SEMBILAN
BLOG NURLAELI UMAR- “Dia di sana, itu
dia mau kemari.”
Anak SMK yang tadi datang
menghampiri. Dia tetap berdiri sambil menunjuk ke sudut tempat seseorang yang
juga sedang beranjak dari kursi.
***
“Makasih banyak, biar gue yang ke
sana. Tempat di sana lebih enak. Minta tolong satu lagi bisa gak?”
“Apaan tuh?”
“Habisin pesanan gue, dua gelas jus
apel sama bentar lagi datang dua porsi siomay, gue hilang nafsu. Uda gue bayar
di muka tadi. Thanks banget ya, fotonya entar gue kasih lewat adik loe kalau
latihan lagi, tapi jangan buat nakutin tikus.”
Anak lelaki itu hanya memandangi Tifa, mencoba mencerna kalimat Tifa yang mirip kereta, tanpa tanda titik atau koma. Setelah menyadari bahwa dia harus menghadapi makanan dan minuman dua porsi sendiri, dia tertawa. Bukan karena makanannya tapi karena dia gak menyangka, sabeum yang diidolakan adik perempuannya ternyata bisa juga gila. Baru kenal sok akrab dan main traktir begitu saja.
“Ya, ya, ya ….”
Tapi itu terlambat, Tifa yang sebelum
menyandang tas di pundak melambaikan tangan ke arah Haris untuk tetap di sana,
sudah berjalan ke arah meja itu dan jawaban itu tidak mendengar sama sekali.
“Tifa?”
Haris menjulurkan tangan untuk
bersalaman dan memperkenalkan diri.
“Iya.”
Sebuah senyum tipis muncul dari wajah Tia.
Wajah yang terlihat cantik dan senyum yang tidak dibuat-buat.
“Aku Haris. Teman Randi. Dia ….”
“Apa Randi gak datang? Padahal dia
yang mengatur supaya aku nemuin kamu di sini.”
“Datang, barusan kirim pesan, katanya sedikit terlambat, karena ada urusan sama temannya, dia lagi mengatur jadwal les.”

Komentar
Posting Komentar