SENDIRI DULU (empat puluh sembilan)

 


SENDIRI DULU (empat puluh sembilan)

BLOG NURLAELI UMAR- “Mama, sakit! Lagian aku ‘kan bukan anak TK lagi.”

Mama akhirnya memeluk Tifa, mengelus rambutnya.

“Iya, Mama tahu, tapi bagi Mama: Tifa tetap anak Mama yang sama. Tetap sama di hati Mama dan love u.”

“Love u too, Ma. Tapi, aku harus berangkat.”

Tifa balas memeluk mamanya dan mencium pipinya.

“Diantar atau ada yang jemput?”

“Gak, aku menolak keduanya. Gak mau ganggu Kakak maupun Papa. Aku mau jalan kaki, biar kakinya lemas.’

“Baiklah, hati-hati!”

 Tas berisi seragam dan bekal disambar. Tangan mama dicium dan Tifa menghilang di balik pintu. Keluar pagar dan akhirnya lenyap di tikungan.

***

Tio bangun pagi-pagi, ini biasa baginya. Ini sudah lama gak dilakukan olehnya; Tio memacu motornya dengan kecepatan penuh. Jalanan masih lengang, mungkin memang banyak benarnya istilah hari libur hari tidur.

Sebagian orang bangun siang, sebagian lagi bangun salat subuh dan tidur lagi. Motor ternyata dipacu ke arah rumah Tifa. Kemarin, Tio minta jadwal latihan ke teman sebangkunya yang juga aktif di taekwondo.

Tio sudah sampai di depan rumah Tifa. Lebih tepatnya di depan pagar pintu masuk. Menunggu sekitar lima menit tapi gak juga mendapati Tifa keluar, Tio memberanikan diri menekan bel. Mama Tifa keluar dan mengatakan kalau TIfa sudah berangkat dengan jalan kaki.

Tio pamit dan berusaha mengejar keterlambatannya. Benar saja Tifa sudah hampir sampai sekolah, perkiraan Tio benar kalau Tifa melakukannya sambil lari pagi.

Sambil mengatur napas Tifa sekarang berjalan kaki. Tangannya digerak-gerakkan untuk meregangkan persendiran bagian atas. Sesekali kepalanya tampak dipatahkan ke kanan dan ke kiri.

Tiiin …! Tiiin …! Tiiin …! Tiga kali bunyi klaskson motor Tio membuat Tifa meminggirkan jalannya, dia menoleh dan gerakannya dihentikan. Keningnya berkerut, tapi mulutnya tetap membisu.

“Ayo naik!”

Tifa menggelengkan kepala kemudian melanjutkan jalannya. Tio tahu itu berarti penolakan. Dia kemudian menjajari langkah Tifa dengan mengemudikan motornya sampai ke tempat latihan.

Motor diparkir bersama motor lainnya, dan dia kemudian masuk bergabung dengan mereka yang latihan. Beberapa menyapa Tio dan mereka tahu benar untuk siapa dia datang.

“Lama gak kelihatan, Bro!” sapa salah satu taekwondoin yang ada di sana.

“Gak dapat izin dari Tuan Putri.”

Beberapa dari mereka tampak tersenyum dan mengalihkan pandangan ke arah Tifa yang tampak gak ambil peduli. Tifa gak terganggu dan gak mengacuhkan keberadaan Tio. Biasanya juga begitu, tapi kali ini menarik perhatian karena hampir semua mereka tahu kalau Tifa dan Tio lagi renggang.



 

Komentar