Benarkah Mereka korban?
BLOG
NURLAELI UMAR- Seorang teman memberitahuku kalau teman yang lain menjadi korban
kekerasan seksual secara verbal dan tulisan.
Dalam kasus
ini sebuat saja tokohnya Aku, temanku kuberi inisial A, dua korban yang lain
adalah C dan D, sedang pelaku yang laki-laki kuberi inisia F.
A mengirim
pesan kepadaku kalau C dan D adalah korban dari F, seoarang teman di sebuah
aplikasi yang sangat santun dan agamis.
A bertanya
kepadaku apakah aku korban juga, karena dia tidak ingin ada korban lain dan
tersirat ingin mengumpulkan korban lain, entah untuk apa.
Sepengetahuanku
A sangat menyukai F dan sudah cukup lama hiatus dari dunia aplikasi satu itu.
Dia sibuk dengan pekerjaannya di dunia nyata.
Untuk menguatkan
bukti kalau apa yang dia dapat bukan hoaks, dia kemudian mengirimi bukti kalau
F itu memang pelaku kejahatan seksual dengan kemungkinan banyak korban.
Akhirnya A
mengirim screen shoot-an pesan yang dikirim pleh C dan D, di mana itu adalah
percakapn mereka via pesan. Katanya, selain pesan F juga melakukan teleponan,
dan menurutku mereka juga melakukan video call.
Tapi, untuk
yang video call aku tidak menanyakan apakah itu terjadi atau tidak.
Akhirnya kubaca ss-an pesan di antara F terhadap C dan D. Di pesan itu terbaca C dan D menanyakan mengapa F tidak melakukan charging lagi alias making love virtual, C dan D juga menanyakan apakah F sudah bosan. C dan D tidak ingin F menghilang dengan menghapus semua akun media sosial yang lain (lebih dari satu) yang bisa menghubungkan mereka para perempuan yang mengaku korban dengan F.
Sampai ss-an
terakhir kubaca, aku mengambil kesimpulan kalau mereka bukan korban. Para
perempuan itu juga pelaku sam dengan F dan mereka menikmatinya. C dan D atau
bahkan korban yang lain hanya merasa kehilangan karena ditinggalkan, kemudian
mereka bercerita terhadap A.
Entah motif
apa mereka bercerita kepada A dan memojokkan F, yang jelas setahulku A juga
sangat menyukai F, meski F terhadap A bermain bersih.
Memang
biasanya perempuan menjadi korban pelecehan seksual secara online melalui
banyak aplikasi, tetapi melihat kasus ini kurasa kesimpulanku masih sama, mereka
sama-sama suka F, urusan per-charging-an, dan merasa kehilangan saja.
Konteksnya
jadi pelaku berteriak korban karena ketidakpuasan, bukan karena dirugikan.
Sebenarnya
apa yang terjadi? Begini, F dan para perempuan itu bermain role play, di mana mereka
melakukan bercinta online.
Image; https://id.pinterest.com/pin/155303888083512067/
Komentar
Posting Komentar