SENDIRI DULU (satu)

 


SATU

BLOG NURLAELI UMAR- “Tifa, gimana photo yang aku kasih kemarin?”

Randi berusaha menjajari langkah Tifa. Pertanyaan yang dilontarkannya itu gak terdengar di telinga cewek yang baru saja memasuki gerbang sekolah dan tengah menikmati ‘Menemukanmu’ milik Seventeen dari earphonenya.


           Dia menyentuh lengan kanan cewek itu dan membuatnya membuka earphone. Ayunan kaki cewek itu terhenti. Dia menoleh.

“Ada apa loe?” tanya Tifa kepada anak cowok itu.

“Photo yang aku kasih kemarin.”

Kening cewek itu berkerut, matanya memandangi cowok yang berada di sisi kanannya dari atas sampai bawah berulang-ulang dengan mata menyelidik.


“Kenapa?” tanya anak cowok itu dengan sedikit heran.

Sepertinya cewek dihadapannya sedikit bingung atau malah lupa sama sekali kejadian kemarin. Randi merasa serba salah sendiri melihat reaksi Tifa, dia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

“Gak, tapi ….” Jawaban itu menggantung, membuat Randi penasaran.

“Gue ganteng hari ini?” tanya Randi mencoba menebak kemungkinan dari reaksi Tifa yang gak biasanya.

Biasanya cewek di depannya itu cepat tanggap, bahkan bisa disebut super kilat untuk kecepatannya merespon sesuatu, siapa yang gak tahu keenceran otak cewek yang juga sabeum taekwondo itu.

“Bukan, cuma aneh aja, gak biasanya loe pakai kata aku,” terang Tifa sambil nyengir. Cewek itu ngeloyor meninggalkan Randi yang bengong.

“Gila loe, Tif! Kirain …. Reaksi loe itu bikin gue speleng pagi-pagi. Lagian sih, ribet banget.. Kenapa loe mesti jadi senior gue sih? Aku-kamu-saya, dan kemarin gue setengah mati mesti bilang saya.” Randi mengejar cewek itu dan merasa kecele.

“Tapi itu bukan salah gue tahu!” jelas Tifa setelah Randi berhasil menjajari langkahnya.

Cowok itu mengangguk-anggukan kepala, ”Iya gue ngerti, tapi gak enak aja, habis biasa loe-gue di kelas. Jadi ngerasa ada sedikit jarak.”

Komentar