EMPAT
BLOG NURLAELI UMAR- Randi menikmati
pemandangan indah di depannya terlalu serius, jadi waktu Liana mengetukkan
sendok ke gelas, cowok itu sedikit gelagapan dan mencoba masuk lagi ke
frekuensi yang seharusnya.
“Iya.”
“Iya, apa? Serius kan?” Suara Liana
terdengar bersemangat di telinga Randi.
“Iya, mau. Tapi privat dan ada
fee-nya.”
“Tenang saja, aku gak suka yang
gratisan karena biasanya gak bermutu dan tidak bertanggung jawab.”
“Baiklah, kapan pun. Loe bisa cari
nomor telepon gue di medsos apa pun.”
“Maksudmu?”
“Gue suka murid yang sedikit kreatif,
jadi tugas pertama loe untuk mencari nomor telepon gue.”
“Baiklah.”
“Langsung terima tantangan gue?”
“Karena aku tahu, kamu orang yang
tidak sembarangan menerima murid les-mu. Begitu yang kudengar.”
“Dari angin yang berembus? Wah
…ternyata gue lumayan terkenal.”
“Begitulah.”
“Ups, bercanda. Jangan masukin ke
hati, tapi gue suka jika tantangannya loe terima. Harinya terserah loe, yang
penting gak Jumat sama Sabtu. Itu jatahnya Tifa.”
“Tifa? Oh … iya?’’
Liana tersenyum getir mendengar nama
Tifa disebutkan oleh Randi. Apa yang istimewa dari Tifa?
Benar saja sepulang sekolah akhirnya
Liana dengan senang hati menyalakan laptonya, sambil tetap mengenakan
seragamnya. Bahkan tasnya masih penuh dengan buku dan PR yang mungkin akan
disentuh setelah pencarian nomor telepon Randi, atau paling parah akan
dikerjakan besok.






Komentar
Posting Komentar