Bab 24
BLOG NURLAELI UMAR- ‘’Apa ada kemungkinan A menyuruh orang untuk membunuhku, J?’’
‘’Apa kau berpikir sejauh itu dengan sadar?’’
‘’Tentu saja, aku sering membuatnya menangis, tapi aku tidak mau
melepaskannya. Kau tahu kenapa? Karena dia perempuan baik dan cantik, tidak
seperti yang lainnya. Kecuali, kekasihmu, mereka dua orang yang berbeda dari kebanyakan.’’
‘’Dan, kau ingin menggoda kekasihku juga? Apa kau sudah gila?’’
‘’Jujur sudah kubilang, aku sangat menyukai A dan kekasihmu, tetapI aku
tidak bermaksud untuk mengambilnya darimu. Sungguh! Aku hanya ingin, entahlah,
mereka berdua itu luar biasa, dan aku mata keranjang.’’
J mengambil handphone milik R yang dietakkan di meja. ‘’Berapa nomor
telepon milik A?’’
R menatap J tidak paham. Tapi, tatapan tajam J memaksa R untuk
menyebutkan nomor telepon milik kekasihnya.
J menekan nomor itu. Terdengar telepon diangkat. ‘’Halo!’’
‘’Halo, ini J, bukan R. Dia sedang duduk di kursi depan mejaku.’’
‘’Oh, Kau J. Ada apa? Tidak biasanya kau menelponku.’’
‘’Katakan padaku dengan jujur. Apa kau memesan seseorang untuk
menggertak R setalah dia berulah di coffee shop milik kekasihku? Speakernya
kunyalakan. Jadi, R bisa mendengar apa jawabnmu.’’
‘’Aku sedang ada klien. Begini J, kalau aku bisa sudah kubunuh R dengan
tanganku sendiri. Dia memang sudah keterlaluan. Apa ini berarti dia yang
melakukan balasan terhadap mobilku, karena dugaannya?’’
J mengembalikan handophone milik R, R menjawab apa yang kekasihnya
tanyakan. ‘’Aku sangat mencintaimu, meski aku bajingan. Bagaimana mungkin aku
menginginkan kau mati? Aku memang gila, tetapi tidak sejauh itu terhadapmu.
Percayalah!’’
Sepertinya A mematikan sambungan teleponnya, karena R terlihat
mengedikkan bahunya. ‘’Kau lihat, J, ini kesalahpahaman, bukan?’’
‘’Tapi, kalau aku tidak melakukn hal tadi, kau dan kekasihmu tetap akan
saling menuduh, bukan?’’
Seseorang dari bagian dapur tampak terlihat dari kaca ruangan J, dia
menunggu dan R memberi tanda agar masuk. Dua gelas kopi dan dua buah wafel di
letakkan di meja samping meja kerja J.
‘’Ada perintah lain, Bos?’’ tanya orang dari bagian dapur.
‘’Tidak. Ini cukup.’’
Orang dari bagian dapur keluar dari ruangan J. R berpindah duduk ke
kursi di meja samping meja kerja J, Dia mengambil gelas bagiannya dan mulai
menyesap kopi hitam itu. J tetap duduk di kursi meja kerjanya.
‘’Jadi, menurutmu ada seseorang yang ingin mengadu domba aku dan
kekasihku, agar kami putus?’’
‘’Bisa jadi, atau justru bukan itu.’’
''Apa mkasudmu, J?’’
‘’Dia ingin kau dan kekasihmu mati dengan ketakutan. Bisa jadi, setelah
ini semua akan ada teror lain. Apa sebelumnya ada bisnismu yang lain yang kau
curangi, atau kau tiodur dengan perempuan yang sudah punya kekasih?’’
R terdiam, dia tidak mengiyakan, tidak juga menyangkal. J tertawa.
‘’Sudah kuduga. Aku tidak mau ikut campur masalahmu, aku tidak membantumu
lebih, kecuali mengatakan bahwa kau harus menyudahi semua kekonyolanmu.’’
R terdiam. Setelah beberapa lama dia terlihat mengagguk. J tertawa lagi.
‘’Kau itu, penakut, tatapi tetap saja mengulang kesalahan yang sama. Kau
seharusnya memang mesti menyudahi semuanya, kalau kau tidak ingin kekasihmu
pergi dan kau mati ketakutan. Sudah ketakutan, sendirian pula.’’
R kali ini
langsung mengangguk. J tertawa lagi dan lagi. Semua itu terlihat lucu di mata
J. Sahabatnya tampak seperti aak kecil yang mendapat ultimatum ibunya karena
melakuka kenakalan.
J sudah mengantongi satu bukti, bahwa memang benar adanya tentang orang yang memesan gertakan kepada bawahannya, bisa jadi out orang yang sama. Menarik, siapa perempuan itu?






Komentar
Posting Komentar