Karma Baik 2
Ini part dua-nya. Gak ada part tambahan lagi. Aku sudah menuliskan di
awal kalau tulisan ini kujadikan dua bagian.
BLOG NURLAELI UMAR- Dia
teman masa SMA-ku, yang satu bernama Nangga, dan satunya lagi bernama Andi.
Kalian boleh memakia nama itu kalau membikin novel, taoi dengan syarat tag aku
link novelnya nanti.
Nangga, mungkin dia sudah melupakan kebaikan yang dia beri kepadaku, aku berdoa untuk itu. Dia tidak boleh mengingatku, karena aku tidak suka diingat oleh orang di luar keluarga besarku yang sudah menikah. Tidak baik menyimpan namaku, meski sebatas teman masa lalu.
Hal
yang dia lakukan sangat sepele bagi kebanyakan orang. Dia hanya kerap menyaapku
pagi-pagi dan menemaniku duduk di bangku luar kelas menunggu teman yang lain
datang. Tidak ada yang kami lakukan, aku juga tidak banyak bicara dengannya.
Tapi, saat itu hal itu sangat membantuku.
Dia
satu-satu orang yang mau menyapaku meski aku tidak cantik dan tidak kaya. Dia
hanya duduk, menyakan apa aku sudah menegrjakan PR yang pasti kujawab belum dan
membuat dia terheran. Dia tidak meprotes atau menawariku apakah aku mau
mensontek pekerjaannya atau tidak. Karena, saat itu memang tidak butuh hal itu.
Dia tetap duduk di bangku yang sama menemaniku. Mungkin dia memang sebnarnya
sednag menunggu pacarnya atu mantannya, aku tidak peduli. Dia melakukan itu
hampir setiap hari.
Lalu, anak lelaki yang kedua adalah Andi. Dia tingggi, cindo, da yang kusuka darinya adalh rambutnya. Aku menaksir dia? Tidak, baik Nangga ataupn Andi, aku sama sekali tidak tertarik untuk menjadi pacarnya atau aku ingin dijadikan pacar. Tidak terlintas sama sekali. Aku lebih fokus ke kebaikan hati mereka berdua.
Andi
tidak pernah melakukan yang Nagga lakukan. Dia pun lebih senang berteman
dengana ank yang lain. Tapi, dia salah satu teman lelaki yang selalu bersikpa
sopan padaku.
Satu
hal yang saat itu sangat berkesan adalah, saat kakiku yang tidak tahu mengapa
tiba-tiba tumbuh lia bisul kecil. Sesuatu yang menurutku aib. Aku memang punya
kecenderungan punya luka di lutut dari kecil, biasanya karena jatuh setlah
berlarian, korengan, hampir sembuh kemudian jatuh lagi, atau karena luka naik
sepeda di mana aku dan sepeda sangat akrab sampai jatuh berpekukan.
Bisul
kecil di kakiku yang mungki karena virus, masalahnya satu dunia saat itu yang
kena bisul seperi itu hanya aku saja. Aku sudah mengecek lutut-lutut semua anak
perempuan karena rok kami saat itu ada di anatar dengakul, kurasa satu SMA
hanya aku yang roknya di atas dengkul, yang lainmenutupi dengkul atau di bawah
dengkul dua atau tiga senti. Iya, bisul-bisul itu meletus di saat jam
istirahat, bahkan aku tidak menyadarinya.
Ketika
aku keluar darikelas di jam istirahat, Andi ayng sednag duduk dengan
teman-teman yang lain langsung berdiri dari duduknya dan menghamopiriku. Dia
menanyakan apakah aku sangat kesakitan. Da menunjuk lututku yang berdarah, dan
menawarkan diri mengambil betadine di UKS. Aku mengatak tidak usah, karena perkataaannya
membuatku jadi pusat perhatian teman yang lain.
Tanpa
ba-bi-bu-be-bo sementara teman yang lain emlihatku dengan jijik, dai datang
dengan betadine di tangnya. Padahal, dengkulku bisa kucuci di toilet sekolah
atau di sumur. Tapi, demi menghargai kebaikannya, aku yang akhirnay mencuci
lukaku, kemudian meneteskan betadine yang Andi beri. Setelah itu tidak ada
cerita lagi, karena kakiku sembuh di hari berikutnya.
Semenjak
itu terbersit dalam hatiku, kalau aku kelak akan menjadi saksi bahwa kebaikan
mereka akan berujung karma baik. Dan, kurasa benar, meski aku tidak ingin
kembali berhubungan dengan mereka dengan banyak pertimnbangan, aku yang
berteman dengan keduanya di Fb, sebelum aku men-delete Andi, aku menyaksikan
sendiri bagaimana karma baik bekerja kepada keduanya sampai hari ini.
Sehat-sehat dan banyak berkah kalian
berdua, teruma kasih sudah dipertemukan Tuhan dan menjadi saksi kebenaran bahwa
karma baik itu nyata.
Komentar
Posting Komentar