Novel Monster Pembunuh Bab 22

 


Bab 22.

BLOG NURLAELI UMAR- J tidak langsung naik ke roomnya. Dia berjalan ke arah super market 24 jam, masuk dan menarik troly. Dia berjalan ke bagian sayuran dan buah-buahan. Ada M di roomnya, dia tahu benar M lebih suka sarapan dengan jus, tidak sepertinya yang penggemar kopi.

J membeli sayuran, apel, jeruk dan pir, lalu roti, susu, dan beberapa toples selai. J selalu ingin begini di rumahnya atau di room apartemennya, tetapi banyak hal yang dia rahasiakan dari M, dan sebaiknya M tidak terlalu banyak tahu. J hanya ingin M tahu kalau dia adalah J yang pekerja dan pengusaha saja.

Ada untungnya bagi J tentang M yang belum merasa siap dinikahi. J tidak mempermasalahkannya selama M tidak pergi ke lain hati. J mencukupi semua yang M inginkan dan perlukan. J bahkan tidakmmerasa terancam, meski M kerap bertemu dengan T, A, dan R yang sahabatnya mengincar M untuk dijadikan kekasih.

J bergegas naik setelah membayar semuanya di kasir. Benar saja ketika dia sudah masuk ke roomnya, M masih tertidur pulas. J meletakkan barang belanjaannya ke dalam kulkas. Dia duduk di sofa sambil menyalakan televisi setelah membersihkan diri di kamar mandi.Tidak ada kopi, J sudah merasa cukup minum kopi tadi sebelum menhabisi dua orang dengan senapan miliknya. Kali ini hanya segelas air putih dingin saja yang menemaninya.

Sebuah berita muncul di televisi, terjadi pembunuhan di depan sebuah hotel. Lebih tepatnya seorang bos besar dan pengawal pribadinya. J memperhatikan semuanya dengan sikap biasa saja. J meraih handphonenya yang tadi diletakkan di meja. Dia mengirim pesan; Sudah selesai. Seseorang yang dikirimi pesan membalasnya dengan; Oke.

J menerima pesan dari seseorang yang lain. Seseorang itu meminta J untuk melihat pesanan kematian yang sudah dia kirimkan. J menjawab dengan pesan bahwa mala mini dia tidak bisa membuka laptopnya. Sedang malas saja.

Tidak lucu jika nanti M terbangun dan mendapati J sedang membuka email atau pesan dari seseorang yang dia percaya perihal pesanan untukmmenghilangkan nyawa. J tahu dia akan membutuhkan waktu lama dan sedikit percakapan dengan seseorang itu.

Seseorang di sana mengiyakan saja, tugasnya sudah selesai, dan semua terserah J saja. Seseorang itu tidak punya kuasa atas semua orderan yang masuk. Dia hanya merespon dan kemudian meneruskannya kepada J. Tentang siapa yang akan J perintahkan, bayaran, resiko semua J yang atur dan urus.

J tidur di sofa setelah mematikan televisi. Dia enggan mengganggu M. Dan, J bangun setelah sebuah suara lembut terdengar begitu dekat di telinganya, ‘’J, Sayang, bangun! Sarapan sudah siap.’’

J membuka matanya. Dia tersenyum dan M mengangguk. M sudah cantik dan sarapan sudah siap. ‘’Maafkan aku J, seharsnya aku yang belanja. Aku semlaam tidur terlalu pulas.’’



‘’Iya. Kurasa kau juga harus menginap di sini, smapai kau merasa tenang. Atau kau pindah saja.’’

‘’J rumahmu juga butuh sentuhan perempuan. Aku tidak akan menginap malam nanti. Aku baik-baik saja. Aku bisa mengandalkanmu.’’



J bangun dan duduk. ‘’Aku akan mandi terlebih dulu. Kau nikmati sarapanmu. Aku akan menyusul setelah mandi.’’

‘’Baiklah.’’



M menyalakn televisi. Pembawa berita mengulang pemberitaan semalam. Setelah kejadian di apartemen Am, lalau mobil Am diberondong peluru, sekarang dua orang yang lain mati semalam. M memeprhatikan berita dengan seksama.



‘’Kau sebaiknya tidak melihat berita seperti itu. Apa tidak ada saluran musik? Sepagi ini berita seperti itu mengganggu acara sarapan pagi.’’

‘’Tapi, J, aku masih bingung, bagaiman bisa dua orang terbunuh dalam tembakan jarak dekat seperyi itu tanpa perlawanan. Apa gunanay pengawal prinadi?’’



J menatap layar televisi. ‘’Apa polisi sudah mengidentifikasi kalau mereka ditembak dalam jarak dekat?’’

M mengangguk. J membalas dengan mengangguk-angguk seolah ikut mempertanyakan hal yang sama dan setuju dengan kebingungan M.



‘’Mungkin itu bukan pengawal, tetapi sopir pribadi. Bisa begitu, kan?’’

‘’Tapi, sopir pribadi tidak mengikuti bosnya. Supir biasanya hanya menunggu bos di dekat mobil saja.’’

Jack tertawa kecil. “’Kau itu. Aku ingin minum kopi buatanmu. Kenapa jusmu masih utuh?”



Jack mendekat ke samping duduk M, dia mengulurkan tangannya. M bangun dan mendekat. J merengkuhnya dan memeluknya erat. ‘’Kalau kau masih takut, jangan bekerja dulu. Di sini saja. Atau kalua perlu aku meliburkan diri sehari ini. Bagiamana?’’



M menggeleng dalam pelukan J. ‘’Aku keasihmu J. Aku bisa mengandalkanmu. Aku akan baik-baik saja.’’

Merka berpelukan agak lama, dan setelahnya mereka duduk bersisian.



‘’J apakah mungkin A yang menyewa penembak mobil R? Tetapi kalau A yang menyewa penembak itu karena marah, kenapa setelahnya mobil A yang diberondong peluru? Adakah orang lain yang terlibat di dalamnya, O mungkin? Lalu, apa motifnya?’’



J menarik napas panjang sambil mengangguk-angguk. ‘’A juga mungkin akan berpikir kamu yang menyewa orang yang memberondong mobil R, ata bahkan aku. Bisa saja pemikiran itu ada, bukan?’’

M mengangguk. Apa yang J katakan benar.

‘’Lalu, ini semua akan mengadu domba kita? Apakah O terlibat dan tahu, lalu apa motifnya? Bagaimana kalau ternyata orang lain? Bukankah polisi belum bisa menemukan siapa pelaku dan dalang di balik semuanya?’’

 


 

 

 

Komentar