SENDIRI DULU (enam)

 

ENAM

BLOG NURLAELI UMAR- “Mau tahu? Rencanaku …nyalin di kelas sampai kamu akhirnya mau dengan tangan terbuka ngelesin aku!”

 Sedikit terdengar berteriak, tetapi akhirnya pecah juga tawa Liana. Gadis yang menyenangkan.

***


Tifa memandangi photo yang diberikan Randi. Tidak ada yang istimewa. Sedikit mengeluh, mengapa dia kemarin-kemarin saat anak cowok itu bercerita gak meng-cut bahwa dia gak ambil peduli dan gak nyambung dengan pembicaraan anak lelaki itu.

Dia itu ingat benar, saat Randi bicara ke sana ke mari, yang ada di kepalanya adalah Tio, cowok yang diputuskan sepihak olehnya. Saat itu dia mengangguk-angguk saja membuat Randi merasa pembicaraannya ditanggapi. Tifa hanya mendengar sekilas, yang intinya jika Randi punya sahabat yang sering mendukungnya. Ikatan itu terjadi karena orang tua mereka. Tapi gak jelas benar apa dan bagaimananya.

Tio tampan, tinggi, sopan dan …terkenal. Dia anak kelas lain, satu angkatan di atas Tifa. Baginya Tio adalah kekasih yang dia cari. Sebenarnya dari satu sampai sepuluh, cowok itu dapat nilai sembilan. Cuma … Tifa terlihat menarik napas, ada beban yang membuat dadanya seperti terhimpit batu besar. Tio terlalu ramah, dan kurang peka.

Ada kalanya ketika mereka berdua jalan ke mal atau bahkan ke kantin, dia merasa bahwa pengagumnya pantas mendapat porsi perhatian yang sama. Acara makan berdua jadi berbanyak, dan menurut Tifa terkadang seperti acara arisan saja. Kalau hanya sesekali, tapi jika hampir setiap kesempatan berdua?

Bukan gak pernah protes atau Tifa gak berani, tapi percuma, cowok itu selalu saja bilang jika mereka hanya fans dan tidak ada apa-apanya. dia gak bisa menerima jika dirinya selalu dimadu dengan para fans Tio. Tapi bukan Tifa jika memaksa orang lain untuk mengerti apa maunya.

Satu dua kali protesnya berakhir dengan sia-sia—Tio tetap bersikap begitu gak ada sedikit perubahan yang terlihat---akhirnya dia itu meyakinkan dirinya gagal, kemudian memutuskan untuk menghindar sebisa mungkin.

Move on dari Tio susah sekali. Terlalu banyak kenangan bahkan sampai hari ini yang bergeming di kepalanya cuma Tio, bahkan di depan selembar photo yang diberikan Randi. Hati memang susah untuk dibohongi.



Komentar