Seolah Olah dan Tiba Tiba
Jakardah, 11817
BLOG NURLAELI UMAR- Kau bilang hidup ini biarkan saja seolah-olah, lalu jalani
seperti seolah olah agar tidak menjadi seolah olah lagi.
Tapi, nyata adanya.
Kau bilang semua hanya tipuan ego sampai kapan pun, karena
kita serakah dan tidak pernah sampai di titik puas.
Kita membenci hari ini,mencela kemarin, bermimpi tentang
esok, tapi kita tetap hidup di hari ini baik dengan baik baik atau tidak baik
baik.
Kita mencela hari ini, bermimpi tentang esok, dan ketika
esok datang kita merindu mati-matian tentang hari ini.
Seperti kata merdeka, yang kita puja kemarin, tapi hari ini
masih mempertanyakan apa itu merdeka, karena sejatinya merdeka adalah berjuang
itu sendiri.
Merdeka kehilangan makna, ketika kita menjadikannya hanya
sebagai pencapaian tak berkelanjutan.
Kita akan selalu merasa merdeka atau hanya dengan terus
menjalani hari ini dengan lebih baik dari kemarin dan sebelumnya.
Dulu orang berjuang melawan penjajah, lalu merdeka, bukan
berarti hari ini tak ada yang bisa menjajah.
Adakah kau tahu yang paling mengerikan adalah kita dijajah
oleh diri sendiri, oleh anak bangsa sendiri, dan oleh kesalahan yang dibuat
oleh kebodohan diri sendiri?
Seperti negeri ini yang terus mempertanyakan, sudahkan ada
bagian yang diambil oleh masing masing diri utuk membuktikan bakti.
Bukan saling menuntut satu dengan yang lainnya seberapa
banyak yang telah diberikan. Lalu, merasa paling bisa membusungkan dada merasa
ada dan sudah berjasa. Merasa paling harus mendapatkan kuntungan paling banyak.
Padahal, sejatinya hanya saling berlomba mengeruk untuk
kepentingan diri sendiri dan kesejahteraan lingkaran dirinya dan orang orangnya
saja.
Bukan juga kemerdekaan yang ditularkan dengan bersenang
senang mengajari semacam keberhasilan melewati garis finish dengan lomba balap
karung dan menggigit sendok berisi kelereng.
Sehingga mereka hanya tahu Hari Kemerdekaan berarti pesta
kecil dengan hadiah tiga buah buku tulis saja.
Komentar
Posting Komentar