SEPULUH
BLOG NURLAELI UMAR- Tifa tersenyum
lagi meski kali ini terlihat basa-basi.
“Mau minum apa?”
Haris terlihat kurang nyaman dan
mencoba memecahkan suasana, karena wajah Tifa yang terbaca kesal, meski senyum
itu masih terpasang.
“Apa aja. Apa Randi ngasih les atau
dia …
***
“Ya, ada anak kelas lain yang minta
dilesin.”
“Oh.”
Lima belas menit kemudian Randi
datang sambil meminta maaf. Selama menunggu, hanya basa-basi yang ada. Lihat,
ada sesuatu yang berbinar dari mata Haris! Sepertinya dia sudah banyak tahu
tentang Tifa dan memang ngarep sekali pertemuan itu.
Randi yang akhirnya datang membuat
semuanya terlihat lebih baik, setidaknya suasana hati Tifa. Pembicaraan masih
sekitar basa-basi, tapi sungguh lebih baik dari sebelumnya. Sepanjang
pembicaraan Tifa hanya sesekali menanggapi dengan senyum dan mengangguk.
Akhirnya mereka pulang dan Tifa
bahkan hanya terdiam duduk di belakang, ketika Randi meemberikan tumpangan
sampai perempatan dekat rumahnya.
“Gak usah sampai rumah, gue ada perlu
ke mini market dulu!” cegah Tifa ketika motor yang ditumpanginya mau mengantar
sampai depan rumah.
***
Tifa mendekat ke meja Angga yang lagi
menulikan telinga dari keramaian kelas karena guru gak masuk.
“Kenapa loe?”
Angga bertanya dengan earphone masih menempel.
Matanya ikut bertanya, pulpen diangkat dari kertas buku. Dan jawaban Tifa
membuat dia bertanya sekali lagi.
“Apaan?”
“Copot tuh telinga, loe!”



Komentar
Posting Komentar