Puisi 46. Ketika Kopi yang Kuminum Tertukar Kopimu yang Pahit



 Ketika  Kopi yang Kuminum Tertukar Kopimu yang Pahit

Jakardah, 150724


BLOG NURLAELI UMAR- Kau tahu benar hujan sore sudah lama tak datang.

Kali ini kita bicara hujan yang bisa turun di mataku atau matamu.

Karena saat ini mataku sudah berembun.

Sambil menatap wajahmu yang semakin hari semakin tak bisa untuk kulupakan.

Kau itu, memang menyebalkan.

 


Suatu saat kalau kamu merasa diriku terlalu lama di hatimu,

Kau boleh meninggalkanku, lalu melupakanku.

Itu mungkin saja tidak terlalu menyakitkan untukku dan untukmu.

Asal, kau langsung mengatakannya padaku.

Tidak dengan mengambil dia yang lain sebagai alternatif,

Seperti yang biasa dilakukan laki-laki pengecut lain.

 


Karena kita sama-sama tahu, suatu saat kita akan berpisah juga.

Bukakah kau selalu menyanykan lagu bertemu pasti akan berpisah.

Asal kau tahu  untuk bertemu dengan laki-laki sepertimu itu saja itu keberuntungan.

Apalagi menjadi seseorang yang katamu spesial, itu seperti mendapat anugerah.

 


Jangan mengatakan tidak akan, tidak pernah terpikirkan atau tidak mungkin..

Ssssttt! Mumpung kita masih ada rasa cinta sebaiknya kita bicarakan ini.

Sebab banyak sekali yang bilang akan setia sampai mati.

Belum sampai mati sudah mengingkari bahkan sampai berkali-kali.

 


Kita bicara ini agar kamu tahu apa yang akan kamu lakukan kelak itu apa yang menurutmu terbaik.

Kau tidak akan menyesal meninggalkanku, dan berharap memulai dari nol lagi. Mana bisa?

Atau pilihan lain, kau mati dan aku sendiri, atau sebaliknya.

Dengarkan aku, jangan tertawa!

Kau tahu benar, kau bagiku berharga. Aku bagimu entah bagaimana. Tetap saja, kau teristimewa.

 

Image; https://id.pinterest.com/pin/401313016815513707/

Komentar