EMPAT PULUH SATU
BLOG NURLAELI UMAR- Randi melotot
lagi, Tifa mencibir. Dari kejauhan guru pembimbing mereka sudah memberi aba-aba
buat mendekat. Bel berbunyi peserta dipersilakan masuk.
Peserta lumayan banyak, masing-masing
duduk dengan formasi lengkap satu bangku dengan yang lainnya. Bel tanda memulai
telah berbunyi setelah sebelumnya dibacakan tata tertib pelaksanaan olympiade.
Satu jam setengah dengan empat puluh
soal yang lumayan menguras otak. Tifa tampak puas dan berharap hasil nilainya
bisa meloloskannya menduduki peringkat. Cara menghitung skor menggunakan sistem
Amerika, dimana jawaban soal yang benar dikurangi jawaban soal yang salah. Jika
ragu-ragu sebaiknya gak dijawab karena akan mengurangi skor.
“Gimana loe, bisa?”
“Tio?”
“Gue datang buat loe, karena kalau
gue datang pagi tadi, takut konsentrasi loe pecah.”
“Iya, gue tahu, Tio!”
“Gue? Tio? Tapi sudahlah. Gimana
tadi, bisa?”
Tio mempermasalahkan panggilan yang tidak
biasa itu, tapi kemudian dia mencoba untuk menahan diri.
“Bisa, semoga lolos ke tahap
selanjutnya.”
“Kita pulang bareng, jangan nolak.
Gue tengsin banget kalau di saat seperti ini loe tolak.”
Tifa gak menjawab, dia hanya berjalan
ke arah Randi dan minta izin pulang dulu. Randi melihat ke arah Tio sekilas
sebelum akhirnya, “Oke, hati-hati!’
***





Komentar
Posting Komentar