BLOG NURLAELI UMAR- “Mau tahu?
Rencanaku …nyalin di kelas sampai kamu akhirnya mau dengan tangan terbuka
ngelesin aku!”
Sedikit terdengar berteriak, tetapi akhirnya
pecah juga tawa Liana. Gadis yang menyenangkan.
***
Dia itu ingat benar, saat Randi
bicara ke sana ke mari, yang ada di kepalanya adalah Tio, cowok yang diputuskan
sepihak olehnya. Saat itu dia mengangguk-angguk saja membuat Randi merasa
pembicaraannya ditanggapi. Tifa hanya mendengar sekilas, yang intinya jika
Randi punya sahabat yang sering mendukungnya. Ikatan itu terjadi karena orang
tua mereka. Tapi gak jelas benar apa dan bagaimananya.
Tio tampan, tinggi, sopan dan
…terkenal. Dia anak kelas lain, satu angkatan di atas Tifa. Baginya Tio adalah
kekasih yang dia cari. Sebenarnya dari satu sampai sepuluh, cowok itu dapat
nilai sembilan. Cuma … Tifa terlihat menarik napas, ada beban yang membuat
dadanya seperti terhimpit batu besar. Tio terlalu ramah, dan kurang peka.
Ada kalanya ketika mereka berdua
jalan ke mal atau bahkan ke kantin, dia merasa bahwa pengagumnya pantas
mendapat porsi perhatian yang sama. Acara makan berdua jadi berbanyak, dan
menurut Tifa terkadang seperti acara arisan saja. Kalau hanya sesekali, tapi
jika hampir setiap kesempatan berdua?
Bukan gak pernah protes atau Tifa gak
berani, tapi percuma, cowok itu selalu saja bilang jika mereka hanya fans dan
tidak ada apa-apanya. dia gak bisa menerima jika dirinya selalu dimadu dengan
para fans Tio. Tapi bukan Tifa jika memaksa orang lain untuk mengerti apa
maunya.
Satu dua kali protesnya berakhir
dengan sia-sia—Tio tetap bersikap begitu gak ada sedikit perubahan yang
terlihat---akhirnya dia itu meyakinkan dirinya gagal, kemudian memutuskan untuk
menghindar sebisa mungkin.
Move on dari Tio susah sekali.
Terlalu banyak kenangan bahkan sampai hari ini yang bergeming di kepalanya cuma
Tio, bahkan di depan selembar photo yang diberikan Randi. Hati memang susah
untuk dibohongi.








Komentar
Posting Komentar