SENDIRI DULU (dua puluh tujuh)


DUA PULUH TUJUH

BLOG NURLAELI UMAR- “Udah sampe.”

Tifa sedikit tersentak, kaget bercampur malu. Mukanya memerah. Motor sudah sampai memasuki pintu gerbang gedung tempat kejuaraan dilaksakan.

“Maaf,” ujarnya sambil dengan segera menarik tangannya yang melingkar memeluk Haris. Haris tampak senang dan pura-pura gak mendengarkan perkataan Tifa barusan.


“Helmnya!”

“Ini, kita masuk bareng, kan?”

“Gak usah, loe jalan aja dulu, nanti gue nyusul. Lumayan banyak yang parkir. Loe lebih dibutuhin di sana.”

“Jadi loe gak butuh gue?”

“Nantangin nih?”

Tifa gak mau leluconnya yang gak lucu malah akan memakan dirinya sendiri,. Memasuki pintu gedung, Tifa melihat keaktifan pemakai fasilitas gedung ini. Tampak mereka sedang berlatih thai boxing, dan di sebelah bawah gedung sedang ada pertandingan bulu tangkis.

 Tifa dan rombongan mesti berjalan ke arah pintu lain yang ternyata pintu menuju bagian gedung belakang. Menyebrangi jalan dalam area ini, menuju gedung bertuliskan ‘TAEKWONDO’.

“Dari cabang Cengkareng?” Seseorang bersabuk hitam bertanya dan kemudian tampak memberi hormat..

“Benar.”

Tifa membungkukkan badan memberi salam. dia membenarkan, kemudian dia dipersilakan untuk bergabung dengan anggota Dynasti dari anak cabang yang lain.

Kelas dibagi menurut tinggi dan berat badan. Jadi lawan itu disesuaikan menurut tinggi dan berat badana yang sama, bukan berdasatkan tingkat sabuk.

Seseorang menjejeri Tifa membuat gadis itu menolehkan muka.

“Angga?”

“Kenapa? Harus Haris?”



Komentar