Puisi 44. Ini Tentang Teman Baruku yang Bukan Kamu

 




Ini Tentang Teman Baruku yang Bukan Kamu

Jakardah, 120724

 

BLOG NURLAELI UMAR- Semalam aku terlalu lelah dan bosan untuk menghubungimu.

Bukankah kita tetap terhubung, meski tanpa telepon gengggam dan segala apa yang ada di dalamnya.

Kita terhubung dengan hati, bagaimana bisa adamu mati di hatiku ini.

Sesekali berteman dengan yang lain, kurasa karena aku tidak harus selalu denganmu menghabiskan waktu.

Percayalah ini bukan perselingkuhan, karena aku dan dia hanya berteman.

 


Aku tidak tahu apa kau melakukan hal yang sama dengan temanku itu.

Ketika adamu tak terlihat oleh mataku, dan tak mengabariku di waktu senggangmu.

Dia temanku memintaku menjawab suara setelah sekian waktu dia terlalu akrab dengan sebuah nama.

Dia ingin aku menjadi perantara, meski bukan orang ke tuga dalam sebuah cerita.

 


Aku tidak ada di sana, di hari-hari yang berlalu sebelumnya.

Dia selalu mematikan suara hanya bercakap lewat ketikan saja.

Degub jantungnya selalu menang sampai dia memilih sembunyi karenanya.

Seorang gadis yang sudah terlanjur bersarang di dadanya sekian lama.

Kurasa itu penyakit pria, pengagum luar biasa, tetapi masih ingin tetap diburu pujaannya.

 


Dia dan aku, hanya kami, bukan kita, mendengarkan suara gadis itu dengan seksama.

Gadis yang  selalu dia  kirimi rayuan karena rasa suka yang meletup di dadadnya.

Ternyata dia seorang pria, sebuah ending yang tak terduga.

Aku tak bisa berkata apa-apa, sementara dia pucat pasi seolah tak bernyawa.

Apakah itu karma, setelah terlalu banyak hati yang sudah dipatahkan olehnya dengan sengaja?


Imagehttps://id.pinterest.com/pin/1146377280133855064/; 




Komentar