DUA PULUH
BLOG NURLAELI UMAR- Sepulang TC. Tifa
sudah berada di ujung jalan dari arah sekolah sebelum belokan. Warung bakso
yang katanya rumah Randi itu lumayan ramai. Dia berjalan mendekat dan terpaku
di depannya, belum ada siapa pun baik Randi atau Haris.
Tapi, untung saja Haris segera datang, mesin
motornya yang berhenti di dekat tempat berdiri gadis itu langsung dimatikan
demi melihat Tifa yang sedikit celingukan.
Haris tahu Tifa itu mencari dirinya,
karena lima menit yang lalu dia mengirim pesan supaya Haris secepatnya datang.
Meski dalam keadaan sedang mengendara, Haris menyempatkan untuk mengeluarkan telepon
genggam dari saku jaketnya.
Setelah itu Haris yang memang sudah
membuat janji belajar bersama memacu motornya lebih cepat, meski sebenarnya
saat itu sudah tiga perempat jalan untuk sampai ke rumah Randi. Cuma ingin biar
Tifa tidak menunggu terlalu lama.
Helmnya dibuka dan terlihat siapa
yang datang mendekat. Tifa sempat gak mengenali sebelumnya karena Haris bukan
mengendarai motor yang kemarin.
“Cepet banget.”
“Gue gak mau loe nunggu kelamaan
aja.”
“Lima menit dari rumah, gila aja!”
“Kagak lah, tadi udah sampai depan
toko buku yang ada kedai es krimnya.”
“Gue kira lima menit dari rumah,
pasti loe angkat hp sambil bawa motor ya?”
“Iya, tadi gue santai, lagian jalanan
macet, jadi gue rasa gak terlalu beresiko, terus gue minggir kok.”
“Oh.”
“Iya gue tau, loe perhatian sama gue,
makasih ya.”
“Apaan sih? Ini gimana? Randinya
mana, apa kita masuk ke warung, gak enak
ganggu pelanggan?”
“Gak lah, rumah Randi ada di
belakangnya, masa mau belajar di warung.”
Komentar
Posting Komentar