SENDIRI DULU (empat puluh empat)
BLOG NURLAELI UMAR- ‘Tapi gue salah
apa? Liana bukan pacar gue, kalau itu penyebabnya.”
“Gue gak peduli, silakan pergi!”
Tifa berjalan ke arah pintu pagar dan
membukanya. Kali ini Tifa memang gak menginginkan kehadiran Tio sama sekali.
Tio menyerah pergi, kemudian memacu motornya setengah dipaksa. Meraung dan
marah.
***
“Tif, selamat ya, loe lolos ke babak selanjutnya. Semoga nanti di tingkat provinsi lolos juga, biar bisa ngewakilin DKI ke tingkat nasional.”
Angga ngasih ucapan selamat dan berjalan
tergesa di samping Tifa yang baru masuk ke halaman kampus.
“Jadi nungguin gue di depan gerbang
cuma buat ini?” tanya Tifa sedikit heran.
“Kagak lah, enak aja. Gue lagi
nungguin gebetan gue, tapi belum datang, terus ada loe. Gue barusan baca
pengumuman di mading.”
“Siapa lagi, Ngga?”
“Cuma berdua bareng Randi aja.”
“Wow!” Mata Tifa membesar, dia
setengah berlari cepat ke arah kampus.
“Kemana, Tif?” tanya Angga setengah berteriak, karena sedikit terkaget dengan reaksi Tifa.
“Mau pipis!”
Angga tertawa, dia menggelengkan
kepalanya. “Dasar Tifa, gue kira loe mau lari gak sabar lihat pengumuman di
Mading.”
***
Suasana sekolah makin ramai, termasuk
kelas Tifa. Satu per satu teman sekelas memberi selamat. Tifa kembali duduk
mengeluarkan buku bersamaan ucapan yang menyurut. Dia mengeluarkan catatan
untuk mata pelajaran pertama.





Komentar
Posting Komentar