SENDIRI DULU (empat puluh lima)

 


 SENDIRI DULU (empat puluh lima)

BLOG NURLAELI UMAR- “Anak-anak ke mana, Nit? “

“Loe nanya sama gue, Tif?” tanya Anita yang datang mendekat, “selamat ya, gue ikut seneng, terus ada traktiran gak?”

“Ha-ha-ha, dasar loe, Nit! Kagak ada! Mereka ke mana, padahal beberpa menit yang lalu mereka di kelas, masa ditinggal ngeluarin buku lalu sepi kayak gini?”

“Udah ada yang bawa tugas, katanya suruh ngerjain latihan soal, biasa lima puluh pakai harus selesai pula.”

“Jadi kosong nih dua jam pertama? Wah … gue belum sarapan, cuma minum teh manis doank lagi. Lima puluh soal kimia itu gak bagus buat kesehatan gue, bisa-bisa ada duel antara perut yang mengancam konser pagi-pagi lawan otak yang berputar pake kekuatan penuh, nih.”

“Kita izin makan.”

“Haah, sejak kapan ada izin makan?”

“Sejak saat ini, mumpung yang lain juga lagi sibuk, jadi kalau dapat teguran nanti rame-rame ngadepinnya.”

“Emang yang lain ke mana?”

Anita menunjuk mereka yang sedang berjuang menjolokan bambu demi terung belanda yang mulai ungu. Kompak sekali, bahkan beberapa teman perempuan yang ada bersama mereka kelihatan mirip pemandu sorak di acara basket antar SMA.

“Lapar gue ilang, mau ikut jadi pemandu sorak aja, yuk!”

Tifa menyeret Anita, tangannya memanjang bareng langkah yang setengah dipaksa.

“Gila loe, mau gabung sama mereka?”

“He-eh.”

Tifa dan Anita sekarang berada bareng mereka. Hari ini ada pengecualian, mereka yang biasanya berkutat dengan angka dan rumus, juga hafalan tentang teori benar-benar larut dalam euphoria terung belanda.

“Kanan-kiri-kanan dikit-dorong-horeee!”

“Wah jangan kenceng-kenceng, kita bisa kena peringatan, udahan yuk udah ada lima nih. Kelamaan bisa berabe. Kita masuk!” teriak Frans, ketua kelas yang terlihat ikut bergabung.

Komentar