NOVEL SENDIRI DULU (Prolog)

 


PROLOG

BLOG NURLAELI UMAR- Pagi yang semangat. Taman di perumahan mewah ini ramai. Semua tumplek blek jadi satu.

Di lapangan basket ibu-ibu yang aerobik apalagi, instrukturnya yang kemayu bikin suasana seru. Ada yang main bulutangkis, main bola, ada yang cuma jalan-jalan atau makanan di kantin. Kantin selalu penuh, mungkin mereka memang datang kemari sebenarnya buat cari sarapan.

Ini termasuk kelompok yang lumayan banyak juga, datang cuma buat nonton semua kegiatan di sini. Datang pakai motor dan tetap berada di atasnya, cuci mata lalu pulang.


Cukup luas untuk sebuah taman di ibu kota yang padat. Sebuah kebaikan dari pengembang yang jujur lebih banyak dimanfaatkan oleh orang dari luar perumahan. Meski, kelihatan beberapa dari mereka yang merupakan warga perumahan elite ini. Jangan ditanya gimana membedakannya

Di sisi sebelah timur ada klub karate sibuk berlatih, di sisi barat banyak terlihat seragam putih juga. Mereka anggota taekwondo. Sekilas kalau gak paham akan terlihat sama seperti klub yang berada di sisi timur, tapi kalau diperhatikan dari detail seragam dan tulisan di punggung juga di dada sebelah kiri atas, mereka dua aliran bela diri yang berbeda.


Di sisi barat. Photo berukuran enam kali delapan itu dikasih ke Tifa. Dia memandang lurus ke arah pemberinya dengan tatapan gak ngerti.

“Ini orang yang gue, eh … saya maksud kemarin.”

Musik yang cukup keras dari bagian aerobik dan beberapa yang koor dari arah kantin--anak-anak Vespa karena kelihatan banyak Vespa di parkiran depan kantin yang lagi gitaraan—bikin kalimat itu gak terdengar Tifa.


Kening Tifa terlihat sedikit berkerut, membuat pemberi photo itu mengulang kalimatnya dengan sedikit lebih keras.

“Tapi ukurannya dan warnanya gak sesuai dengan persyaratan.”

Kalimat itu keluar menanggapi dengan volume yang sama.


Hari ini ada acara latihan gabungan, ada dojang lain yang datang. Menjelang kejuaraan memang sering diadakan kunjungan persahabatan buat mengukur kemampuan dan mencari titik lemah yang harus diminimalkan.

Kejuaraan dengan perolehan medali lebih banyak akan membuat satu dojang unggul dibanding dojang lain. Selain mendapat kehormatan, mereka akan menarik anggota baru lebih banyak.

Cowok yang terlihat seumuran dengan Tifa itu sekarang tertawa, gigi putihnya terlihat, dan kepalanya menggeleng memberitahu ada sesuatu yang salah.


Nilai delapan itu pantas, dia tinggi dan berwajah lumayan. Dari sabuk yang dikenakan dia junior, kuning strip hijau satu, sedangkan Tifa bersabuk hitam.

“Seonbae, maaf ini bukan peserta yang akan ikut kejuaraan besok.”

“Lalu?”

“Seonbae, ini teman saya dari klub lain. Orang yang ingin ….”


Tifa menoleh ke arah lain, dia melihat seseorang melambaikan tangan dari kejauhan. Sesi pemanasan akan segera dimulai.

“Maaf, nanti aku urus lagi, ya? Ayo kita bergabung! Photo ini akan kusimpan, hari ini akan lumayan sibuk karena harus menjamu klub lain.”

Pembicaraan harus ditunda, terlihat sedikit kecewa di wajah junior yang tampan itu.***




 

 

Komentar