SENDIRI DULU (tiga belas)

 


TIGA BELAS

BLOG NURLAELI UMAR- “Sialan loe, apa-apaan ini? Sekarang loe lagi deketin gebetan katanya, kenapa mesti ngebahas gue?”

“Bukan apa-apa, gue cuma pengen cowok itu gak nyakitin loe dan harus lebih baik dari gue.”

“Kalau kagak gimana?”

“Gue ….”

“Mau mati atau mau ngebunuh itu anak?”

“Gue mau ngibarin bendera setengah tiang tiap hari.”

“Dasar kebanyakan gak serius, padahal gue udah seneng banget kalau loe mau jadi hero buat gue, gak tahunya jadi Heri.”

“Apaan tuh Heri?”

“Temannya Ibu Peri.”

“Ngaco sengaco-ngaconya.”

Sepiring ketoprak datang dan percakapan terhenti. Angga memang pernah menyukai Tifa, dan mungkin untuk seterusnya. Meski rasa itu gak berbalas, karena Tifa terlanjur mengikat dirinya menjadi penjaga hati dengan gelar teman baik saja.

Tapi, melihat air muka dan kejadian gak konsentrasi kemarin, perasaan gak nyaman dan merasa ada apa-apanya dengan Tifa cukup membuat dirinya terganggu.

“Tif semoga loe gak terluka atau dilukai, walau bagaimanapun gue sayang banget!” gumamnya pelan.

“Loe lapar berat, Ngga?”

“Iya, kenapa?”

“Kedengeran ngomong sendiri, sama nyuekin gue aja.”

“Loe juga laper, kan?.”

“Iya,” 

Tifa mendengar gumaman Angga, dia hanya gak ingin membahasnya.

***



Komentar