F 3. Benarkah Mereka korban?

 


Benarkah Mereka  korban?

BLOG NURLAELI UMAR- Seorang teman memberitahuku kalau teman yang lain menjadi korban kekerasan seksual secara verbal dan tulisan.

Dalam kasus ini sebuat saja tokohnya Aku, temanku kuberi inisial A, dua korban yang lain adalah C dan D, sedang pelaku yang laki-laki kuberi inisia F.

A mengirim pesan kepadaku kalau C dan D adalah korban dari F, seoarang teman di sebuah aplikasi yang sangat santun dan agamis.

A bertanya kepadaku apakah aku korban juga, karena dia tidak ingin ada korban lain dan tersirat ingin mengumpulkan korban lain, entah untuk apa.

Sepengetahuanku A sangat menyukai F dan sudah cukup lama hiatus dari dunia aplikasi satu itu. Dia sibuk dengan pekerjaannya di dunia nyata.

Untuk menguatkan bukti kalau apa yang dia dapat bukan hoaks, dia kemudian mengirimi bukti kalau F itu memang pelaku kejahatan seksual dengan kemungkinan banyak korban.

Akhirnya A mengirim screen shoot-an pesan yang dikirim pleh C dan D, di mana itu adalah percakapn mereka via pesan. Katanya, selain pesan F juga melakukan teleponan, dan menurutku mereka juga melakukan video call.

Tapi, untuk yang video call aku tidak menanyakan apakah itu terjadi atau tidak.

Akhirnya kubaca ss-an pesan di antara F terhadap C dan D. Di pesan itu terbaca C dan D menanyakan mengapa F tidak melakukan charging lagi alias making love virtual, C dan D juga menanyakan apakah F sudah bosan. C dan D tidak ingin F menghilang dengan menghapus semua akun media sosial yang lain (lebih dari satu) yang bisa menghubungkan mereka para perempuan yang mengaku korban dengan F. 

Sampai ss-an terakhir kubaca, aku mengambil kesimpulan kalau mereka bukan korban. Para perempuan itu juga pelaku sam dengan F dan mereka menikmatinya. C dan D atau bahkan korban yang lain hanya merasa kehilangan karena ditinggalkan, kemudian mereka bercerita terhadap A.

Entah motif apa mereka bercerita kepada A dan memojokkan F, yang jelas setahulku A juga sangat menyukai F, meski F terhadap A bermain bersih.

Memang biasanya perempuan menjadi korban pelecehan seksual secara online melalui banyak aplikasi, tetapi melihat kasus ini kurasa kesimpulanku masih sama, mereka sama-sama suka F, urusan per-charging-an, dan merasa kehilangan saja.

Konteksnya jadi pelaku berteriak korban karena ketidakpuasan, bukan karena dirugikan.

Sebenarnya apa yang terjadi? Begini, F dan para perempuan itu bermain role play, di mana mereka melakukan bercinta online.

Image; https://id.pinterest.com/pin/155303888083512067/

Komentar