DUA PULUH TIGA
BLOG NURLAELI UMAR- “Harus gue akui,
satu teakwondoin yang adalah junior gue dan satu lagi pesilat tangguh ternyata
berotak encer, gue kira ketangkasan kalian menerima serangan berbanding lurus
dengan keenceran otak kalian. Sekian dan terimakasih.”
“Terimakasih kembali Sabeum Madamme de
Curie! Hyungrye!” balas Randi sambil memberi hormat, membungkuk. Demi melihat
Randi bersikap memberi hormat
Haris pun ikut memberi hormat dengan
mengatupkan kedua telapak tangannya di dada dan anggukan kepala. Kontan saja
mereka bertiga akhirnya ngakak. Mereka menyudahi semuanya, menikmati minumkan
yang disajikan ibu Randi.
Sayang Tifa dan Randi lagi program buat kejuaraan,
coba saja kalau gak, es kelapa pasti habis. Minumkan itu akhirnya diganti sama
teh hangat, padahal cuaca mendukung, panas dan gerah!
Haris gak bisa dipandang sebelah mata
di olympiade nanti, batin Tifa mantap.
***
Angga duduk di dekat Tifa. Ulangan kimia
bikin cowok itu terlihat sedikit lelah.
“Loe kenapa, loyo banget gitu?”
“Gue ngantuk belajar ampe malam. Emak
gue ‘kan sakit jadi sambil nemenin.”
“Mak loe sakit? Kok gue gak
dikabarin?”
“Loe kan lagi sibuk ngurusin
kejuaraan sama belajar buat olympiade.”
“Itu juga baru satu kali, dan
persiapan kejuaraan udah siap. Tapi gak banget deh kalau sampai kabar emak
sakit gue gak dikabarin. Gak nganggep lagi atau gak mau gue habisin kue
cincinnya?”
“Udah baikan kok, sakitnya juga gak
terlalu parah, mungkin kecapean aja. Loe tahu kan mak gue gak bisa diem?”
Tifa hanya mengangguk, dia sedikit
kecewa karena gak mendapat kabar itu lebih awal. Tapi syukurlah keadaan ibunya
Biasanya hal sekecil apa pun dia lah orang pertama yangtahu tentang Angga
sebelum orang lain.

Komentar
Posting Komentar