Puisi 41. Kisahku Sebelum Akhirnya Aku Denganmu Saja

 


Kisahku Sebelum Akhirnya Aku Denganmu Saja

Jakardah, 110724

 

Kau dengarkan aku, karena aku tak ingin kau mendengarnya dari orang lain.

Kau tahu benar, baik buruknya aku tergantung siapa yang bicara dengamu.

Kalau dia pijar aku akan terang di matamu,

Kalau dia gelap aku akan hitam di pikiranmu.

 


Aku dengannya sebelum kau menjadi teman minum kopiku,

Adalah kesalahan yang kubuat dalam hidupku.

Semua kuterima, kututup rapat.

Sebab apa yang kuperbuat adalah apa yang kudapat.

 


Ternyata garis tangan menentang prinsipku.

Dia tak cukup baik untuk tanganku.

Padahal lukanya aku yang sembuhkan, aibnya aku yang tutupkan.

Tangan lain datang merebut dia dari tanganku, terpaksa kulepaskan.

 


Aku tidak terluka, sekaligus terluka.

Aku tidak terluka karena dia akhirnya bertemu tangan yang lebih baik dari tanganku.

Aku terluka, karena aku tahu tangan yang merebutnya pasti akan terluka karena duri dari diaku.

Atau terkena racun dari bisanya yang selama ini sudah membusukkan jemariku.

 


Akhirnya kau hadir seperti saat ini.

Menemaniku menghabiskan secangkir kopi,

untuk cangkir berikutnya esok hari.

Sebuah upacara sederhana sebelum aku menjadi diriku, dan  kau menjadi dirimu.

 


Kau tak perlu menanyakan apakah aku dendam atau tidak dengan kisahku.

Karena sejujurnya apa yang terbaik sudah datang.

Yang tidak baik memang sebaiknya pergi.

Soal dendam, aku angkat tangan, kasihan karma nanti pekerjaannya hilang.


Image; https://id.pinterest.com/pin/308567011985867747/

 

Komentar