SENDIRI DULU (tiga)

 


TIGA

BLOG NURLAELI UMAR- “Jadi penghuni tas gue. Tapi bukan tas yang ini, tas yang gue bawa buat latihan. Tadinya sih niat mau gue balikin. Tapi lihat tampang loe kusut gitu, gak jadi deh.”

“Terima kasih, Seonbae, hyungrye!” Randi berhenti lalu bersikap memberi hormat dengan membungkuk gaya taekwondo.

“Dasar loe, ini bukan di dojang, kita sepantaran di sini. Basi!” Sebuah tinju Tifa melayang pelan ke arah lengan atas lawan bicaranya.

“Sakit, gila! Dasar pendekar!”

“Apa kata loe?”

“Pendekar, pendek dan kekar!”

Anak cowok itu berlari mendahului sengaja meledek Tifa dan mencoba untuk gak dapat tinju ke dua.

“Awas ya!” ujar Tifa sambil mengepalkan tangan di depan mukanya. Dia gak ngejar Randi, tetap berjalan dan sedikit tertawa kecil.

“Awas apa? Iya deh, gue angkat tangan, ampun … ampun Sabeum!”

Cowok berhenti gak begitu jauh, hanya sekitar enam langkah, kemudian mengangakat kedua tangannya dan bersikap membungkuk memberi hormat tanda menyerah.

“Dasar jelek! Udah ah, apa-apaan lagi.”

Mereka berdua tertawa. Akhirnya kaki-kaki mereka sampai di ruang kelas XI. Percakapan selesai.

***

Jam istirahat. Randi, nama lengkap anak lelaki itu adalah Randi Dewana. Siapa yang gak kenal dia. Dengan tinggi menjulang sekitar seratus tujuh puluh, kulit bersih dan otak encer, karena meski baru menginjak semester kedua masuk di sekolah ini, dia sudah menyumbang dua medali di kejuaraan KIR antar SMA se-DKI, ramah sudah pasti, dan yang paling menonjol adalah dia termasuk dalam daftar cowok yang pantang buat gak diacuhkan.

“Ajari aku matematika ya, Ran. Please!”

 

Komentar