SENDIRI DULU (tujuh)

 


TUJUH

BLOG NURLAELI UMAR- Sebentar … Tifa sekarang tengah memerhatikan photo itu dengan saksama. Ada yang menarik perhatiannya. Dicermati dari kepala, kening, alis, mata, hidung, matanya dan berhenti di bibir. Dia menarik nafas panjang. Oh,Tuhan. Aku sama sekali gak punya rasa apa pun. Tapi aku merasa aku akan disakiti olehnya.

Ada yang terbaca menakutkan dari bentuk bibir cowok di photo itu. Entah kekuatan dari mana atau semacam naluri. Tifa memejamkan mata, melawan perasaan yang tiba-tiba itu. Mencoba membatalkan dengan meyakinkan bahwa semua itu gak akan terjadi. Firasat yang harus dianulir sebelum terlambat. Gak bisa!

Telepon genggamnya berbunyi, sebuah pesan masuk. Dari Randi: Tif, besok gue ajak dia ke kafetaria seberang sekolah.

Tita mengetikkan sesuatu, dia menolak. Tapi jawaban yang datang: Gak apa-apa kok, cuma kenalan, biar loe banyak tahu.

Lalu masuk lagi pesan: Pulang sekolah ya, kalau gue belum datang masuk aja! Namanya Haris.

Tifa mengetikkan sebuah pesan, tapi urung, akhirnya pesan itu dihapus. Anak perempuan itu gak habis pikir, ketidakkonsentrasiannya karena gak bisa move on dari Tio, akan membawanya ke cerita baru.

 Firasat yang benar-benar memulai pembuktiannya dengan pesan balasan yang urung dikirim. Sebenarnya ingin sekali bicara kepada Randi lewat telepon selepas pesan barusan, menegaskan bahwa dia gak tertarik bertemu Haris, tapi entahlah, akhirnya Tifa hanya bisa meletakkan handphonenya di tempat semula, dan menarik napas panjang.

Hari berikutnya. Pelajaran jam ke enam dan ke tujuh terasa panjang, Tifa gelisah. Beberapa kali gestur tubuhnya terbaca Pak Rahmat. Biasanya kimia adalah pelajaran yang memancing rasa ingin tahunya. Beberapa pertanyaan yang dilontarkan kepada gadis itu dijawab dengan benar, untung saja gadis itu sudah membaca bab yang dipelajari hari ini.

Kutu buku seperti Tifa memang akan dengan mudah mengerti tapi ketidaktenangannya adalah hal yang gak biasa. Pak Rahmat sedikit terganggu. Dua jam yang membosankan berakhir tapi gak dengan kegelisahan Tifa.

 


Komentar