SENDIRI DULU (empat puluh delapan)

 


SENDIRI DULU (empat puluh delapan)

BLOG NURLAEI UMAR- Mama tersenyum, beliau masih ingat bagaimana es kelapa masih utuh juga kudapannya, padahal mama tahu benar Tio suka kedua makanan itu. “Ya sudah kalau gak lagi jatuh cinta pasti lagi patah hati.”

“Gak, Ma. Akhir-akhir ini, aku lelah aja. Gak mau cerita karena lagi kehabisan bahan cerita.”

“Ya udah, kita gak maksa kok, cuma khawatir karena akhir-akhir ini kamu terlihat lebih pendiam,’ ujar ayah menengahi.

“Iya, nanti kalau butuh bantuan, aku akan datang ketuk pintu Mama atau Kakak, Ayah gak lah, takut malah disuruh baca koran.”

Mama dan kakak Tifa tertawa bersama mendengar jawaban Tifa sambil mengangguk mengiyakan, sementara ayah Tifa menggeleng-gelengkan kepalanya..

Sebenarnya Tifa butuh bantuan memecahkan firasat, tapi tidak saat ini, mungkin nanti. Harus dari mana dulu kalau mau cerita? Photo atau … lebih baik didiamkan sambil menunggu kejadian yang akan membuat semuanya lebih terang?

“Hei …katanya belum butuh bantuan kok bengong?” kejut kakak Tifa.

“Bukan, lagi mikir gimana biar dapat jatah pisang gorengnya dobel?”

“Dasar cabi, nih …!”

Dua pisang goreng ditambahkan ke piring di depan Tifa. “Terimakasih aku doain semoga diet Kakak berhasil.” Sebuah toyoran mendarat di kepala Tifa.

***

“Udah, Ma.”

Pagi yang cerah, Tifa sibuk memasukkan bekal. Mama bersikeras agar Tifa membawa bekal sendiri. Meski dia bukan anak kecil yang harus diingatkan jam makan, tapi Tifa adalah type anak yang suka berlama-lama menahan lapar. Gak lucu kalau kejadian sabelumnya pingsan gara-gara belum sarapan.

“Minumnya yang biasa aja, jangan ambil air putih dari kulkas!” kata mama memperingatkan.

“Wah … baiklah Senior, salam!”

Mama yang gemas menarik pipi Tifa ke kanan dan ke kiri. Tifa meringis kesakitan.



 

Komentar