SENDIRI DULU (delapan belas)

 


DELAPAN BELAS

BLOG NURLAELI UMAR- Haris itu gak terlalu menarik, itu penilaian Tifa. Meski baju dan tas yang dikenakan terlihat mahal. Mungkin karena wajahnya pasaran. Ups! Atasan T-Shirt hitam plus jaket merah berpadu hitam, celana hitam dan sepatu kulit berwarna hitam pula. Cowok banget, tapi firasat itu?

“Kok bengong, Tif. Jadi gak jalan? Atau kita berdua gak level jalan sama loe?”

Randi muncul dengan baju ganti, gak memakai dobok lagi.

Latihan sudah selesai gak ada rapat pengurus, semua sudah terkendali. Sebagian sudah pulang dan sebagian lagi masih terliihat berkumpul masih dengan dobok putih mereka. TC dilanjutkan besok dan besoknya lagi usai pulang sekolah.

 Sebagian yang lain sama seperti Tifa, gak langsung pulang tapi ada acara, meski bahkan cuma duduk-duduk di kantin. Kantin di sini lumayan juga, makanan dan minumannya oke, tentu termasuk harganya.

“Kita naik angkot?”

“Gak, Tif, naik motor, loe sama Haris, gue ….

“Sama siapa, hayo? Sama anak baru ya?”

“Sama Liana.”

Tifa cuma tersenyum menanggapi, padahal tadi ingin bilang: oh. Dibatalkan karena takut menyinggung, meski dia sedikit kurang respek karena kejadian kemarin di kantin sekolah. Liana gak kelas dan senang jadi pusat perhatian. Padahal hampir semua cewek seperti itu, batin Tifa, dan aku juga cewek, tapi Liana? Tifa mengedikkan bahu, dia menghela napas, berat.

“Kenapa, Tif. Keberatan Liana ikut?”

“Gak, terserah aja, tapi gak sampai sore. Gue gak bisa, ada acara.”

“Oh, kenapa loe gak bilang? Kan gak perlu meluangkan waktu loe, biar kita bertiga aja, dan besok tetap belajar bareng habis TC.” Randi merasa sedikit bersalah.

“Memang acara apa, Tif?” tanya Haris tertarik, karena dia tertular merasa gak enak juga.

Komentar