersenyum sambil memberi tanda dengan matanya agar aku bertanya kepada anggota Pencinta Alam untuk lebih jelasnya.

Kesibukan di rumah. “Lho katanya mau berenang, kok pagi-pagi sudah bawa tas?”

“Iya Bu, biar bekalnya kubawa untuk ke sana saja.”

“Memang mu ke mana? Kegiatan sekolah?”

“Mau jadi jurkam, Bu.”

“Hebat, dong anak ibu. Tapi memang seharusnya kecerewetan kamu itu mesti disalurkan untuk hal-hal seperti itu.”

“Ah, Ibu.”

Tasku sudah terisi buku, pulpen, mukena dan bekal. Aku langsung mengambil tangan ibu, menciumnya lalu berpamitan. Dua pot bunga sebagai tanda ikut serta program ini kubawa, mereka menjadi teman dudukku di becak.

Acara penanaman pohon. Acara dimulai setelah beberapa pengarahan dari guru dan panitia. Aku membantu mengarahkan penanaman pohon-pohon hasil sumbangan dari pihak Wali Kota dan para siswa. Kami menananam pohon-pohon dan bunga-bunga disepanjang jalur hijau dibantu oleh masyarakat. Beberapa petugas dari yang didatangkan oleh pihak Wali Kota memperagakan cara membuat lubang resapan biopori.

“Sepertinya kau tertarik dengan pembuatan lubang resapan biopori itu.”

“Memang kenapa?”

“Karena tugasmu untuk menerangkan kepada kami nanti.”

“Lihat saja sendiri.”

“Semua anak-anak tahu, kamu itu bagian penerangan untuk program ini, dan kurasa besok kamu harus menjelaskannya.”

Mengapa harus Lia, gadis istimewa milik Arya yang sudah mengambil bungaku. Padahal jika perlu bisa saja dia memintanya, tidak harus melalui Arya. Kurasa aku perlu membuat lubang biopori itu di hatiku, untuk menampung air mataku, nantinya, agar tidak banjir karena ulahnya.

Acara sudah selesai, aku mengumpulkan semua teman-teman memberitahukan bahwa acara ditutup dan diperbolehkan pulang, tapi sebelumnya dipersilakan mengambil konsumsi yang telah disediakan dengan tertib.

“Kamu gak ngambil bagian konsumsimu, Vi.”

“Gak Hes, aku bawa sendiri.”

“Gak suka makan bareng yang lain, takut kena polusi ya?”

“Polusi? Tinggal tanam pohon dan bunga seperti tadi selesai. Kurasa jatahnya kurang karena yang membantu cukup banyak. Animo masyarakat ternyata keren, mereka sebenarnya peduli dan mengerti, tapi butuh orang-orang yang memulai.”

“Mulai deh kampanye padahal ini jam makan tahu.”

Aku dan Hesti tertawa bersama, lalu kami makan bekal masing-masing. Semua mata terlihat puas, aku membaca kegembiraan di wajah-wajah mereka meski lelah, kecuali wajahku, karena Arya tengah berbagi makanan dengan Lia.

“Kenapa Vi, wajahmu tiba-tiba mirip orang kena polusi.”

“Polusi apaan, kita lanjut makan, kita pulang, biar besok ada tenaga buat berenang.”

Bunga untuk Lia. Acara kemarin berlangsung seperti rencana, kecuali bunga yang diminta Arya kepadaku ternyata diberikan kepada Lia.

“Kamu tahu Vi, kalau ternyata Lia itu adalah mantan Arya?”

“Terserah, aku gak mau tahu. Aku tidak diuntungkan apa pun karena mengetahui berita ini darimu.”

“Kok kamu sensi begitu, memangnya kamu cemburu ya?”

“Cemburu?”

Mungkin, Hesti menafsirkan begitu karena kejadiannya saat acara sudah selesai kemarin aku sempat terpeleset, gara-gara menginjak tanah yang licin. Dan saat Arya hendak menolong, aku tanpa sengaja mendorongnya, jadi kesannya aku menolak pertolongan Arya. Kebetulan jatuh badanku mengenai Angga, dan Angga memelukku, membuat badan kami saling bertumpuk jatuh.

Kurasa Hesti menghubungkannya dengan sikap kesalku saat tahu aku sedikit tidak berminat melihat Arya berbagi makanan dengan Lia.

Biarlah, yang penting alasanku tidak menyukai Arya adalah karena bunga yang dia minta ternyata untuk Lia sebagai tanda partisipasinya dalam acara kemarin.

“Vi … kamu gak cemburu kan?”

Hesti itu menyebalkan, aku memang tidak cemburu, tapi kesal. Merasa dimanfaatkan!

“Ada Arya, kurasa aku duluan ya.”

“Baksomu sudah kau bayar, kan?”

“Tenang saja, belum, kau bayar saja dulu, besok kuganti traktir.”

“Hesti ….”

Arya sudah duduk di depanku, kami berhadapan dalam satu meja.

