LIMA
BLOG NURLAELI UMAR- Dinyalakannya
laptop itu, klik ini klik itu akhirnya sekarang dia masuk di jejaring sosial
facebook. Setelah sempat membaca beberapa notif yang masuk, lalu memeriksa
jempol dan komen atas statusnya, akhirnya diketik di pencarian nama Randi--tadi
sebelum benar-benar pergi dari kantin, Randi menuliskan nama akunnya—dan berhasil.
Randi Killer itu adalah nama akun
yang aneh. Liana langsung meng-klik profil dan benar saja, ada tiga nomor
telepon yang bisa dihubungi. Mungkin karena cowok jadi lebih aman untuk
membagikan nomor telepon dan resikonya lebih kecil.
Handphone yang berada tak jauh dari
tempatnya sekarang diraih, untung saja tidak terjatuh, karena bersamaan dengan
terjulur tangannnya handphone itu bergetar.
“Halo, iya benar ini aku, Liana. Maaf
ini dengan siapa?” Liana menjawab sapaan dari suara dalam handphonenya. Sebentar
… nomor dan logat bicaranya, suaranya mirip ...,ini Randi?”
“Iya, aku sedang mencatat nomormu dan
baru saja akan menelpon, tapi dapat nomorku dari mana?”
“Oh, jadi aku kalah cepat, ya?”
“Boleh, hari ini?” Terdengar Liana
menyetujui dan memastikan jika les akan dimulai hari ini.
“Apa? Sudah di depan rumah? Kamu
sedang butuh uang kah, kok serba kilat begini?”
“Aku? Gak apa-apa sih senang saja,
kebetulan ada PR lumayan bikin kepalaku jungkir-balik. Oke, aku sekarang
turun.”
Sambil beranjak dari tempatnya Liana
dengan tetap menempelkan handphone di telinganya keluar kamar, “ada nenekku,
dia sedang merajut. Gak apa-apa nanti aku yang perkenalkan.”
Sekarang Liana benar-benar sudah ada
di depan pintu masuk. Dia memutar kepalanya mencari di mana wujud Randi karena
memang tidak terlihat di depan pagar rumahnya.
“Kamu di mana, Rand?”
“Ah, kibul nih, jelek! Iya kutunggu,
kalau lima menit lagi gak datang, kubatalkan, soalnya aku punya rencana
sendiri.”

Komentar
Posting Komentar