SENDIRI DULU (empat puluh tiga)
BLOG NURLAELI UMAR- Cemburu setiap
saat membikin kenyang, lebih baik menjauh. Belum lagi kalau dikomunikasikan
seolah dia yang gak bisa mengerti dan malah terlihat salah. Gak! Tio gak perlu
tahu bagaimana dia menangis diam-diam setiap malam sampai akhirnya memutuskan
buat udahan. Gak mudah buat move on dari cowok itu.
“Gitu, ya? Nangis sih, tapi itu waktu
baru-baru. Dan sekarang baik-baik aja.”
Tio gak mengira reaksi Tifa sebegitu
dingin, Sebuah dering panggilan masuk berbunyi dari handphone Tio. Dia
mengeluarkan dari saku depannya. Melihat nomor yang masuk dan mematikannya.
Tifa melihat semuanya, dia menebak telephone itu berasal dari cewek
penggemarnya, karena selama ini begitulah kejadiannya.
“Angkat aja, gue santai kok, Kak.”
Tio menggelengkan kepala, dia
memasukkan handphonenya ke dalam sakunya lagi. Tapi lima nada panggilan
berikutnya berbunyi lagi. Mungkin dari orang yang sama yang penasaran.
“Terima! Gak enak sama gue? Kalau
begitu pulang aja!”
Sebuah pilihan yang membuat Tio kesal,
akhirnya diterima panggilan masuk itu.
“Ada apa, Li? Gue ada di rumah Tifa.
Kalau gak perlu bisa telepon nanti aja.”
Telepon ditutup, detak jantung Tifa
berdetak keras. Cemburu? Ups …bukan! Ini seperti amarah yang tersulut.
“Li, siapa dia? Liana?”
“He-eh.”
“Kalau gitu pulang aja sekarang. Loe
gak punya tempat di rumah gue sampai kapan pun. Es kelapa dan makanan emak gue
mending gue habisin sendiri!”
“Tif, loe cemburu?” tanya Tio heran.
Dia gak ngerti kenapa tiba-tiba Tifa medadak menjadi semarah itu. Tadi yang
menyuruh menerima panggilan adalah dia sendiri.
“Kagak. Cuma lagi bad mood aja.
Cepetan pulang, gak usah pamitan sama Mama!”
“Loe marah Tif. Tapi, kenapa? ‘Kan
loe sendiri yang nyuruh gue terima panggilan tadi?”
“Itu lah loe, Kak. Itu sebabnya gue
mau kita berakhir.”

Komentar
Posting Komentar