DUA PULUH DUA
BLOG NURLAELI UMAR- Haris akhirnya
mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Randi, lalu beralih ke arah Tifa, dia
beringsut mendekati duduk Tifa, melihat soal yang dikerjakan cewek itu yang
kelihatan belum final.
“Gue rasa sebaiknya loe pakai teori ini
dan rumus ini!” tunjuk Haris memerhatikan Tifa berkutat sama nomor tiga
dankelihatant diam berpikir keras.
“Oke gue coba.”
Tifa melakukan yang disarankan Haris.
Dia berhenti pada satu penyelesaian.
“Kok gak ketemu.”
“Coba loe masu kin ke persamaan ini.”
Tifa memasukkan angka-angka itu ke
persamaan yang ditunjukkan oleh Haris.
“Makasih. Gak kepikiran ternyata soal
ini lebih mudah dipecahkan pake jalan seperti ini.”
Soal-soal yang keluar dalam olympiade
jelas berbeda sama soal-soal ulangan sehari-hari. Biasanya soal-soal itu lebih
susah dan soal aplikasi. Jadi selain butuh kemahiran menguasai materi,
dibutuhkan kepiawaian imajinasi dan kecepatan analisa..
Lima soal akhirnya dipecahkan, mereka
bertiga Tifa, Haris, dan Randi. Sesekali tadi habis Tifa dibantu di nomor tiga,
mereka berdebat untuk dua nomor selanjutnya, karena masing-masing mengedepankan
argumennya, sesekali kelihatan seperti saling balapan cepat, sesekali juga
kelihatan tertawa, karena ternyata rumus yang dipakai gak menghasilkan jawaban,
atau jawaban mereka berbeda satu dengan yang lainnya.
“Gila loe, Tif. Ternyata loe jenius
juga, mirip ….”
“Madamme de Curie?”
“Ris itu sih berlebihan, yang jelas
mirip telaknya tendangan Nerio Chagi. Dak! Dan hidung orang bisa patah
seketika.”
“Lebay, loe! Dasar Randi jelek.”

Komentar
Posting Komentar