“Hari ini di jam istirahat ke dua, kamu bisa menerangkan dan memberi arahan tentang kemarin, kan?”

“Apa tidak ada orang lain, team kan bukan aku saja.”

“Aku mau kamu, karena anak-anak percaya kamu pandai, dan penjelasanmu lebih dimengerti oleh mereka.”

“Kalau semua acara aku tekel, kapan yang lain bisa maju.”

Arya bangkit meninggalkanku, tanpa memesan makanan dan mendengarkan penolakanku. Dia berjalan beberapa langkah. Berbalik mendekatiku,” Jangan beralasan, kau tidak punya pilihan.

Kecuali kau mau menjadi pacarku.”

“Apa hubungannya? Sama sekali tidak lucu!”

Arya benar-benar tidak ambil peduli. Tinggal aku yang kesal sendiri. Mungkin dia tersinggung karena kemarin tangannya kutepis? Dia merasa aku mempermalukannya, karena kejadian itu dilihat oleh semua? Tapi mengapa harus dicampur-adukan dengan memberi penjelasan sekaligu laporan tentang hasil kerja team kemarin? Dia benar-benar gak professional! Hhh ….

Lia pingsan hari ini, kejadian yang luar biasa mengagetkan! Arya kulihat ikut bersama team UKS sibuk hilir mudik mengurusi segala sesuatunya. Dari ruang UKS ke ruang guru.

Untung saja acara penjelasan dan laporan kepada seluruh siswa di lapangan sekolah sudah selesai.

Mungkin Lia merasa kelelahan sisa kemarin dan panas yang sedikit menyengat. Sebagai anggota pengurus OSIS, aku tentu saja berkesempatan untuk melihatnya terlebih dahulu dibanding anak- anak lainnya.

“Apa dia kelelahan Arya? Karena aku menjelaskan terlalu lama?”

“Tidak ada yang salah denganmu Vi, ini masalah lain.”

“Apa perlu memanggil orang tua dan membawanya ke petugas medis?”

“Sudah dihubungi pihak orang tua, dan katanya tidak perlu. Mereka akn menjemput.”

Aku mengangguk. Arya mungkin memang dibutuhkan Lia dari pada kehadiranku, toh semuanya sudah beres.

“Jangan pergi, Vi … temani aku.”

Arya menarik tanganku, dia bahkan menarikku sampai aku terduduk lagi.

“Apa Lia berarti bagimu, Arya? Kau terlihat cemas sekali.”

“Aku butuh kau temani.”

“Tapi aku mau masuk kelas.”

“Pelajaran sudah habis bukan? Penjelasanmu menghabiskan satu setengah jam pelajaran. Dan pihak guru memang sudah membicarakan kebijaksanaan ini kok.”

Pihak keluarga Lia sudah datang, dia pun sudah siuman. Mereka meninggalkan sekolah dan berkata bahwa semua baik-baik saja, meski aku merasa ada yang disembunyikan.

Ada cinta di hatiku. Sore sudah menyapa, aku sedang duduk di beranda. Kalau kau bertanya tentang lingkungan, aku lah ahlinya. Rumahku asri dan aku adalah pecinta bunga. Kau boleh bertanya tentang bagaimana cara menanam dan merawat anggrek atau mawar. Tapi tidak perlu menanyakan kisah tentang bunga untuk Lia yang dipinta Arya dariku, Aku takut kesalku lama-lama menjadi cemburu. 

Kalau kau bertanya apa aku menyukai Arya? Akan kujawab, tidak! Karena Arya menyebalkan, karena Arya selalu menciptakan jarak denganku, karena Arya bahkan memanfaatkanku meski sekadar bunga. Padahal, di setiap acaranya aku adalah tim suksesnya.

Sore ini ada yang seru dan akan kubagi denganmu, karena Arya mendatangiku sambil membawa potberisi tanaman yang sudah lama ingin kukoleksi yaitu Kantung Semar.

“Ini yang kau inginkan, bukan?”

“Aku harus membayarnya dengan secangkir es teh. Lalu memafkan karena bunga kemarin itu ternyata karena berikan kepada Lia?”

“Bukan juga, ini karena aku cinta …,”

“Maksudmu?”

“Aku juga mencintai tanaman. Aku pengkoleksi kaktus dan tanaman langka.”

“Owh, ternyata. Lia, bagaimana kabarnya?”

“Kenapa kau bertanya padaku.”

“Kau kan mantannya.”

“Dia masa laluku. Dia pergi meninggalkanku, tapi tidak salah bukan jika aku tetap berteman? Apa lagi dia menderita penyakit jantung. Bukan karena kasihan, tapi karena aku tidak ingin memelihara dendam.”

Aku merasa senang karena Arya ternyata lebih baik dari yang kukira, dan hatinya masih kosong. Ah, aku jadi bersemangat ingin menanam pohon karena cinta, kalau bisa pohon cinta di hati Arya juga, nantinya.



 

 

Komentar