DELAPAN
BLOG NURLAELI UMAR- Bel yang memberi
tanda jam pelajaran habis dan membawa kaki Tifa ke luar kelas gak dirayakan
seperti biasanya. Lihat saja, dia bahkan berjalan sendirian dan terdiam,
beberapa ajakan untuk jalan bareng ditolak dengan senyum setengah dipaksakan.
Ingin berkata aku baik-baik saja, tapi ada dorongan dari dalam yang memberi
peringatan waspada. Ini indera ke enam?
Beberapa teman yang mendahului
melambaikan tangan, Tifa menyeberang jalan, dan Angga memerhatikannya dari
pintu gerbang dari atas motornya. Gak, dia gak mau menghalangi Tifa, itu bukan
urusannya, tapi kegelisahan sahabatnya itu mengganggunya.
***
Kafetaria. Masuk melewati pintu kaca,
terlihat bangku-bangku seperti di rumah makan lain. Mata Tifa menyapu ruangan,
Entah yang mana yang bernama Haris, karena tamu kafetaria ini memag sebagian
besar anak sekolah di sekitar sini. Ada lima sekolah setara SMA di sekitar
sini. Beberapa ada yang menggodanya.
Tifa melemparkan senyum, sampai ada
satu cowok yang bertanya, “Nyari siapa, kok gak duduk?”
Tifa melirik ke arah si penanya. “Gue
nyari anak SMA 7, Haris. Kenal gak?”
“Gila loe ya, mana sempat gue nanya
nama sama semua orang yang datang kemari, tapi kalau gak salah loe anak
taekwondo, ya? SMA 7 itu jauh, kecuali loe memang ada janji.”
“Iya, kok loe tahu? Ada yang salah
kalau gue kemari?”
“Kagak sih, gue tahu, karena kemarin
gue nganterin adik gue latihan.”
“Jadi loe merhatiin gue? Kalau gitu
tolongin gue, nyari Haris.”
“Oke, sebentar, gue cariin. Tapi bisa
gak minta photo loe?”
“Gila loe, baru kenal juga, lagian buat
apa? Udah ketemu juga, loe minta sama adik loe aja, besok kalau latihan biar
photo sama gue. Gimana?”
“Oke, gue bercanda doank, kok.”
.Tifa mengahampiri kasir memesan
minuman dan makanan. Kemudian dia berjalan ke sebuah meja. Pelayan di sini
cukup cekatan, sayang Tifa baru kali ini mampir di kafetaria ini. Meski
terletak di seberang jalan dari sekolahnya, dan pernah ingin masuk bahkan
beberapa kali, tapi kesempatan baru datang kali ini.



Komentar
Posting Komentar