DUA PULUH EMPAT
BLOG NURLAELI UMAR- Angga kali ini
terlihat serius sebab matanya sedang menyelidik wajah Tifa.
“Kenapa? Apa wajah gue terlihat
kriminal? Suer, gue gak nyontek.” Tifa balas menatap Angga dengan tatapan
heran.
“Anak itu Haris kan, anak SMA 7 dan
langganan ikut olympiade sains?”
“Loe kenal? Wah kalau gitu besok kita
ngumpul aja, meski gue tahu loe absen ikut olympiade kali ini.”
“Ini terserah loe, tapi jangan
kedekatan loe sama Haris dijadikan pelampiasan, karena gue tahu loe cinta mati
sama Tio. Dan gak mudah buat move on. Gue tahu loe butuh seseorang buat itu,
tapi jangan Haris.”
“Loe gak suka gue deket sama dia?”
“Sejujurnya iya, gue cemburu, tapi
ada alasan lebih dari itu.”
“Kenapa sama Haris?”
“Gak apa-apa, tapi gue tahu loe bisa
jaga diri. Kalau ada apa-apa ada gue, kapan pun loe butuh.”
“Angga?”
Angga bangun dan pergi, mendadak dia dipanggil ke ruang guru. Tifa menatap punggung Angga yang meninggalkannya, dia dalam catatan Tifa gak pernah seserius ini melarang, bahkan waktu Randi selalu saja menepel, atau anak kelas lain menghadiahi boneka dan cokelat sekali pun. Bahkan ketika Tio terang-terangan menjadi kekasihnya sampai akhirnya membuatnya menjauh karena fansnya membuat Tifa menangis dan membuatnya merebahkan kepala ke pundak Angga.
Minggu spesial, tas punggung berwarna
cokelat dengan isi dobok, makanan, air minum dan alat salat sudah terlihat
cukup. Sejumlah uang tambahan dari papa membuat sempurna. Sebuah ciuman di pipi
dan doa di kepala dari mama mengantar Tifa menembus pagi dengan sepeda motor.
Haris benar-benar memenuhi janjinya untuk menjemput Tifa. Sebenarnya gadis itu
ingin menolak, Haris itu bukan sesiapanya,

Komentar
Posting Komentar