DUA BELAS
BLOG NURLAELI UMAR- Suasana kantin
hari ini cukup lengang. Tidak biasanya? Bukan, tapi terlambat datang. Anak-anak
yang lain sebagian sudah kembali ke kelas. Tifa dan Angga tadi sempat mampir ke
perpustakaan terlebih dahulu, mengantar Angga yang tadi mengembalikan buku yang
dipinjamnya, sekalian melepas kangen, karena sudah satu minggu gak mampir,
belum ada buku yang ingin dipinjam, beberapa novel terjemahan dari kakak Tifa
masih menunggu giliran dibaca.
“Apaan sih loe Tif? Rese nih.”
Tifa tertawa kecil sambil menyodorkan
piring ketoprak yang dia makan. Angga menolak.
“Gue pesen sendiri.”
“Gak mau makan berdua, nih?”
“Gak, entar gebetan gue lari, dikira
kita ada apa-apanya.”
“Tapi emang loe suka sama gue kan?”
“Dasar gadis jelek. Eh gimana
ceritanya kemarin?”
“Biasa aja, gak ada yang keren, kok.
Lagian gue kan belum cerita apa-apa, kok loe tahu gue ketemuan sama seseorang?
Tadi nanya sekarang nanya, kepo tua nih!”
“Apa lagi yang bikin loe nyebrang
jalan ke kafetaria. Gue cukup sering nongkrong di sana, dan gak pernah lihat
muka loe. Kalau bukan karena cowok gak mungkin sampai segitunya. Bahkan gue
pernah ngajakin loe sekali waktu itu dan jawaban loe pedes banget. Sumpah
kerasa traumanya sampai sekarang.”
“Masak gue gitu?.”
“Bilang aja loe nolak gue pakai
belagu segala. Loe dulu bilang kalau ngajakin makan ke seberang itu berarti
pacaran. Dan loe bilang kalau loe mau ke sana itu, karena ada seseorang yang
emang spesial buat loe. Kalau orang lain yang bilang, mungkin gak gue anggap.
Tapi ini loe yang benar-benar gak pernah ke sana dan megang banget semua yang
keluar dari mulut loe sendiri.”
“Gitu ya?”
“Kok, cuma gitu jawabannya? Jadi bener dia itu seseorang dan berarti buat loe. Gak apa-apa sih, cuma gue sedikit ngerasa sakit hati.”






Komentar
Posting Komentar