MONSTER PEMBUNUH (BAB 23)

 


BAB 23.

BLOG NURLAELI UMAR- ‘’Aku tidak tahu pastinya. Apa aku perlu mencari tahu, agar kau merasa aman?’’

‘’Bisakah?’’

‘’Aku tidak berjanji. Kita habiskan sarapan kita, lalu kita berangkat?’’

M mengangguk dan tersenyum. J merasa lega melihat senyum M yang mengembang. Tiba-tiba dia merasa menyesal melibatkan M dalam hidupnya, hidup di mana banyak nyawa menghilang karena banyak sebab.

Sebagai seorang kekasih tentu saja J ingin hidup M jauh dari hal seperti itu, tapi bagaimana lagi, di lingkaran hidup kelas atas seperi dirinya selalu saja resiko mati lebih dekat, karena mereka lebih banyak bersinggungan dengan harta, kedudukan, kemewahan, yang begitu banyak diinginkan semua orang.

Sebenarnya tidak di kalangan kelas atas sepertinya, di kalangan menengah dan bawah pun kehidupan keras. J sebagai pemilik agen pelenyapan nyawa, merasa pekerjaan bawahannya yang banyak dari kalangan bawah lebih terhormat dari pada mereka yang duduk dengan memegang jabatan sementara mereka mencekik leher mereka yang miskin, dan memakan jatah hidup mereka.

J tahu dengan sadar pekerjaannya terlalu kejam, dan entah bagaimana reaksi M jika suatu hari mengetahui rahasianya itu. Meski, andai tidak menekuni pekerjaan sampingannya itu J tetap hidup terhormat dan bisa ongkang-ongkang kaki saja menikmati semua harta kerja kerasnya dari jalan bisnis legalnya.

‘’J, apa yang kau pikirkan? Kau bilang kita harus menghabiskan sarapan, lalu kita akan pergi.’’

J mengangguk, dia hanya menjawab pertanyaan M dengan senyum saja. Setelah semua selesai, setengah jam kemudian keduanya turun. M pergi lebih dulu dengan mobilnya, sementara J menyusul sepuluh menit setelahnya.

Sepanjang jalan J mengendarai mobilnya dengan meminta bawahannya mencari informasi perihal penembakan mobil A, tentang penembakan mobil R, J memintaya seseorang yang mengaku mendapat orderan itu untuk menemuinya di jam makan siang.

R sudah turun dari apartemennya dan berdiam di ruangannya, sementara J yang tidak tahu langsung masuk ke ruanganhya ketika tiba di kantornya. Seperti biasa dia sudah mulai terlihat sibuk dengan pekerjaannya, meski sebemnnarnya yang dilakukan aadalah sekadar mengecek beberapa bisnis yang dijalaninya sendiri.

Seseorang mengetuk pintu ruangan J, dia mengangkat mukanya dari layar komputer di mejanya. Dia mengangguk, kemudian berdiri dan berjalan menyambut.

‘’Kau sudah datang sepagi ini, R?’’

‘’Apakah selama ini aku selalu tidak bisa melakukan ini?’’

‘’Ya, kau biasa terlambat setengah jam, kau selalu sibuk di tempat tidurmu merapikan selimut para gadis, bukan, sebelum bisa turin dari apartemenmu?’’

R mengangguk dan kemudian duduk di kursi depan meja kerja J. ‘’Pesankan aku kopi, aku ingin mengopi di sini.’’

J tertawa, ini sebuah anomali, R tidak pernah melakukan ini juga. Biasanya J yang dijamu di ruangan R, tetapi kali ini R meminta segelas kopi di ruagannya.

‘’Aku sedang ingin ditemani olehmu. Kau tahu, aku tidak mungkin mengjakmu ke tempat tidur, bukan? Kita masih normal.’’

‘’Aku selalu normal tentu saja, tetapi otakmu saat ini sedang tidak normal. Kau tidak menghubungi O, A, gadis lain, atau psikolog kesayanganmu?’’

‘’Mereka tidak membantu. Kukira ini karma, karena aku menggida kekasihmu J. Maafkan kau dan ampuni aku.’’

‘’Katakn padaku siapa yang berkemungkinan memberondong mobilmu dan mobil A? Apakah saat ini kau sedang bermasalah dengan seseorang? Atu kau membikin ulah di bar malam sebelumnya?’’

R terdiam, J meghubungi bagian dapur meminta dua gelas kopi hitam segera. Bagian dapur mengiyakan.






Komentar