SENDIRI DULU (lima belas)

 


LIMA BELAS

BLOG NURLAELI UMAR- “Tapi bener, kan, dia gak ada masalah sama kamu selain urusan itu?”

“Gak lah, loe tahu gue bukan tipenya, dia mainnya kelas tinggi. Cowok kayak gue dilirik aja udah lumayan.”

Liana ingin bertanya lebih, tapi akhirnya dia terdiam. Sebegitu istimewakah cewek yang bernama Tifa itu. Apanya coba?

Liana tetap memerhatikan Tifa dan Angga yang mengekor dari belakang dengan matanya sampai mereka berbelok. Tanpa tersadar dengus kesalnya terdengar oleh Randi.

Setelah Angga dan Tifa menghilang dari pandangan. “Kenapa loe, Li? Kesal? Maafin gue. Buat ngilangin bête gue yang traktir deh.”

Liana tersenyum dipaksakan, melihat itu Randi mencoba menghiburnya.

“Padahal kamu belum dapat gaji dari ngelesin. Hebat udah berani nraktir.”

Hanya itu yang bisa Liana lakukan mencoba untuk mengimbangi usaha Randi.

Randi tertawa, “Gila loe, Li. Gak ngelesin loe gak bikin dompet gue kempis dan kelaparan kali.”

“Iya deh, bercanda.”

“Jadi, mau pesan apa nih?”

“Terserah, samain aja.”

Meski Randi sempat melemparkan jokes dan Liana dibuat tertawa di sela makannya, tapi Tifa, cewek itu masih memenuhi otak Liana, bahkan dengan sadis meninggalkan sebuah tanda tanya besar yang bergeming di kepalanya. Tifa? Apa sih dia?

***

Minggu pagi di tempat latihan. Randi lagi berlatih menendang target, sementara yang lain pun sama. Latihan kali ini biasa disebut TC alias Training Center. Pemusatan latihan. Biasanya TC dilakukan seminggu sebelum tanding kejuaraan, tetapi satu hari sebelum hari H biasanya istirahat total.

 

 

Komentar