SENDIRI DULU (dua puluh satu)

 


DUA PULUH SATU

BLOG NURLAELI UMAR- Seorang perempuan mendatangi mereka, mempersilakan ke belakang. Haris dan

Tifa memberi salam lalu mencium punggung tangan perempuan itu.

“Bu, kok gak disuruh masuk teman-teman?” Randi muncul dari dalam warung masih mengenakan celemek,. Terpikir di benak Tifa, kenapa tadi gak masuk dan menanyakan Randi ke dalam saja, setidaknya dia akan tahu ketrampilan anak laki-laki itu meracik bahan-bahan baso dan menyajikannya. 


Tifa belum pernah makan di warung milik Randi, selama ini dia hanya makan baso di warung baso dekat komplek rumahnya, di kantin, di mal,atau pedagang keliling. Entah itu bersama Tio atau keluarganya.

Perempuan itu tersenyum, lalu mempersilakan masuk. Randi memanggilnya ibu, mungkin itu memang ibunya Randi, Tifa gak ingin menginterogasi meski basa-basi menanyakan apa itu benar ibunya atau bukan, karena masih terlalu muda untuk mempunyai anak seumur dia.

Randi melepas celemeknya dan masuk kembali ke warung. Setelah itu dia keluar lagi sambil mengajak kedua temannya itu. “Ayo!”

Rumah di belakang warung baso itu hanya tiga petak. Satu untuk ruang tamu, satu lagi untuk ruang tidur dan satu lagi untuk dapur sekaligus sumur. Tifa sempat minta izin ke belakang untuk mencuci tangan.

Bersih dan terawat, itu kesan yang ditangkap Tifa. Cuma gak kebayang di mana Randi bisa belajar dan tidur. Pasti sibuk dan penuh ketika meracik bumbu dan belanjaan datang.

“Kenapa, Tif?”

“Gak, gue suka tempat ini. Rumah loe nyaman.”

“Iya, ayo kita mulai nanti malah banyak yang ingin loe tahu di luar soal-soal.”

Tifa mengangguk dan tersenyum. Randi benar soal itu, tapi dia dan Haris datang ke sini bukan untuk interogasi.

Mereka bertiga akhirnya duduk di lantai dengan buku-buku diletakkan di atas meja tamu yang rendah, dan sekarang terlihat sudah membuka soal-soal untuk mulai sibuk memeras otak. Randi tampak khusuk membaca soal dan mencari sumber dari buku lain, Tifa tampak berkutat mengerjakan, terlihat menghapus angka-angka yang dirasanya salah perhitungan dan tidak sesuai dengan jawaan yang tersedia, sedang Haris tampak tekun tanpa menengok ke kanan dan kiri.



 

Komentar