Karma Baik 1
Tulisan ini kubuat dua bagian, biar kalian yang membaca tulisanku ini
datang dua kali ke blogku.
BLOG NURLAE:I UMAR- Setahuku
dalam hidup itu berlaku sebab akibat. Seperti ini misalnya; aku lapar, berarti
aku harus makan, kalau tidak makan aku akan lapar, lalu kalau dibiarkan lagi
bisa jadi kepalaran, dan kelapan yang berulang bisa menjadi sebab kematian.
Jangan
terlalu serius! Tentu saja kalau aku lapar aku harus makan. Ada udang atau
tidak ada uang tetap obatnya lapar itu makan, sama seperti obat haus harus minum,
obat rindu harus bertemu. Yang terkahir itu ngena sekali buat orang-orang yang
punya seseorang.
Tersebab
makan, maka aku bisa kenyang, dan laparku hilang. Untuk makan beratyi harus ada
makanannya, entah itu memasak yang ada , membeli bahan dulu baru dimasak, atau
meminta bagian kepada orang lain, ngutang dulu di warung karena tidak ada uang,
atu bisa jadi mencuri.
Untuk yang terakhir aku tidak menyarankan, itu kriminal dan kamu bisa kena jerat hukum. Mencuri yang sedikit akan membuatmu masuk jertuji hotel prodeo, kalau mencuri banyak sekali dijamin semua baik-baik saja. Tetapi, ada syaratnya, kamu harus memakai dasi atu punya kursi dulu sebelum mencuri.
Aku
tidak sedang ingin berbicara tentang mencuri atau pencuri, atau cara mencuri
yang benar dan aman, meski aku sudah menuliskannya di paragraph sebelumnya.
Abaikan, jangan dicatat diotakmu, apalgi di-ss dijadikan status. Itu kriminal
yang bisa menjeratku kena tuduhan menghasut orang berbuat dosa.
Begini,
aku sebenarnya ingin bercerita dengan gaya santai, kalu aku percaya karma baik.
Kamu percaya juga, atau tidak percaya? Abaikan kalau kamu tidak percaya, kamu
bisa berhenti di sini, sebelum matamu mengeja kalimat selanjutnya dan
mengahbiskan waktmu yang sangat-sangat berharga.
Tulisan
ini hanya untuk mereka yang punya waktu luang, untuk orang orang sepertiku dan
tulisan tidak penting saja. Kau bisa menghentikannya sekarang dengan sebelum
bosan.
Aku
membenci reuni. Iya, aku orang yang tidak suka kembali ke masa silam. Akan
banyak luka yang kubaca selain suka tentu saja. Tetapi, aku suka sekali dengan
kata tetapi, ada pengecualian dengan dua orang ini. Mereka berdua laki-laki,
akrena aku perempuan.
Kekasih?
Ups, bukan! Mana ada aku punya kekasih saat SMA dulu. Aku itu terlalu cantik
untuk mendapatkan keasih waktu itu, jadi aku skip tidak mencari kekasih. Meski,
aku akhirnya menikah jiuga setelah enam tahun lulus, dan aku saat ini sendiri
lagi. Aku tidak menyesal, abik karena aku tidak punya kekasih waktu SMA dulu,
ataupun tidak punya pasangan saat ini.
Saat itu, dari sekian banyak teman, hitung sendiri berapa banyak yang bersekolah di situ kalau satu kelas empat puluh delapan anak, satu angkatan enam kelas. Kalikan tiga lagi, karena SMAku dulu tuga angakatan. Sekarang masih sama tiga angkatankah? Semoga sama, karena sekolah terallau laam itu membosankan juga.
Berhenti
menghitung kalau memakai kalkulator, karena pantangan terbesarku adalah
menghitung sesuatu yang remeh memakai kalkulator. Kembali ke ceritaku. Dua
orang itu istimewa? Tentu saja, meski mereka berdua bukan orang yang menonjol.
Atau mungkin bagiku dua orang itu sama seperti yang lain, tidak ada tonjolan
yang menarik perhatian semua orang. Tapi, bagiku keduanya istimewa.
Apanya?
Hatinya tentu saja. Dan, saat itu aku membatin aku akan hidup lama, meski aku
smepat koma delapan belas harti karena typhus. Kurasa salah satu alasannya
adalah aku akan menyaksikan bagaimana karma baik itu ada. Tentu saja kepada
kedua temanku tadi.
Image; https://id.pinterest.com/pin/328973947798015420/
Komentar
Posting Komentar