MONSTER PEMBUNUH (dua lima)

 


BAB 25

BLOG NURLAELI UMAR- Penjaga parkiran sekaligus penjaga malam coffee shop satu dari tiga coffee shop milik J yang dikelola M menatao sekilas ke arah laki-laki berusia empat puluhan yang turun dari mobil yang baru aja diparkirkan di depan coffee shop.

Laki-laki itu masuk ke dalam coffee shop, tampak kemudian dia menuju meja kasir untuk memesan sesuatu. Laki-laki itu tetap dalam pantauan petugas parkir coffee shop J.

Coffe shop ini cukup terang pencahayaannya, meski pohon-pohon besar berabris di sepanjang tepian jalan sampai tikungan. Pohon-pohon itu semua sudah tumbuh sangat tinggi dan rimbun, daun-duannya yang kecil-kecil jatuh dan membuat suasana tampak lebih wellcome.

 Beberapa coffee shop, restoran, dan beberapa toko outlet baju anak muda bermerk yang lain makah tidak membentangkan canopy ke arah parkiran, benar-benar pengunjung yang datang duduk di bawah ribunan pohon yang kalau malam tampak meriah dengan lampu hias.

Tidak berlangsung lama datang sebuah mobil dan turun dari dalamnya seorang permpuan cantik. Perempuan yang hampir seumuran, atau mungkin lebih tua Gayanya berkelas, dan tampak mahal. Dari outfit yang dipakai, tas, sepatu, wajah, dan senyumnya, seolah semua berbau uang, dan tentu saja itu tidak murah.

Perempuan itu masuk ke dalam coffee shop setelah turun dari mobil. Penjaga parkiran melihat sekilas. Termyata perempuan itu duduk satu meja dengan laki-laki sebelumnya yang datang dan memesan.

Di jam seperti ini, biasanya lebih banyak pekerja yang datang mampir untuk sekadar minum, makan, lalu pergi. Tidak lama. Mungkin mereka sedang ada dalam sebuah urusan, dan menyempatkan mengisi perut, tapi tetap dengan gengsi dan murah.

J memang berselera bagus, dan tajam otak bisnisnya. Terbukti coffee shopnya selalu saja ada pembelinya. Sepertinya itu berlaku juga untuk bisnis restoran yang lainnya. Pantas saja dia selalu banyak uang. Tetapi, yang menjadi pertanyaan penjaga parkir itu, mengapa J masih menjalankan bisnis pelenyapan nyawa.

Mungkin kalau tidak ada agensi itu aku juga tidak bisa mendapatkan uang sebanyak selama ini, batin penjaga parkir. Penjaga parkir mengambi handphone miliknya dari dalam saku. Tampak sangat serius.  Setelahnya dia bangun dan masuk ke dalam coffee shop.

Dia masuk menuju tempat pemesanan ikut mengantri, karena ada dua orang yang masuk sebelum dia masuk. Dia sabar menunggu giliran. Setelah dua orang selesai dengan pesanannya, penjaga parkir menoleh, ternyata ada satu orang yang mengantri di belakangnya.



Komentar